"Orang seperti saya tak butuh dikasihani tuan....." jawabnya santai, dengan sedikit tawa dia berkata lagi "Jawaban tuan....jawaban...".
"Ratusan yang seperti saya bisa saja menjadi orang macam anda....semuanya bisa seperti anda.... Kami ini pemimpi yang sejati tuan......ya....ha ! kami pemimpi sejati tuan......hahahahahaa" pria berpakaian pemulung itu terbahak bahak dalam membawakan kalimat. Entah bagaimana seorang yang terlihat begitu penuh dengan penderitaan masih bisa tertawa sekeras itu. Setelah beberapa puluh detik tertawa dia mulai menghentikan ulah aneh itu dan mencoba merogoh kantongnya, mencari sesuatu yang tampaknya ia sangat yakin akan keberadaannya.
"Ini pak ! Kasih saya minuman apapun yang bisa saya dapat dengan uang ini ! Bergegaslah saya rasa ada lalat yang masuk kedalam mulut saya ketika tertawa tadi...ayo cepatlah...saya tidak mau lalat ini terjebak hidup hidup di kerongkongan ini..dan jika ia sampai bertelur disana....dan menetas !" dia mengatakannya sambil menjulurkan tangannya ke arah penjual asongan memberikan uang yang, entahlah mungkin 2 ribu rupiah- itu terlihat kusut terlipat lipat dan setelah mendapatkan 4 air mineral kemasan gelas ia kembali ke hadapan lawan bicara yang ia tinggalkan tadi.
Di tempat yang persis sama dan cara duduk yang sama ia kembali lagi ke perbincangan tadi. Membuka satu minuman gelas itu dan meminumnya, tidak terlalu banyak hanya 2 atau 3 teguk menyisakan sekitar tiga perempat bagian tersisa.
"Haus mas ? ini ambil satu....minum saja....karena kamu liat saya beli disana jadi nggak mungkin saya kasih racun...." tawarannya disajikan dengan kalimat yang menenangkan keraguan, namun begitu ia tidak menerima jawaban apapun dan ia juga sepertinya juga tidak menantikan jawaban apapun karena tanpa jawaban pun ia langsung menyodorkannya."
"Pemimpi ?" mulai si pria dengan kalung rantai ini, seperti merasa belum terpenuhi hasratnya ia memperhatikan pria compang camping yang ada didepannya, melihatnya tepat di wajah dan menunggu sambil memperlihatkan wajah datar penuh keingintahuan.
"Pemimpi yang sejati tepatnya mas......jika bicara tentang pemimpi kita bicara hal yang luas dan fleksibel tafsirannya...." dia membalas pandangan si penanya,mata mereka saling bertemu lalu dia mengalihkannya lagi sambil tersenyum, gigi depannya terlihat dari celah yang terbuka antar bibir tua berwarna gelap itu "Ketika saya masih sekolah dulu saya punya guru yang selalu setiap jadwal pelajarannya punya kebiasaan unik, dia bertanya kepada semua murid "kamu tadi malam mimpi apa ?" dan beragam jawaban keluar dari teman teman saya. Dia seorang guru seni lukis, badannya lumayan berisi dan muda pada waktu itu, selalu memakai sendal jepit dan walaupun seorang guru ia selalu membawa bekal dari rumah untuk ia makan pada jam istirahat. Oh ya.....itu cuma kalau anda tertarik untuk menghayati cerita saya lebih dalam jadi... mari kita lanjutkan ! Mereka memeberi jawaban yang terkesan mengada ada, dia bercerita dikejar hantu, dia bercerita bahwa ia naik mobil (sesuatu yang sangat dikagumi saat itu) dan yang lain bercerita dia bertemu astronot. Mereka terkesan hanya ingin terlihat lucu didepan temannya saat bercerita dan itu yang terjadi. Anda bisa melihat polanya ? oh tentu anda bisa....anda tahu bagian selanjutnya dari cerita ini kan ? Guru seni, mimpi, cerita imajinatif....."
"Saya pikir ya...."sahutnya dengan nada ragu.
