Suara kendaraan datang dan pergi meningkatkan intensitas suaranya dan merendah seketika menjauh. Melaju.
Semua hal berakhir. Pada saatnya dan tempatnya. Semua suara akan menjadi sunyi saat para pendengar menjauh darinya. Semua daun yang tumbuh akan menguning dan jatuh. Semua apel yang merah akan menghitam dan hancur. Semua mimpi yang terlupa akan kembali.
Belakangan aku menyadari bahwa aku pernah mendapat mimpi ini di suatu malam. Malam yang tidak aku ingat kapan. Tapi aku tahu mimpi apa itu. Penglihatan yang meninggalkan ketakutan dalam sadarku. Mengguncang garis emosi, membentuk gelombang. Cahaya sore mendung menjadi latar pertunjukkan, penglihatan menghadirkan seorang renta. Tanpa tau sedang apa aku hanya melihat seorang pria tua sedang duduk diatas batu. Si tua ini secara monolog menceritakan tentang semua hal yang dia telah abaikan dari hidup bahagianya. Dia seorang pensiun dengan catatan yang baik dan seperti yang dia tuturkan-terasa meyakinkan dan memang dia terasa seperti pribadi ramah yang mudah disukai. Dia duduk diatas sebuah batu seukuran meja kerja. Sudut pandangku melihatnya dari titik yang lebih rendah.
"Semua itu, dan disinilah saya..." suaranya mengeluh, sedikit penyesalan tercium di pemilihan katanya. Memandang kosong kearah bangunan putih beratapkan genteng warna darah kering yang duduk manis di dataran yang lebih rendah dari tempatnya saat ini. Dan bangunan itu menatapnya kembali. Mungkin memang sudah dibangun sedemikian rupa.
Monolognya berlanjut, dia bilang "Semua waktu yang mati,.....tanpa cerita-tanpa rasa". Entah apa maksudnya, tapi kali ini dia bangun dari duduknya, memutarkan tubuhnya ke belakang untuk menarik kakinya yang tergantung diudara. Dia menahan sakit aku rasa, lalu dia berdiri diatas batu tersebut. Melemparkan makian kearah bangunan yang seakan ingin membantunya berdiri. Dia bilang "Seperti waktu yang mati tanpa cerita, kau rumah busuk tolong jangan ceritakan ini....".
Lalu matanya memandangku, mengunci tatapan untuk memiliki pandangku. Mata kami bertemu. Ada sedikit merah disana, dia menangis. Tepat didetik itu semua terekam dalam memori. Meninggalkan pandangan yang terus menerus menakutiku ketika terulang dalam imaji. Darah mengalir, matanya tertutup. Rambut putihnya basah, menjadi mata air cairan merah berkilau yang kemudian mengalir di pekarangan rumah putih. Tempat yang indah untuk mati, tempat yang indah untuk menyimpan misteri. Dia menjatuhkan diri kebelakang dalam momen yang dia pilih untuk miliki, dia memandangku tepat dimata. Memandangku seakan aku pembunuhnya. Sulit dikatakan entah dia takut, sedih, frustasi, bosan, lelah ? Matanya memandangku kosong. Tapi merah di matanya memberi kesan kesedihan. Dia membunuh dirinya sendiri.
Sungguh mimpi yang buruk jika aku mencoba menceritakan bagaimana satu persatu seluruh pandangan yang aku lihat. Langit menangis dan seketika seakan waktu dipercepat aku melihat rumah putih itu ditumbuhi tanaman rambat. Cat putih terlepas dari genggamannya. Putih menjadi abu. Abu menjadi merah. Atapnya jatuh, seperti ditarik kedalam rumah. Menengok lagi, tubuhnya tiada. Pepohonan tumbuh menggila . Semua keteraturan di abaikan oleh waktu yang menggerakkan alam. Lalu berhenti. Kini semua terlihat berbeda. Waktu bertanggung jawab atas kekacauan ini.
Dalam waktu yang berjalan tetap seorang pria bejalan kearah rumah yang sudah tidak ada lagi disana. Digengamnya seorang wanita yang berjalan sedikit dibelakangnya. Sulit dipastikan pada awalnya tapi sepertinya mereka sepasang. Ada satu pria lagi, jauh lebih muda. Pria ini mengikuti mereka dengan jarak. Lalu seorang gadis kecil terlihat. Pria ini menengok kebelakang, memanggil gadis itu. Dia menggendongnya. Alang alang terlihat setinggi dengkul mereka. Mataku mencoba menggapai lebih dekat. Ada senyuman disana. Semua wajah bersinar sama terangnya.
Seperti mempersembahkan karya yang dia buat. Dia menunjuk ke arah dimana tadinya sebuah rumah berdiri. Lalu menunjuk lagi kearahku berdiri saat ini. Aku di atas batu sebesar meja kerja ini saat wanita dengan gaun merah yang tadi genggamannya dilepas, memeluknya, melompat ketubuhnya. Mereka-lagi seperti yang aku gambarkan "Bahagia". Namun lebih bahagia dari sebelumnya. Sebuah keluarga ideal. Dua anak, ayah berkecukupan, seorang ibu yang memiliki aura penyayang.
Wajah mereka seperti mercusuar yang menembakkan cahaya ke lautan gelap. Mereka tertawa. Dalam gelak tawa mereka bangunan tersebut berdiri lagi sama persis seperti sebelumnya. Rumah putih berkilau yang tadi menjadi latar kematian kembali lagi seperti semula. Dalam laju waktu Si Gadis tadi sudah tumbuh dewasa. Sepertinya waktu melaju lagi. Banyak perayaan yang terjadi di rumah tersebut, dalam waktu yang sedang melaju cepat aku kehilangan hitungan. Dan seperti semua hal baik didunia ini. Akhir menunjukkan keberadaannya. Pemakaman. Silih berganti. Banyak tangisan dan kesedihan. Doa dan ucapan duka datang menghujani. Kini dia sendiri. Tanpa wanita yang biasa ia genggam tangannya. Tanpa Pria muda yang sering dia ajak berbincang di atas batu dibelakangku. