tidak dicatat melainkan diketik

Kamis, 27 Desember 2018

Path of the Feather

Dear Brother.

Surat ini adalah balasan suratmu yang kuterima dua bulan lalu. Butuh waktu lama untuk menentukan balasan macam apa untuk macam surat yang kamu kirimkan. Kamu marah, sepertinya demikian. Dan kecewa. Tapi sungguh aku merasa tidak enak untuk bilang bahwa surat dua lembar bolak balik yang kamu kirimkan masih belum mampu merubah pikiranku.

Kamu selalu menjadi orator yang alami semenjak kita masih kecil. Aku pernah ingin menjadi orang sepertimu. Memiliki pendidikan tinggi. Memiliki pengikut atau yang kamu panggil teman. Menjadi Anggota Legislatif di Kota dimana kita lahir. Bersaing dan berdebat di berbagai kesempatan tentang hal hal politik. Just that kind of life with such a glamorous splendour.

Mungkin Fakta bahwa aku sendiri mengakui bahwa aku tidak ingin tumbuh dewasa akan membuktikan poinmu tentang betapa naif dan ringan bicaranya aku tentang apa yang ingin aku lakukan dengan hidupku. Bahwa setelah sekian pembuktianmu yang telah kamu jejalkan padaku barusan adalah benar adanya dan akupun melihatnya dengan persis sama dengan caramu melihatnya tentang apa yang salah dariku. Aku tidak ingin menjadi orang dewasa. Mengejar cinta, kekayaan, pencapaian, jabatan-persetan semuannya itu. Aku tidak mau menjadi dewasa menikah bekerja karena butuh uang bahagia karena anak atau pasanganku bahagia. Sialan semua hal itu.

Aku ingin menjadi bulu yang terbang di berkas sinar matahari. Melenggok karena ingin. Berputar karena menyenangkan. End when i'm done. I'm done. That is what i want. Mungkin aku sakit, mungkin ini hanya temporer, biarkan kamu membantu. Tentu. Mungkin. Watakku rusak dan menunjukkan ketidaksempurnaan dalam perkembangan. Aku tidak tumbuh seperti sepupuku. Tidak seperti kamu dulu. Atau anak temanmu sekarang. Aku entah kenapa dan bagaimana berbeda. Dan tidak akan ada yang akan membuatku membenci diriku begitu buruk selain menghindar dari siapa diriku sebenarnya. Aku maksudkan adalah ini adalah aku yang aku pikir terbaik untuk hidup dan aku akan hidup sebagai aku yang ini.

Haruskah aku kaya ? Memiliki karir ? Jabatan ? Pekerjaan bergengsi ? Pekerjaan Mudah ? Haruskah aku menikah ? Memiliki keluargaku sendiri ? Menua ?

Haruskah sebuah titik di angkasa yang bersinar kita kenal sebagai bintang ? Haruskah seorang manusia memenuhi potensinya untuk menjadi manusia yang semestinya ?

Entah. Mungkin ya. Tapi untukku ? Tidak. Bukan yang itu.

Mungkin ini surat yang akan mengecewakanmu saudaraku. Tapi ingatlah aku disini masih menyayangimu walaupun kita memiliki perbedaan yang ekstrem tentang bagaimana kita hidup. Entah denganmu. From your Brother.

*side note : Inti dari surat ini adalah aku tidak akan meninggalkan tempat tinggalku saat ini dan pekerjaanku saat ini. Kamu punya kehidupan itu disana dan kamu bahagia. Aku punya kehidupanku disini.

Selasa, 25 Desember 2018

God Help Me

Sore...ini sore saat aku mulai menulis tulisan ini.

Banyak hal untuk di tuangkan, banyak ide untuk dilakukan. Tapi nampaknya takkan ada satupun yang menjadi kejadian. Sedang tidak produktif bukan alasan yang pantas untuk disalahkan. Semua khayalan dan angan angan yang kumiliki hanya debu bila tidak dilakukan.Dan di sore ini saat matahari memiliki shift ditempat lain dan sedang bersiap siap untuk pindah aku sedang meratapi betapa tidak kompetennya aku dalam menjalankan rencana rencana dalam hidupku. Dan ini aku sedang mengeluh pada internet tentang problem yang aku pilih sendiri untuk miliki.

