tidak dicatat melainkan diketik

Sabtu, 26 Mei 2018

Rintik Hujan di Hutan Berbintang

    Hujan di minggu pagi terasa seperti surga saat mataku terbangun dari istirahatnya. Suara hujan seperti alunan surga dan menjadi semacam pencerahan bagiu. Ini aku, yang kemarin juga kamu baca ceritanya. Bocah yang sudah hatinya dipatahkan berkali kali oleh dinginnya realita dunia. Menulis lagi, mengeluh dan mengadu lagi tentang betapa berbedanya dunia dengan ekspektasinya.

    Ditemani secangkir teh aku duduk di sofa ini. Disampingku terdapat jendela setinggi badan manusia rata rata. Disini memandang, memperhatikan dan mengagumi hujan yang memainkan melodi terbaik didunia ini. Sungguh aneh bagaimana seseorang mengagumi hal yang begitu ordiner. Kesederhanaan adalah kerumitan yang tertata sempurna.

     "Lagi ngapain mas ?" tanyanya sambil mejatuhkan dirinya kesofa.

     Entahlah. Jika aku bilang aku sedang menulis kehidupanku yang membosankan dan penuh dengan kekecewaan di internet, tidakkah dia akan tertawa bahagia ? Ya, dia akan tertawa. Selanjutnya yang dia akan lakukan adalah mencoba membuatku menyesal dengan keputusan yang aku buat dulu. Semua orang berhak untuk tertawa, tapi tidak semua orang berhak untuk merogoh rogoh isi pikiran seseorang yang membuat keputusan yang begitu besar seperti ini. Jadi diam adalah jawabanku.

    Lima bulan telah berlalu jika dihitung dari dimana saya membuat keputusan itu, waktu berjalan cepat dan saya mulai berpikir betapa bergunanya jika saya mencatat bagaimana saya menjadi lebih baik dari hari kehari selama lima bulan terakhir. Hati meyakinkan, namun pikiran mengganjalnya. Mencoba mengingat tentang hal hal yang telah saya lalui, bukan hal yang mudah.

    Tidak mudah mengambil keputusan seperti yang saya ambil kemarin. Untuk lagi, mengundur keberangkatan saya ke level selanjutnya dari pendidikan. UNIVERSITAS. Tapi jika kamu tahu rasanya, kamu pasti tahu apa yang lebih buruk dari mengambil keputusan. Yaitu menjalaninya-lah yang membunuhku perlahan demi perlahan Mensaksikan orang rumah melanjutkan kehidupannya, menyasksikan adikmu sekolah, ujian dan naik kelas. Menyaksikan orangtua mu bekerja, pulang, bekerja dan pulang. Kamu jika kamu pernah merasakannya, kamu tahu bagaimana ini menyiksaku. Kita mungkin, pernah merasa tidak berguna. Tapi jika itu menjadi keseharian....entahlah.

     Bagaimana jika setiap hari dalam hidupmu kamu merasakan itu ? Pikiran mu mulai bertanya 'Apa saya sebuah beban bagi mereka ?', 'Apa mereka membenci saya ?' dan 'Apa saya egois dengan menunda kehidupan saya agar saya dapat berjalan di jalur yang saya mau ?'. Sementara saya melihat mereka berdua menua ditempat kerja saya menggila.

    Perasaan tidak berguna juga bukan hal terburuk dari cerita ini. Akan muncul juga hal lainnya, bicara dengan diri sendiri salah satunya. Kamu mulai memulai debat dengan dirimu sendiri, merasa bahagia merasa sedih, marah, bingung dan semua hal yang biasanya ditimbulkan dari komunikasi antar manusia namun kali ini ditimbulkan karena bicara didepan kaca. Kamu akan mulai menanyakan semua hal yang tadinya kamu pegang erat. Seperti aku, beberapa bulan yang lalu aku mulai bicara sendiri, menanyakan diriku sendiri tentang begitu berhargakah mimpi yang karenanya aku berkorban begini banyak. Mendekati kegilaan, semua hal tentang dirimu hancur, kamu mulai bertindak aneh.

     Dan dititik itulah saya melihat kejelasan, tentang diri saya secara jujur. Saya mulai menyadari bahwa saya bukan seorang yang jenius, biasa saja juga bukan. Saya juga tidak lahir di keluarga yang mewah. Saya tidak lahir dari orangtua seorang dokter, sehingga saya harus merasa berkewajiban menjadi seperti mereka. Sama sekali tidak. Saya juga tidak mempunyai kenangan buruk tentang keluarga yang tidak bisa saya tolong, sehingga saya begitu ingin menjadi dokter. Dan semua ini perlahan seperti mengeliminasi semua alasan yang saya selalu lontarkan kepada siapapun yang bertanya kenapa saya begitu keras kepalanya.

    Kenapa kamu begitu ngotot ingin jadi dokter ? Saya 2 tahun lalu akan bilang, karena saya selalu memimpikan ini. Saya setahun yang lalu saya akan menjawab 'Karena saya ingin'. Bodoh, saya tahu. Semua orang ingin menjadi dokter, dengan jaminan status sosialnya, dengan jaminan pendapatannya. Satu hal yang saya sadari setelah semua ini adalah 'ingin' saja tidak akan cukup, kamu butuh lebih dari itu. Sesuatu yang lebih jelas, spesifik dan rasional. Dan saya sekarang saya sudah mendapatkan inti milik saya. Setelah semua 'Karena saya mau menolong orang lah....karena saya akan jadi dokter pertama di keluarga besar saya lah...karena bla bla bla blala'.

Saya adalah seorang anak mengejar bintang. Digelapnya belantara tanpa sinar, saya berlarian. Tanpa panduan tanpa lentera. Saya seorang anak terjatuh kejurang terkapar diujung kematian, menghadap angkasa mengulurkan tangan. Dan bila mungkin diri ini untuk bangun lagi, dirindang malam hutan ini aku tak berubah arah akan terus berjalan kearah bintang. Patah kaki. Tertusuk. Terjerat. Dan jatuh. Karena tiada cahaya yang mampu kulihat. Tiada arah untuk kuyakini. Untuk tuhan yang telah menulisku seperti ini, tolong saya yang lelah namun tidak mau berhenti ini.