Ini cara saya menangis, ini cara saya mengeluarkan beban pikiran yang tak seharusnya saya pikul. Melepaskannya untuk sementara dan membiarkannya membesar, meledak dalam prosesnya. Dari ledakan inilah tulisan ini berasal. Amarah, keputusasaan, frustasi dan kesedihan.
Waktu berubah, begitu cepat belakangan ini terasanya. Mungkin saya akan terlihat seperti orang sok bijak yang menggunakan kata "saya" untuk mendeskripsikan dirinya sebagai makhluk tuhan yang tidak sengaja melihat busuknya dunia dan menganggap dirinya seorang yang cukup bersih untuk menasehati orang untuk memperbaikinya. Dan mungkin ya.... anda berpikiran seperti itu.
Ini tentang kita, tentang orang orang kita. Kita mengalami keterpurukan hari demi hari, jika lo liat yang terjadi belakangan. Dan ketika kita melihatnya terjadi dan terjadi lagi, terulang lagi. Kita mulai merasa suci dengan memisahkan diri kita dari si pelaku dengan omong kosong "generasi". Dengan kalimat " Jaman gue dulu....blabla" yang amat gua jijik ketika baca atau dengernya.
Tolong pikirkan lagi, tolong lebarkan hati kita untuk menerima fakta ini. Kita semua berhubungan, saling mempengaruhi, mencontoh dan memberi. Kita adalah bagian dari kekacauan, sumber dan solusi kekacauan ini. Tolong buka mata kita untuk melihat ini. Rantai yang menarik kita kejurang ini akan terus menarik kita dan penerus kita.
Jika kita mau terus terusan, merasa bener, merasa bersih atas apapun yang terjadi. Jika kita cuma ingin menyalahkan satu hal atas kekacauan ini. Jika kita masih ragu, masih ogah untuk introspeksi diri. Dan masih ingin merasa tidak bersalah atas apa yang terjadi dan dengan idiotnya lepas tangan. Sumpah demi apapun yang gua punya, demi apapun yang gua akan punya, demi apapun yang gua yakini. Kita akan terus menerus jatuh lebih dalam dan dalam lagi, lebih parah lagi.
Dan buat anda yang merasa saya adalah orang sok bener....ya cuma ini hal paling bener yang gua bisa lakukan. Saya janjikan saya akan menjadi lebih baik lagi kedepan.
Waktu berubah, begitu cepat belakangan ini terasanya. Mungkin saya akan terlihat seperti orang sok bijak yang menggunakan kata "saya" untuk mendeskripsikan dirinya sebagai makhluk tuhan yang tidak sengaja melihat busuknya dunia dan menganggap dirinya seorang yang cukup bersih untuk menasehati orang untuk memperbaikinya. Dan mungkin ya.... anda berpikiran seperti itu.
Ini tentang kita, tentang orang orang kita. Kita mengalami keterpurukan hari demi hari, jika lo liat yang terjadi belakangan. Dan ketika kita melihatnya terjadi dan terjadi lagi, terulang lagi. Kita mulai merasa suci dengan memisahkan diri kita dari si pelaku dengan omong kosong "generasi". Dengan kalimat " Jaman gue dulu....blabla" yang amat gua jijik ketika baca atau dengernya.
Tolong pikirkan lagi, tolong lebarkan hati kita untuk menerima fakta ini. Kita semua berhubungan, saling mempengaruhi, mencontoh dan memberi. Kita adalah bagian dari kekacauan, sumber dan solusi kekacauan ini. Tolong buka mata kita untuk melihat ini. Rantai yang menarik kita kejurang ini akan terus menarik kita dan penerus kita.
Jika kita mau terus terusan, merasa bener, merasa bersih atas apapun yang terjadi. Jika kita cuma ingin menyalahkan satu hal atas kekacauan ini. Jika kita masih ragu, masih ogah untuk introspeksi diri. Dan masih ingin merasa tidak bersalah atas apa yang terjadi dan dengan idiotnya lepas tangan. Sumpah demi apapun yang gua punya, demi apapun yang gua akan punya, demi apapun yang gua yakini. Kita akan terus menerus jatuh lebih dalam dan dalam lagi, lebih parah lagi.
Dan buat anda yang merasa saya adalah orang sok bener....ya cuma ini hal paling bener yang gua bisa lakukan. Saya janjikan saya akan menjadi lebih baik lagi kedepan.