Lucu beberapa hal dalam kehidupan (masalah dalam kasusku) yang tadinya kupikir adalah takdir tidak lain adalah sebuah pilihan yang telah kita ambil untuk miliki. Aku mulai berpikir bahwa yah...mungkin inilah aku sebenarnya. Penunda. Bodoh. Penuh omong kosong. Aku payah. Tapi aku ingin menjadi lebih baik dan aku pikir dengan melakukan hal ini, hal yang langkah awalnya seharusnya hari ini aku ambil, aku bisa menjadi lebih baik. Tapi sejarah mencatat bahwa aku hari ini, melainkan melakukannya malahan duduk di ruangan ber AC ini menonton Youtube dengan nyamannya. Mengabaikan semua task list yang dia sendiri buat. God Help Me.

Selasa, 20 November 2018

My Life November 2018

HAI. Ini aku, masih hidup (kelihatannya).Blog ini untuk beberapa lama terlihat mati, tapi cukup kamu tahu bahwa aku terus dan masih aktif menulis. Tidak semuanya di-posting, beberapa tersimpan di draft. Beberapa cukup bagus untuk di bagikan tapi tidak pernah terjadi sampai saat ini. Entahlah, aku merasa kehilangan sentuhan.

Banyak hal berubah, memutuskan untuk maju-mengambil langkah. Bukan kearah yang aku ingin (selalu aku ingin) memang, tapi mengambil langkah terasa seperti pilihan paling bijaksana saat ini. Dan inilah saya, kehidupan yang saya pilih untuk jalani. Menjalani tantangannya juga kesulitannya. Aku merasa hidup lagi. Bukan itu saja, ambisiku saat ini juga berubah beberapa derajat, bertambah beberapa yang kebanyakan belum terealisasi. But believe me, i'm trying hard.

Ayo bicarakan detail. Aku kuliah di sebuah Universitas Swasta sekarang, GUNADARMA jika kamu merasa nama penting. Mengambil jurusan Teknik Industri. Surprise-nya adalah bahwa aku mengmbil kelas malam. Look, i know what you're thinking right now...but....well. Aku selalu jadi orang yang berjalan dengan berbeda, ini bukan pertama kalinya aku menjadi kontroversial. Untuk beberapa alasan aku mengambil kelas malam, alasan terkuatnya adalah keinginanku untuk bertemu orang orang yang aku rasa dapat membuka mataku. Intinya adalah nggak ada bagian dari hidupku yang saat ini, pernah terbayang di anganku beberapa tahun lalu. Semuanya berbeda dan kalau aku punya alasan ordinary untuk menjelaskan keputusanku, cukup kamu yakini sendiri bahwa sesuatu yang salah sedang terjadi.

Alasan "Aneh"-ku benar benar berjalan. Bertemu dengan banyak orang hebat. Mendengar keluh kesah serta merasakan kebahagian yang mereka rasakan. Berbagi hal hal yang kita rasa related sesama "Pegawai". (Aku bisa menyebut statusku pegawai saat ini, itu terjadi-aku bekerja seperti yang orang dewasa lakukan) Dad starts to trust me, to held a few kilograms of this company pressure. Membuatku merasa bangga pada diriku sendiri. Aku merasa bahwa mengenal mereka menghadirkan sesuatu yang baru dalam sudut pandangku, yang mana hal bagus. Everything's running good. Membagi waktu kerja dan kuliah juga cukup sulit ternyata.

Aku merasa hidup lagi saat ini. Memiliki kehidupan yang untuk beberapa lama aku pilih untuk tunda. Apakah ini akan membawaku ke arah yang baik atau tidak-i have no slightest idea, but for now i feel suited and progressing. What could be better ?