"Bodohnya saya....hahaha....anda tentu bisa.....terlalu mudah ditebak tentunya.... oke mas biar saya lanjutkan lagi....jadi Pak Eman ini sebagaimana ia bisa dipanggil semua orang, meminta kami melukiskannya kedalam sebuah kertas....ya kertas....bukan kanvas seperti seharusnya, tapi kertas yang cukup tebal seperti cover buku gambar....mas tau ?.....Tapi saya bukan pembohong seperti teman teman saya, saya mengatakan yang sejujurnya bahwa saya tidak ingat saya bermimpi apapun malam itu.....seluruh kelas tertawa saat mendengar jawaban saya......tapi dia tidak....setidaknya hanya tersenyum agar saya tidak terlalu merasa buruk. Saat waktu melukis dimulai saya hanya mengambil cat warna hitam untuk saya pakai....saya ambil cukup banyak agar mampu menggambarkan apa yang saya mimpikan....entahlah hitam selalu menggambarkan ketiadaan bahkan dipikiran seorang anak SMP"
"Jadi lukisan saya telah kering....saya selesai lebih cepat dari teman teman saya lalu saya kumpulkan ke mejanya. Perlahan semua teman saya mengikuti jejak saya dengan mengumpulkan hasil karya mereka....gambaran mimpi mereka bermacam macam, ada yang tetap menggambarkan persis seperi apa yang mereka ceritakan, ada yang melenceng dengan cerita yang mereka tuturkan. Hadi yang bercerita bahwa dia dikejar hantu, malah melukis gunung. Yep.....gunung. Sebetulnya dua buah gunung bersebelahan berbentuk sempurna segitiga seperti piramida dan dengan jalanan yang tepat diantara dua gunung tersebut. Dia memamerkannya pada semua orang dan tampaknya mereka semua terlihat kagum. Diujung pelajaran ada sesi dimana kita biasanya melakukan apresiasi dan melihat karya mana yang paling baik dan mana yang dapat disebut sampah. Saya berkehormatan untuk mendapatkan penghargaan yang kedua."
"Hubungannya......kalau bisa diringkas ya diringkas saja pak..." pria itu berkata, dengan nada bercanda bertanya dengan hati hati agar tidak menyakiti hati si lawan bicara.
"Hubungan adalah suatu yang rumit menurut saya, adalah sudut pandang yang membentuk pengalaman......bukan hubungan...." tangannya menepuk si pria dengan kaos hitam tak berlengan itu, dia menepuknya di bahu sambil melanjutkan "hehehe.....saya selalu mengagumi orang orang seperti anda....tegas dalam berbicara.....dengan tubuh tegap berisi.....berotot malah.....tapi saya orang jujur yang amat memuja orang yang juga jujur......". Dia memantapkan posisi duduknya, menatap lawan bicaranya dan bertanya "Jika saya bilang Hadi adalah pemilik karya lukis terbaik dan anda adalah saya.....apa anda akan menerimanya ?".
"Ya memang benar adanya kan pak....bapak mewarnai kertas putih menjadi hitam dan Hadi.....setidaknya dia mencoba membuat sesuatu karya entah apa ia pernah melihatnya...." sambil menarik nafas ia melihat ke-arah si lawan bicara, rasa tidak enak hadir dihatinya.
"Mas bermain sebagai "Guru Seni" dan saya masih diposisi yang sama seperti dulu. Sang pemimpi yang sejati....hahaha....mas tahu.....
"Ratusan yang seperti saya bisa saja menjadi orang macam anda....semuanya bisa seperti anda.... Kami ini pemimpi yang sejati tuan......ya....ha ! kami pemimpi sejati tuan......hahahahahaa" pria berpakaian pemulung itu terbahak bahak dalam membawakan kalimat. Entah bagaimana seorang yang terlihat begitu penuh dengan penderitaan masih bisa tertawa sekeras itu. Setelah beberapa puluh detik tertawa dia mulai menghentikan ulah aneh itu dan mencoba merogoh kantongnya, mencari sesuatu yang tampaknya ia sangat yakin akan keberadaannya.
"Ini pak ! Kasih saya minuman apapun yang bisa saya dapat dengan uang ini ! Bergegaslah saya rasa ada lalat yang masuk kedalam mulut saya ketika tertawa tadi...ayo cepatlah...saya tidak mau lalat ini terjebak hidup hidup di kerongkongan ini..dan jika ia sampai bertelur disana....dan menetas !" dia mengatakannya sambil menjulurkan tangannya ke arah penjual asongan memberikan uang yang, entahlah mungkin 2 ribu rupiah- itu terlihat kusut terlipat lipat dan setelah mendapatkan 4 air mineral kemasan gelas ia kembali ke hadapan lawan bicara yang ia tinggalkan tadi.
Di tempat yang persis sama dan cara duduk yang sama ia kembali lagi ke perbincangan tadi. Membuka satu minuman gelas itu dan meminumnya, tidak terlalu banyak hanya 2 atau 3 teguk menyisakan sekitar tiga perempat bagian tersisa.
"Haus mas ? ini ambil satu....minum saja....karena kamu liat saya beli disana jadi nggak mungkin saya kasih racun...." tawarannya disajikan dengan kalimat yang menenangkan keraguan, namun begitu ia tidak menerima jawaban apapun dan ia juga sepertinya juga tidak menantikan jawaban apapun karena tanpa jawaban pun ia langsung menyodorkannya."
"Pemimpi ?" mulai si pria dengan kalung rantai ini, seperti merasa belum terpenuhi hasratnya ia memperhatikan pria compang camping yang ada didepannya, melihatnya tepat di wajah dan menunggu sambil memperlihatkan wajah datar penuh keingintahuan.
