'Emangnya sebegitu penting ? Kalau iya, nanti semua sudah tercapai. Dan mereka mengakuinya dan menghormati dan meninggikan kita bahkan mau jadi seperti kita......apa yang akan berbeda ?' penekanan diberikannya dibagian 'meninggikan', nada bicaranya dimulai dari normal meninggi dan kembali normal diakhir.
'Ya jelas beda ! Kamu gila kalau bilang 'ah biarin aja mereka menghina kita...' mereka harus dididik untuk menghormati kita sebagai yang paling sempurna !' jawab lawan mainnya secara cepat seakan tidak mau membiarkannya merasa telah menang walau sedetik 'Saya yakin mereka mengakui bahwa kita sempurna, saya tahu itu dan mereka terus mengelak dengan berbagai cara'.
'Itu lagi.....kita nggak punya bukti apapun bahwa mereka sengaja melakukan itu dan dengan sengaja di rencanakan untuk tujuan yang....'
'Kamu sadar nggak sih, bahwa setiap kali kamu meragukan teori ku terhadap berita berita tersebut-berita berita gila yang berseliweran di dunia maya yang setiap kata darinya menjatuhkan kita....'
'Ngggak, Nggak, Nggak demi tuhan kamu...iya kamu anak kuda liar, jika kamu memotong lagi saat aku bicara kamu akan keluar dari kereta ini sekarang juga....' bentaknya menakutkan.
Kata katanya telah menghadirkan kesunyian di pihak lawan. Walau jeda hanya cukup untuk sekali menarik nafas, saya yang duduk di belakangnya cukup bersyukur akan jeda tersebut. 'Kita nggak bisa menuduhkan suatu hal tanpa bukti' kali ini lembut suaranya cukup untuk mencairkan situasi 'Hanya berjalan diatas papan papan kayu kebetulan yang mengambang diatas air'.
'Maka jika begitu, yang saya temukan dari anda bukanlah kebijaksanaan. Kawan..' lawannya telah cukup mengumpulkan keberanian dan saya yakin ia sangat hati hati dalam memilih waktu memulai. 'Setiap kali anda meragukan teori ini, yang saya dengar hanyalah keraguan....keraguan terhadap orang orangmu sendiri' lanjutnya tanpa menaikkan nada bicara atau menurunkannya. Namun ekspresi kekecewaan dapat saya rasakan darinya.
Saya mendengar tarikkan nafas yang panjang, entah siapa yang melakukkannya.
'Kamu benar, saya ragu...dan keraguan ini bukanlah sesuatu yang akan menjadi musuh ide-mu' balasnya dengan nada menenangkan. 'Ada sebagian dari milikmu yang telah menjadi milikku sejak lama, telah saya pikirkan dan menjadi lebih luas lagi pemikiran ini ketika pengalaman telah menyadarkan saya-memberikkan saya sebagian dari milik musuhmu untuk jadi pelengkapnya'.
'Dan saya, bukan kewajiban saya untuk mengubahmu menjadi diriku yang lain....cukup tuhan cipakan siang dan malam untuk dunia ini' lanjutnya.
'Tapi ada saat petang dimana semua menjadi lebih indah dengan merahnya langit, iya kan ?' balas lawan bicaranya, seakan tidak mau mengakhiri perdebatan ia mencari cara agar lawan mainnya tetap bicara.
'Dan ia menyuruh kita untuk menghadapnya....untuk berdoa kepadanya dan melindungi diri didalam rumah' balasnya cepat.
Semua terdiam, bayi yang menangis dibaris paling depan diam dan tersisa hanya suara kereta ini yang melaju stabil di kecepatannya. Tak ada balasan apapun dari siapapun diantara dua orang ini, entah orang lain yang mendengarkan diskusi ini berpikiran sama seperti saya, tapi saya rasa dia menang. Dan Fajar menyingsing menandakan pagi yang akan datang.
Dalam hati saya bertanya 'Bagaimana dengan Fajar ?'
'Ya jelas beda ! Kamu gila kalau bilang 'ah biarin aja mereka menghina kita...' mereka harus dididik untuk menghormati kita sebagai yang paling sempurna !' jawab lawan mainnya secara cepat seakan tidak mau membiarkannya merasa telah menang walau sedetik 'Saya yakin mereka mengakui bahwa kita sempurna, saya tahu itu dan mereka terus mengelak dengan berbagai cara'.
'Itu lagi.....kita nggak punya bukti apapun bahwa mereka sengaja melakukan itu dan dengan sengaja di rencanakan untuk tujuan yang....'
'Kamu sadar nggak sih, bahwa setiap kali kamu meragukan teori ku terhadap berita berita tersebut-berita berita gila yang berseliweran di dunia maya yang setiap kata darinya menjatuhkan kita....'
'Ngggak, Nggak, Nggak demi tuhan kamu...iya kamu anak kuda liar, jika kamu memotong lagi saat aku bicara kamu akan keluar dari kereta ini sekarang juga....' bentaknya menakutkan.
Kata katanya telah menghadirkan kesunyian di pihak lawan. Walau jeda hanya cukup untuk sekali menarik nafas, saya yang duduk di belakangnya cukup bersyukur akan jeda tersebut. 'Kita nggak bisa menuduhkan suatu hal tanpa bukti' kali ini lembut suaranya cukup untuk mencairkan situasi 'Hanya berjalan diatas papan papan kayu kebetulan yang mengambang diatas air'.
'Maka jika begitu, yang saya temukan dari anda bukanlah kebijaksanaan. Kawan..' lawannya telah cukup mengumpulkan keberanian dan saya yakin ia sangat hati hati dalam memilih waktu memulai. 'Setiap kali anda meragukan teori ini, yang saya dengar hanyalah keraguan....keraguan terhadap orang orangmu sendiri' lanjutnya tanpa menaikkan nada bicara atau menurunkannya. Namun ekspresi kekecewaan dapat saya rasakan darinya.
Saya mendengar tarikkan nafas yang panjang, entah siapa yang melakukkannya.
'Kamu benar, saya ragu...dan keraguan ini bukanlah sesuatu yang akan menjadi musuh ide-mu' balasnya dengan nada menenangkan. 'Ada sebagian dari milikmu yang telah menjadi milikku sejak lama, telah saya pikirkan dan menjadi lebih luas lagi pemikiran ini ketika pengalaman telah menyadarkan saya-memberikkan saya sebagian dari milik musuhmu untuk jadi pelengkapnya'.
'Dan saya, bukan kewajiban saya untuk mengubahmu menjadi diriku yang lain....cukup tuhan cipakan siang dan malam untuk dunia ini' lanjutnya.
'Tapi ada saat petang dimana semua menjadi lebih indah dengan merahnya langit, iya kan ?' balas lawan bicaranya, seakan tidak mau mengakhiri perdebatan ia mencari cara agar lawan mainnya tetap bicara.
'Dan ia menyuruh kita untuk menghadapnya....untuk berdoa kepadanya dan melindungi diri didalam rumah' balasnya cepat.
Semua terdiam, bayi yang menangis dibaris paling depan diam dan tersisa hanya suara kereta ini yang melaju stabil di kecepatannya. Tak ada balasan apapun dari siapapun diantara dua orang ini, entah orang lain yang mendengarkan diskusi ini berpikiran sama seperti saya, tapi saya rasa dia menang. Dan Fajar menyingsing menandakan pagi yang akan datang.
Dalam hati saya bertanya 'Bagaimana dengan Fajar ?'