Sabtu, 26 Mei 2018

Rintik Hujan di Hutan Berbintang

    Hujan di minggu pagi terasa seperti surga saat mataku terbangun dari istirahatnya. Suara hujan seperti alunan surga dan menjadi semacam pencerahan bagiu. Ini aku, yang kemarin juga kamu baca ceritanya. Bocah yang sudah hatinya dipatahkan berkali kali oleh dinginnya realita dunia. Menulis lagi, mengeluh dan mengadu lagi tentang betapa berbedanya dunia dengan ekspektasinya.

    Ditemani secangkir teh aku duduk di sofa ini. Disampingku terdapat jendela setinggi badan manusia rata rata. Disini memandang, memperhatikan dan mengagumi hujan yang memainkan melodi terbaik didunia ini. Sungguh aneh bagaimana seseorang mengagumi hal yang begitu ordiner. Kesederhanaan adalah kerumitan yang tertata sempurna.

     "Lagi ngapain mas ?" tanyanya sambil mejatuhkan dirinya kesofa.

     Entahlah. Jika aku bilang aku sedang menulis kehidupanku yang membosankan dan penuh dengan kekecewaan di internet, tidakkah dia akan tertawa bahagia ? Ya, dia akan tertawa. Selanjutnya yang dia akan lakukan adalah mencoba membuatku menyesal dengan keputusan yang aku buat dulu. Semua orang berhak untuk tertawa, tapi tidak semua orang berhak untuk merogoh rogoh isi pikiran seseorang yang membuat keputusan yang begitu besar seperti ini. Jadi diam adalah jawabanku.

    Lima bulan telah berlalu jika dihitung dari dimana saya membuat keputusan itu, waktu berjalan cepat dan saya mulai berpikir betapa bergunanya jika saya mencatat bagaimana saya menjadi lebih baik dari hari kehari selama lima bulan terakhir. Hati meyakinkan, namun pikiran mengganjalnya. Mencoba mengingat tentang hal hal yang telah saya lalui, bukan hal yang mudah.

    Tidak mudah mengambil keputusan seperti yang saya ambil kemarin. Untuk lagi, mengundur keberangkatan saya ke level selanjutnya dari pendidikan. UNIVERSITAS. Tapi jika kamu tahu rasanya, kamu pasti tahu apa yang lebih buruk dari mengambil keputusan. Yaitu menjalaninya-lah yang membunuhku perlahan demi perlahan Mensaksikan orang rumah melanjutkan kehidupannya, menyasksikan adikmu sekolah, ujian dan naik kelas. Menyaksikan orangtua mu bekerja, pulang, bekerja dan pulang. Kamu jika kamu pernah merasakannya, kamu tahu bagaimana ini menyiksaku. Kita mungkin, pernah merasa tidak berguna. Tapi jika itu menjadi keseharian....entahlah.

     Bagaimana jika setiap hari dalam hidupmu kamu merasakan itu ? Pikiran mu mulai bertanya 'Apa saya sebuah beban bagi mereka ?', 'Apa mereka membenci saya ?' dan 'Apa saya egois dengan menunda kehidupan saya agar saya dapat berjalan di jalur yang saya mau ?'. Sementara saya melihat mereka berdua menua ditempat kerja saya menggila.

    Perasaan tidak berguna juga bukan hal terburuk dari cerita ini. Akan muncul juga hal lainnya, bicara dengan diri sendiri salah satunya. Kamu mulai memulai debat dengan dirimu sendiri, merasa bahagia merasa sedih, marah, bingung dan semua hal yang biasanya ditimbulkan dari komunikasi antar manusia namun kali ini ditimbulkan karena bicara didepan kaca. Kamu akan mulai menanyakan semua hal yang tadinya kamu pegang erat. Seperti aku, beberapa bulan yang lalu aku mulai bicara sendiri, menanyakan diriku sendiri tentang begitu berhargakah mimpi yang karenanya aku berkorban begini banyak. Mendekati kegilaan, semua hal tentang dirimu hancur, kamu mulai bertindak aneh.

