Everything changes, melihat kebelakang lagi di sore hari yang tidak cerah ini membuat saya tersadar akan hal ini. Perlahan kabut mulai menghilang, tidak berarti jalannya sudah terlihat sampai akhir atau saya tahu bagaimana akhirnya tapi menjalani tahun ini perlahan keresahan menghilang. Keresahan akan bagaimana menjalani kehidupan.
Akan lebih mudah kalau saya keterima kuliah di UNSOED Kedokteran, tapi nyatanya tidak dan saya perlahan sudah berdamai dengan itu. Tapi untuk melanjutkan studi ke Teknik Industri dan kuliah di kampus yang dekat rumah. Hal menjadi agak rumit. Kita berkembang dengan permintaan. Perkembangan terjadi dengan mudah diligkungan yang membutuhkan perkembangan tersebut. Maka dengan saya yang kuliah di dekat rumah, kebutuhan untuk menjadi independent, untuk menjadi seorang pria agak terganggu.
Dengan dipaksa untuk tinggal sendiri saya yakin hal akan berjalan lebih lancar. Tapi nyatanya tidak dan saya harus berdamai dengan hal itu juga. Tapi kebutuhan untuk berkembang perlahan mulai ditunjukan di tahun ini, saya melihat penuaan pada ayah saya dan ibu saya yang membuat saya sadar akan hal itu. Maka tahun ini saya mengambil tanggung jawab untuk mampu nanti dalam 2 tahun kedepan bisa membiayai kuliah Keyla adik saya.
Untuk bisa mensupport finansial keluarga ini ketika nanti waktunya saya menjadi andalan. Untuk yang satu ini saya masih belum tau waktunya, kemungkinan masih lama, kita mungkin bicara 5 atau 10 tahun lagi. Tapi dengan apa yang dipertaruhkan hal ini juga menjadi urgensi. Dua hal ini membuat saya sadar akan pentingnya untuk mampu menghasilkan uang. Dengan jumlah yang serius secara konstan dan dapat diulangi. Terdapat ketakutan tentang bagaimana caranya meraih ini, tapi perlahan semakin jelas. Dalam artian, munculnya banyak opsi yang saya capable untuk lakukan sepanjang tahun ini mengenai bagaimana menghasilkan uang. Hal ini perlu disyukuri.
Keperluan untuk menjadi mandiri, independen dan dapat berdiri sendiri juga datang dari asmara. Hati memang bukan sesuatu yang kita dapat kendalikan, termasuk jatuh cinta pada wanita yang jauh minta ampun jaraknya. Maka kita menjalankan praktek LDR dengan segala lika likunya. Tidak selalu mudah, banyak sedihnya dan setelah dijalani dalam hampir 2 tahun ini perasaannya pun perlahan berubah. Is that a bad thing? saya gatau. Setelah menjalani ini cukup lama saya perlahan menyadari bahwa romansa bagaimanapun indahnya atau seberapa sayang kamu terhadapnya sebaiknya jangan dijadikan prioritas pertama dalam hidup.
Kita harus sadar bahwa manusia berubah, perubahannya ngga bisa kita atur atau orang lain atur. Termasuk dengan watak dan kepribadian yang sudah berkembang sejak dulu kedalam diri kita. Oleh karenanya saya tidak seharusnya menyiksa partner saya untuk berubah menjadi ide saya tentang seorang partner dan mulai menerima fakta tentangnya sebagaimana adanya. Apakah yang saya coba bilang partner saya punya kepribadian yang buruk? well, yes and no. Sebagaimana saya dia pun punya banyak kekurangan.
Semua hal yang terjadi sudah menyadarkan saya akan pentingnya kejujuran mengenai perasaan. Kalau kamu merasa seperti ini ya itu sah sah saja. Sebagaimana juga dengan yang saya rasakan. Saya paham untuk tidak menyiksa diri sendiri hanya untuk menjaga sebuah hubungan terus berjalan. Saya boleh marah, kecewa dan meminta waktu sendiri. Sebagaimana juga dengan dia. Untuk menerima partner sebagai sebuah fakta dan menghindari bias yang terjadi karena ideal yang saya punyai. Itu pelajaran yang saya ambil di tahun ini.
Terlepas dari semua kecewa yang kita hadapi, saya masih peduli dengannya. Tapi jika dibilang apakah sama seperti dulu? jawabannya adalah tidak. Perubahan perspektif dalam melihat dia sebagai "girl" menjadi seorang "woman" banyak bersumbangsih terhadap hal ini. Untuk melihat semua yang dilakukannya sebagai "ya...memang seperti itu wataknya" dan kemudian melakukan cek kedalam diri sendiri-menanyakan "apa ini yang saya mau dari seorang partner?".
Maka kembali ke poin dimana untuk menjadi mandiri dan mapan itu penting. Hal ini lebih ke arah penemuan jati diri sebetulnya. Tapi jati diri mana yang bisa memberi saya kehidupan itu sesuatu yang perlu saya cari. Untuk menemukan orang seperti apa sebenarnya saya ini. Dan apa yang saya inginkan. Saya rasa hal ini membuat cinta dan hubungan menjadi sesuatu yang sifatnya bukan kebutuhan melainkan aksi nyata kita untuk memberi kebahagiaan dan menjadi bahagia. Untuk merubah "aku ngga bisa hidup tanpa kamu" menjadi "aku bisa hidup tanpa kamu, tapi ngga sebahagia dengan kamu" yang mana akan membebaskan masing masing untuk menjadi dirinya sendiri saat ini atau di masa yang mendatang.
Tahun ini menjadikan saya pribadi yang lebih dewasa, tahun ini memberikan banyak rezeki dan kebahagiaan. Saya harap semua orang yang mewarnai tahun ini tetap mewarnai tahun depan. Termasuk kamu ai 💞
0 komentar:
Posting Komentar