tidak dicatat melainkan diketik

Senin, 29 Mei 2017

Lompatan Motorcross

Pagi yang sejuk, mungkin karena mendung yang berlangsung dari sore kemarin. Mengendarai motor vario yang telah cukup lama menemani saya, mungkin 2 atau 3 tahun terakhir. Mulai menua seiring putaran roda, mesinnya meraung lebih keras dari saat dulu pertama bertemu. Dia ada di saat saya sengaja membuat diri saya terlambat masuk sekolah karena takut guru kimia. Dan hadir disaat saya kelelahan mencukupi bahan bahan pekerjaan di bengkel dimana saya menghabiskan satu tahun hampir lamanya.

Dan saat ini saya bersamanya di ujung lompatan atau lebih tepatnya saya bersama dia di udara saat ini. Melompat bersama, kami cuma bisa menunggu saat ini. Kami telah melaju secepat kami mampu di pacuan menanjak itu dan telah meluncur melewati jalan buntu itu. Kami terbang saat ini. Berharap mampu untuk mencapai awal dari pacuan satunya dan kembali menginjak pacuan, karena kami tahu hanya ketika menginjak pacuan-lah roda dapat berputar dan membuat perubahan.

Kami terbang saat ini dan secepat apapun roda kami berputar takkan ada bedanya. Takkan membuat perubahan. Dan disini dilema terjadi, didetik penantian ini dimana hanya keberuntungan dan senyum sang penciptalah yang mampu membuat perbedaan. Dilema antara terus yakin akan mendarat di sana atau mempersiapkan diri bila jatuh di sini.

Saya memilih jadi optimis dan pikir pendek.