     Dan dititik itulah saya melihat kejelasan, tentang diri saya secara jujur. Saya mulai menyadari bahwa saya bukan seorang yang jenius, biasa saja juga bukan. Saya juga tidak lahir di keluarga yang mewah. Saya tidak lahir dari orangtua seorang dokter, sehingga saya harus merasa berkewajiban menjadi seperti mereka. Sama sekali tidak. Saya juga tidak mempunyai kenangan buruk tentang keluarga yang tidak bisa saya tolong, sehingga saya begitu ingin menjadi dokter. Dan semua ini perlahan seperti mengeliminasi semua alasan yang saya selalu lontarkan kepada siapapun yang bertanya kenapa saya begitu keras kepalanya.

    Kenapa kamu begitu ngotot ingin jadi dokter ? Saya 2 tahun lalu akan bilang, karena saya selalu memimpikan ini. Saya setahun yang lalu saya akan menjawab 'Karena saya ingin'. Bodoh, saya tahu. Semua orang ingin menjadi dokter, dengan jaminan status sosialnya, dengan jaminan pendapatannya. Satu hal yang saya sadari setelah semua ini adalah 'ingin' saja tidak akan cukup, kamu butuh lebih dari itu. Sesuatu yang lebih jelas, spesifik dan rasional. Dan saya sekarang saya sudah mendapatkan inti milik saya. Setelah semua 'Karena saya mau menolong orang lah....karena saya akan jadi dokter pertama di keluarga besar saya lah...karena bla bla bla blala'.

Saya adalah seorang anak mengejar bintang. Digelapnya belantara tanpa sinar, saya berlarian. Tanpa panduan tanpa lentera. Saya seorang anak terjatuh kejurang terkapar diujung kematian, menghadap angkasa mengulurkan tangan. Dan bila mungkin diri ini untuk bangun lagi, dirindang malam hutan ini aku tak berubah arah akan terus berjalan kearah bintang. Patah kaki. Tertusuk. Terjerat. Dan jatuh. Karena tiada cahaya yang mampu kulihat. Tiada arah untuk kuyakini. Untuk tuhan yang telah menulisku seperti ini, tolong saya yang lelah namun tidak mau berhenti ini.

Rabu, 04 April 2018

BILAN 1990

Langkahnya bergegas, jangkauannya mungkin 2 atau 1,5 kali lebih panjang dari biasanya. Dia tahu bahwa apapun yang dia lakukan tidak akan merubah apa apa tapi tetap ia merasa bahwa bergegas adalah hal yang perlu. Lorong terasa amat panjang seakan memuai dengan tujuan membuatnya lebih terlambat, tapi sepertinya itu cuma perasaannya.

Dia dalam hatinya merasa bahwa ada sedikit penyesalan yang timbul, tapi ada juga sedikit-sepercik kebanggaan yang terbentuk. Dia dan semua buku buku yang ia bawa di ransel biru tua itu melaju-sangat cepat setidaknya lebih cepat dari manusia berjalan pada umumnya. Namun begitu dia tidak berlari, dia berjalan. Nafasnya teratur dengan tempo yang stabil dan terlihat ada setetes keringat di dahinya, berjalan turun seiring langkah langkah panjang itu berganti.

Hari pertamanya, spesial dan berarti. Dalam hatinya telah ratusan kata mengutuk kebodohan diri, namun dalam hati yang berkecamuk penyesalan ia tetap berjalan. Langkahnya terhitung ratusan saat ia sampai didepan pintu kelas. Teror muncul dalam kesunyian lorong bangunan, suara si pengajar telah bergema didekat tujuan. Remaja yang gentar hatinya ini menarik nafas memanjatkan kalimat yang mengagungkan sang pencipta dan mengangkat tangannya.

Tidak tinggi dia melakukannya, tangan dengan jari jari panjang dan kulit agak gelap itu ada sekitar 30cm didepan wajahnya. Dan dia mengetuk. Tiga kali ketukan dia rasa cukup untuk memberi isyarat pada semua orang didalam, bahwa ada orang yang begitu bodohnya sampai bisa telat di hari pertamanya. Seperduabelas menit kemudian suara menghilang dari dalam kelas. Dan detik berikutnya suara dalam dan tenang memberi aba-aba bahwa seluruh isi kelas siap menyambut datangnya sang jagoan.