"Pemimpi yang sejati tepatnya mas......jika bicara tentang pemimpi kita bicara hal yang luas dan fleksibel tafsirannya...." dia membalas pandangan si penanya,mata mereka saling bertemu lalu dia mengalihkannya lagi sambil tersenyum, gigi depannya terlihat dari celah yang terbuka antar bibir tua berwarna gelap itu "Ketika saya masih sekolah dulu saya punya guru yang selalu setiap jadwal pelajarannya punya kebiasaan unik, dia bertanya kepada semua murid "kamu tadi malam mimpi apa ?" dan beragam jawaban keluar dari teman teman saya. Dia seorang guru seni lukis, badannya lumayan berisi dan muda pada waktu itu, selalu memakai sendal jepit dan walaupun seorang guru ia selalu membawa bekal dari rumah untuk ia makan pada jam istirahat. Oh ya.....itu cuma kalau anda tertarik untuk menghayati cerita saya lebih dalam jadi... mari kita lanjutkan ! Mereka memeberi jawaban yang terkesan mengada ada, dia bercerita dikejar hantu, dia bercerita bahwa ia naik mobil (sesuatu yang sangat dikagumi saat itu) dan yang lain bercerita dia bertemu astronot. Mereka terkesan hanya ingin terlihat lucu didepan temannya saat bercerita dan itu yang terjadi. Anda bisa melihat polanya ? oh tentu anda bisa....anda tahu bagian selanjutnya dari cerita ini kan ? Guru seni, mimpi, cerita imajinatif....."
"Saya pikir ya...."sahutnya dengan nada ragu.
"Bodohnya saya....hahaha....anda tentu bisa.....terlalu mudah ditebak tentunya.... oke mas biar saya lanjutkan lagi....jadi Pak Eman ini sebagaimana ia bisa dipanggil semua orang, meminta kami melukiskannya kedalam sebuah kertas....ya kertas....bukan kanvas seperti seharusnya, tapi kertas yang cukup tebal seperti cover buku gambar....mas tau ?.....Tapi saya bukan pembohong seperti teman teman saya, saya mengatakan yang sejujurnya bahwa saya tidak ingat saya bermimpi apapun malam itu.....seluruh kelas tertawa saat mendengar jawaban saya......tapi dia tidak....setidaknya hanya tersenyum agar saya tidak terlalu merasa buruk. Saat waktu melukis dimulai saya hanya mengambil cat warna hitam untuk saya pakai....saya ambil cukup banyak agar mampu menggambarkan apa yang saya mimpikan....entahlah hitam selalu menggambarkan ketiadaan bahkan dipikiran seorang anak SMP"
"Jadi lukisan saya telah kering....saya selesai lebih cepat dari teman teman saya lalu saya kumpulkan ke mejanya. Perlahan semua teman saya mengikuti jejak saya dengan mengumpulkan hasil karya mereka....gambaran mimpi mereka bermacam macam, ada yang tetap menggambarkan persis seperi apa yang mereka ceritakan, ada yang melenceng dengan cerita yang mereka tuturkan. Hadi yang bercerita bahwa dia dikejar hantu, malah melukis gunung. Yep.....gunung. Sebetulnya dua buah gunung bersebelahan berbentuk sempurna segitiga seperti piramida dan dengan jalanan yang tepat diantara dua gunung tersebut. Dia memamerkannya pada semua orang dan tampaknya mereka semua terlihat kagum. Diujung pelajaran ada sesi dimana kita biasanya melakukan apresiasi dan melihat karya mana yang paling baik dan mana yang dapat disebut sampah. Saya berkehormatan untuk mendapatkan penghargaan yang kedua."
"Hubungannya......kalau bisa diringkas ya diringkas saja pak..." pria itu berkata, dengan nada bercanda bertanya dengan hati hati agar tidak menyakiti hati si lawan bicara.
"Hubungan adalah suatu yang rumit menurut saya, adalah sudut pandang yang membentuk pengalaman......bukan hubungan...." tangannya menepuk si pria dengan kaos hitam tak berlengan itu, dia menepuknya di bahu sambil melanjutkan "hehehe.....saya selalu mengagumi orang orang seperti anda....tegas dalam berbicara.....dengan tubuh tegap berisi.....berotot malah.....tapi saya orang jujur yang amat memuja orang yang juga jujur......". Dia memantapkan posisi duduknya, menatap lawan bicaranya dan bertanya "Jika saya bilang Hadi adalah pemilik karya lukis terbaik dan anda adalah saya.....apa anda akan menerimanya ?".
"Ya memang benar adanya kan pak....bapak mewarnai kertas putih menjadi hitam dan Hadi.....setidaknya dia mencoba membuat sesuatu karya entah apa ia pernah melihatnya...." sambil menarik nafas ia melihat ke-arah si lawan bicara, rasa tidak enak hadir dihatinya.
"Mas bermain sebagai "Guru Seni" dan saya masih diposisi yang sama seperti dulu. Sang pemimpi yang sejati....hahaha....mas tahu.....