tidak dicatat melainkan diketik

Rabu, 20 September 2017

Pintu Kaca


    Lorong bangunan sangat sepi sore itu, hanya seorang anak kecil dengan seragam SMP dan selainnya yang terlihat adalah kasir minimart yang sedang menyibukkan diri dengan menata kaleng susu bayi yang letaknya di rak belakang mejanya. Si anak duduk bersandar pada tiang yang melindunginya dari basah, mencoba untuk tidak terlihat kasihan agar si kasir dibalik pintu kaca tidak merasa iba. Namun setelah mencoba cukup keras ia sepertinya gagal.

    Si kasir sepetinya merasa iba dengan apa yang dilihatnya di luar. Ia untuk beberapa kali mencoba mencuri pandang untuk menatap dan merasa. Saat si anak ini menunduk untuk menutupi wajahnya dan memeluk kakinya, ia merasakan rasa ingin menjadi orang baik yang sangat tinggi. Dalam pikirnya ia berencana akan mempersilahkan si anak masuk ke dalam toko yang ia jaga. Dan mungkin akan memberikannya cemilan lalu mengobrol untuk bertanya satu atau dua pertanyaan Dan tersenyum bersama mungkin...tertawa. Dalam pikirnya....

    Di sisi kaca yang lain, dimana angin sejuk sedang bertiup si anak masih diposisi yang sama namun kali ini ia menggerakan kakinya. Dengan gerakkan seperti saat anda mendengar musik bertempo cepat ia mencoba agar terlihat menikmati kondisinya sekarang. Dalam pikirnya ia yakin bahwa saat seseorang melihatnya dapat menikmati kondisi saat ini, orang itu akan merasa lega karena tak perlu merasa iba atau merasa secara moral bertanggung jawab untuk menolong atas kondisi yang ia lihat. Dan nampaknya ia juga mulai merasa risih karena ada orang yang memperhatikannya dari tadi.

Namun beberapa menit dengan trik itu, sepertinya ia merasa mulai bosan dan kembali di kondisi awal. Duduk bersandar tiang bangunan dan menatap jauh ke ujung deretan. Entahlah disaat seperti ini yang ada padanya adalah keinginan agar tak ada yang melihat kearahnya. Karena jika seseorang melihatnya di kondisi seperti ini, akan ada rasa iba yang muncul pada diri mereka. Dan yang lebih parah mereka akan mencoba peduli dengan bertanya dan basa basi.

Hujan masih turun sampai saat itu, lebih deras dari sebelumnya dan bisa dirasakan anginnya juga semakin liar melanda. Si Kasir masih berada didalam Konflik internalnya dan secara tak bermanfaat menggeser geser kaleng susu, seperti masih kurang cocok dengan pemandangan yang sebenarnya bukan untuknya nikmati. Si anak dan tiang bangunan sandarannya masih berperan yang sama di situasi ini. Simbiosis Komensalisme saya yakin namanya.