Masuk ! katanya tenang. Pintu terbuka menujukan sang tokoh utama kita. Anak muda dengan seragam sekolahnya yang entah bagaimana mendeskripsikannya, kemeja putih yang ia pakai kebesaran di badannya namun lengannya terlihat terlalu pendek sehingga menunjukkan tangannya yang begitu panjang dan terlihat seperti tulang berbalut kulit. Celananya pun tidak terlalu berbeda, begitu lebar jika dibandingkan dengan diameter betisnya dan dengan kondisi yang sama dengan kemejanya, kebesaran ketika sebenarnya kekecilan.



Senin, 05 Februari 2018

Mimpi

"Orang seperti saya tak butuh dikasihani tuan....." jawabnya santai, dengan sedikit tawa dia berkata lagi "Jawaban tuan....jawaban...".
"Ratusan yang seperti saya bisa saja menjadi orang macam anda....semuanya bisa seperti anda.... Kami ini pemimpi yang sejati tuan......ya....ha ! kami pemimpi sejati tuan......hahahahahaa" pria berpakaian pemulung itu terbahak bahak dalam membawakan kalimat. Entah bagaimana seorang yang terlihat begitu penuh dengan penderitaan masih bisa tertawa sekeras itu. Setelah beberapa puluh detik tertawa dia mulai menghentikan ulah aneh itu dan mencoba merogoh kantongnya, mencari sesuatu yang tampaknya ia sangat yakin akan keberadaannya.

"Ini pak ! Kasih saya minuman apapun yang bisa saya dapat dengan uang ini ! Bergegaslah saya rasa ada lalat yang masuk kedalam mulut saya ketika tertawa tadi...ayo cepatlah...saya tidak mau lalat ini terjebak hidup hidup di kerongkongan ini..dan jika ia sampai bertelur disana....dan menetas !" dia mengatakannya sambil menjulurkan tangannya ke arah penjual asongan memberikan uang yang, entahlah mungkin 2 ribu rupiah- itu terlihat kusut terlipat lipat dan setelah mendapatkan 4 air mineral kemasan gelas ia kembali ke hadapan lawan bicara yang ia tinggalkan tadi.

Di tempat yang persis sama dan cara duduk yang sama ia kembali lagi ke perbincangan tadi. Membuka satu minuman gelas itu dan meminumnya, tidak terlalu banyak hanya 2 atau 3 teguk menyisakan sekitar tiga perempat bagian tersisa.
"Haus mas ? ini ambil satu....minum saja....karena kamu liat saya beli disana jadi nggak mungkin saya kasih racun...." tawarannya disajikan dengan kalimat yang menenangkan keraguan, namun begitu ia tidak menerima jawaban apapun dan ia juga sepertinya juga tidak menantikan jawaban apapun karena tanpa jawaban pun ia langsung menyodorkannya."

"Pemimpi ?" mulai si pria dengan kalung rantai ini, seperti merasa belum terpenuhi hasratnya ia memperhatikan pria compang camping yang ada didepannya, melihatnya tepat di wajah dan menunggu sambil memperlihatkan wajah datar penuh keingintahuan.

"Pemimpi yang sejati tepatnya mas......jika bicara tentang pemimpi kita bicara hal yang luas dan fleksibel tafsirannya...." dia membalas pandangan si penanya,mata mereka saling bertemu lalu dia mengalihkannya lagi sambil tersenyum, gigi depannya terlihat dari celah yang terbuka antar bibir tua berwarna gelap itu "Ketika saya masih sekolah dulu saya punya guru yang selalu setiap jadwal pelajarannya punya kebiasaan unik, dia bertanya kepada semua murid "kamu tadi malam mimpi apa ?" dan beragam jawaban keluar dari teman teman saya. Dia seorang guru seni lukis, badannya lumayan berisi dan muda pada waktu itu, selalu memakai sendal jepit dan walaupun seorang guru ia selalu membawa bekal dari rumah untuk ia makan pada jam istirahat. Oh ya.....itu cuma kalau anda tertarik untuk menghayati cerita saya lebih dalam jadi... mari kita lanjutkan ! Mereka memeberi jawaban yang terkesan mengada ada, dia bercerita dikejar hantu, dia bercerita bahwa ia naik mobil (sesuatu yang sangat dikagumi saat itu) dan yang lain bercerita dia bertemu astronot. Mereka terkesan hanya ingin terlihat lucu didepan temannya saat bercerita dan itu yang terjadi. Anda bisa melihat polanya ? oh tentu anda bisa....anda tahu bagian selanjutnya dari cerita ini kan ? Guru seni, mimpi, cerita imajinatif....."

