tidak dicatat melainkan diketik

Rabu, 04 April 2018

BILAN 1990

Langkahnya bergegas, jangkauannya mungkin 2 atau 1,5 kali lebih panjang dari biasanya. Dia tahu bahwa apapun yang dia lakukan tidak akan merubah apa apa tapi tetap ia merasa bahwa bergegas adalah hal yang perlu. Lorong terasa amat panjang seakan memuai dengan tujuan membuatnya lebih terlambat, tapi sepertinya itu cuma perasaannya.

Dia dalam hatinya merasa bahwa ada sedikit penyesalan yang timbul, tapi ada juga sedikit-sepercik kebanggaan yang terbentuk. Dia dan semua buku buku yang ia bawa di ransel biru tua itu melaju-sangat cepat setidaknya lebih cepat dari manusia berjalan pada umumnya. Namun begitu dia tidak berlari, dia berjalan. Nafasnya teratur dengan tempo yang stabil dan terlihat ada setetes keringat di dahinya, berjalan turun seiring langkah langkah panjang itu berganti.

Hari pertamanya, spesial dan berarti. Dalam hatinya telah ratusan kata mengutuk kebodohan diri, namun dalam hati yang berkecamuk penyesalan ia tetap berjalan. Langkahnya terhitung ratusan saat ia sampai didepan pintu kelas. Teror muncul dalam kesunyian lorong bangunan, suara si pengajar telah bergema didekat tujuan. Remaja yang gentar hatinya ini menarik nafas memanjatkan kalimat yang mengagungkan sang pencipta dan mengangkat tangannya.

Tidak tinggi dia melakukannya, tangan dengan jari jari panjang dan kulit agak gelap itu ada sekitar 30cm didepan wajahnya. Dan dia mengetuk. Tiga kali ketukan dia rasa cukup untuk memberi isyarat pada semua orang didalam, bahwa ada orang yang begitu bodohnya sampai bisa telat di hari pertamanya. Seperduabelas menit kemudian suara menghilang dari dalam kelas. Dan detik berikutnya suara dalam dan tenang memberi aba-aba bahwa seluruh isi kelas siap menyambut datangnya sang jagoan.

Masuk ! katanya tenang. Pintu terbuka menujukan sang tokoh utama kita. Anak muda dengan seragam sekolahnya yang entah bagaimana mendeskripsikannya, kemeja putih yang ia pakai kebesaran di badannya namun lengannya terlihat terlalu pendek sehingga menunjukkan tangannya yang begitu panjang dan terlihat seperti tulang berbalut kulit. Celananya pun tidak terlalu berbeda, begitu lebar jika dibandingkan dengan diameter betisnya dan dengan kondisi yang sama dengan kemejanya, kebesaran ketika sebenarnya kekecilan.