Rabu, 06 September 2017

Nokia Lama

   Perlahan pintu kayu warna putih itu terbuka, dari celahnya dengan dinding mucul sesosok wajah. Rambutnya hitam kemerahan, mungkin terlalu sering terkena panas matahari, dia tersenyum dan menengok ke segala arah.
   'Kosong...' pelan suaranya dengan nada kecewa.
   Dia berjalan lagi ke lantai bawah bangunan tersebut, yang mana dia baru lewati beberapa menit sebelumnya. Mengambil beberapa langkah panjang dan berhenti dibelakang bangku warna biru didepan meja bagian administrasi. Dia tidak duduk namun hanya meletakkan tangannya di sandaran kursi, untuk membagi beban tubuhnya ke kursi tersebut dengan memposisikan tubuhnya condong kedepan.
   'Kok kosong ya di atas ?'
   'Jadwalnya kan diganti...' jawab pria dengan kemeja batik itu mudah.
   'Lho..kok saya nggak tau...'
   'Kan udah dishare di group..'
   Dia mendengakkan kepalanya ke langit-langit, untuk menunjukkan rasa kecewa sepertinya. Dan melangkah meninggalkan bangunan itu.
   'Emangnya nggak baca grup LIME ?'
   'Belum...'
   Dia mempercepat langkahnya karena dia sudah hafal pertanyaan yang akan membuntuti basa basi tersebut. 'Dia pasti bakal nanyain 'udah masuk grup kan ?' pasti.... gua harus buru buru' gumamnya di atas motor setelah memakai helm. Rupanya ia berhasil keluar dengan selamat dan langsung duduk di motornya. Helmnya berkaca gelap, suatu hari dia pernah memeriksa apa wajahnya masih terlihat jika memakai helm tersebut dan tampaknya helm itu jadi seperti ruang pribadinya.
    Saat memakai helm dia merasakan lebih aman dan bebas untuk mencurahkan isi hatinya. Entah berapa bab pidato dan curhatan yang mampu di buat jika seseorang mencatat ucapan dia saat perjalanan berangkat dan pulang sekolah. Bahkan tidak jarang juga ia bernyanyi. Cukup keras sampai suatu saat ada pengendara lain yang menengok ke arahnya. Keheranan pastinya.
   'Basa basi khas orang orang berkemampuan...' sedikit kesal sepertinya bisa dinilai dari nada bicara dan bagaimana ia menginjak starter manual motornya.
   Tak lama setelah motornya menyala, seseorang dari dalam bangunan tempat les bergegas membuka pintu masuk, dia berteriak memanggil seseorang.
   'Sialan !' ucapnya tenang walau ungkapan kekesalan ada di setiap suku kata yang diucapkannya 'Saya udah selamat masih dikejar juga'. Dia amat yakin bahwa ucapannya tidak akan terdengar oleh si subjek hinaan. Setelah menyingkap kaca helm dia menengok ke arah suara.
   'Iya...'
   'Masuk dulu saya mau nanya sedikit'.
   Horror. Jelas bukan situasi seperti ini yang dia harapkan dan saya amat yakin dalam hatinya dia telah berteriak puluhan kata kasar yang bisa ia ingat. Sambil memutar kunci motornya dia menurunkan standar, lalu yang terakhir ia melepaskan helmnya. Dan melangkah masuk. Lagi.
   Kali ini dia duduk dikursi, tidak seperti posisi terakhirnya di tempat yang sama, kali ini di terpaksa karena tampaknya lawan bicaranya mengisyaratkan dirinya untuk seperti itu. Dia membuka resleting jaketnya dan merapihkan pakaian. Meletakkan tangannya di atas kaki bagian atas lalu memperbaiki pandangannya. Pria berkemeja batik tersebut sudah menatapnya, dengan dua tangan yang saling mengenggam yang ia letakkan di atas mejanya.
   'Tadi saya nggak ngasih tahu kamu saat kamu lewat didepan saya....jangan marah...hehehe'
   'Siapa yang marah....' dia tahu perkataannya didasarkan rasa tidak enak dan kebohongan.
   'Karena saya udah merasa ngasih tahu kamu...'
   'Iya...salah saya yang lupa' jawabnya singkat sambil tersenyum, tapi semuanya tahu itu palsu.
   Si Pria berkemeja batik membalas senyuman itu 'Oh iya..... ' sambungnya ditengah tengah kelegaan yang dirasakan si lawan bicaranya 'Saya mau nanya ini....'. Dia mengambil buku panjang, bagian pinggirnya dijilid dengan selotip hitam dan cover depannya berupa plastik mika biru transparan.
   'Soal cicilan biaya les saya...?'
   'Iya' jawaban singkat untuk perkiraan berselimut ketakutan.
   'Oh iya nanti saya tanyakan lagi ke Ibu...'
   'Bilangin juga kalau bayarnya 2 kali...sama bulan lalu ya...'
   'Oh...oke...' kepalanya mengangguk namun pikirannya kosong menjawab sebisanya.

   Bunyi telepon memecahkan suasana, bunyinya tidak asing untuk telinga telinga pemakai telepon genggam. 'Tenet Not Net...Tenet Not Net..Tenet Not Net Not....' Nokia hebat dalam membuat sesuatu yang ikonik. Dia meraba kantong jaketnya untuk mengambil si sumber bunyi mengeluarkannya.
   'Udah kan ya ?'
   'Udah kok...saya mau tanya itu doang...'
   'Oh yaudah, saya langsung pulang deh'
   Senyuman si pria berbatik dibalas dengan anggukan sopannya, dia melangkah keluar dengan handphone digenggaman yang berbunyi. Langkahnya memberikan kejelasan dari semua yang terjadi dan suara ikonik tersebut menjadi alunannya. Seharusnya pria itu mengerti bagaimana kondisi anak ini.