"Saya pikir ya...."sahutnya dengan nada ragu.
"Bodohnya saya....hahaha....anda tentu bisa.....terlalu mudah ditebak tentunya.... oke mas biar saya lanjutkan lagi....jadi Pak Eman ini sebagaimana ia bisa dipanggil semua orang, meminta kami melukiskannya kedalam sebuah kertas....ya kertas....bukan kanvas seperti seharusnya, tapi kertas yang cukup tebal seperti cover buku gambar....mas tau ?.....Tapi saya bukan pembohong seperti teman teman saya, saya mengatakan yang sejujurnya bahwa saya tidak ingat saya bermimpi apapun malam itu.....seluruh kelas tertawa saat mendengar jawaban saya......tapi dia tidak....setidaknya hanya tersenyum agar saya tidak terlalu merasa buruk. Saat waktu melukis dimulai saya hanya mengambil cat warna hitam untuk saya pakai....saya ambil cukup banyak agar mampu menggambarkan apa yang saya mimpikan....entahlah hitam selalu menggambarkan ketiadaan bahkan dipikiran seorang anak SMP"

"Jadi lukisan saya telah kering....saya selesai lebih cepat dari teman teman saya lalu saya kumpulkan ke mejanya. Perlahan semua teman saya mengikuti jejak saya dengan mengumpulkan hasil karya mereka....gambaran mimpi mereka bermacam macam, ada yang tetap menggambarkan persis seperi apa yang mereka ceritakan, ada yang melenceng dengan cerita yang mereka tuturkan. Hadi yang bercerita bahwa dia dikejar hantu, malah melukis gunung. Yep.....gunung. Sebetulnya dua buah gunung bersebelahan berbentuk sempurna segitiga seperti piramida dan dengan jalanan yang tepat diantara dua gunung tersebut. Dia memamerkannya pada semua orang dan tampaknya mereka semua terlihat kagum. Diujung pelajaran ada sesi dimana kita biasanya melakukan apresiasi dan melihat karya mana yang paling baik dan mana yang dapat disebut sampah. Saya berkehormatan untuk mendapatkan penghargaan yang kedua."

"Hubungannya......kalau bisa diringkas ya diringkas saja pak..." pria itu berkata, dengan nada bercanda bertanya dengan hati hati agar tidak menyakiti hati si lawan bicara.

"Hubungan adalah suatu yang rumit menurut saya, adalah sudut pandang yang membentuk pengalaman......bukan hubungan...." tangannya menepuk si pria dengan kaos hitam tak berlengan itu, dia menepuknya di bahu sambil melanjutkan "hehehe.....saya selalu mengagumi orang orang seperti anda....tegas dalam berbicara.....dengan tubuh tegap berisi.....berotot malah.....tapi saya orang jujur yang amat memuja orang yang juga jujur......". Dia memantapkan posisi duduknya, menatap lawan bicaranya dan bertanya "Jika saya bilang Hadi adalah pemilik karya lukis terbaik dan anda adalah saya.....apa anda akan menerimanya ?".

"Ya memang benar adanya kan pak....bapak mewarnai kertas putih menjadi hitam dan Hadi.....setidaknya dia mencoba membuat sesuatu karya entah apa ia pernah melihatnya...." sambil menarik nafas ia melihat ke-arah si lawan bicara, rasa tidak enak hadir dihatinya.

"Mas bermain sebagai "Guru Seni" dan saya masih diposisi yang sama seperti dulu. Sang pemimpi yang sejati....hahaha....mas tahu.....