Lorong bangunan sangat sepi sore itu, hanya seorang anak kecil dengan seragam SMP dan selainnya yang terlihat adalah kasir minimart yang sedang menyibukkan diri dengan menata kaleng susu bayi yang letaknya di rak belakang mejanya. Si anak duduk bersandar pada tiang yang melindunginya dari basah, mencoba untuk tidak terlihat kasihan agar si kasir dibalik pintu kaca tidak merasa iba. Namun setelah mencoba cukup keras ia sepertinya gagal.
Si kasir sepetinya merasa iba dengan apa yang dilihatnya di luar. Ia untuk beberapa kali mencoba mencuri pandang untuk menatap dan merasa. Saat si anak ini menunduk untuk menutupi wajahnya dan memeluk kakinya, ia merasakan rasa ingin menjadi orang baik yang sangat tinggi. Dalam pikirnya ia berencana akan mempersilahkan si anak masuk ke dalam toko yang ia jaga. Dan mungkin akan memberikannya cemilan lalu mengobrol untuk bertanya satu atau dua pertanyaan Dan tersenyum bersama mungkin...tertawa. Dalam pikirnya....
Di sisi kaca yang lain, dimana angin sejuk sedang bertiup si anak masih diposisi yang sama namun kali ini ia menggerakan kakinya. Dengan gerakkan seperti saat anda mendengar musik bertempo cepat ia mencoba agar terlihat menikmati kondisinya sekarang. Dalam pikirnya ia yakin bahwa saat seseorang melihatnya dapat menikmati kondisi saat ini, orang itu akan merasa lega karena tak perlu merasa iba atau merasa secara moral bertanggung jawab untuk menolong atas kondisi yang ia lihat. Dan nampaknya ia juga mulai merasa risih karena ada orang yang memperhatikannya dari tadi.
Namun beberapa menit dengan trik itu, sepertinya ia merasa mulai bosan dan kembali di kondisi awal. Duduk bersandar tiang bangunan dan menatap jauh ke ujung deretan. Entahlah disaat seperti ini yang ada padanya adalah keinginan agar tak ada yang melihat kearahnya. Karena jika seseorang melihatnya di kondisi seperti ini, akan ada rasa iba yang muncul pada diri mereka. Dan yang lebih parah mereka akan mencoba peduli dengan bertanya dan basa basi.
Hujan masih turun sampai saat itu, lebih deras dari sebelumnya dan bisa dirasakan anginnya juga semakin liar melanda. Si Kasir masih berada didalam Konflik internalnya dan secara tak bermanfaat menggeser geser kaleng susu, seperti masih kurang cocok dengan pemandangan yang sebenarnya bukan untuknya nikmati. Si anak dan tiang bangunan sandarannya masih berperan yang sama di situasi ini. Simbiosis Komensalisme saya yakin namanya.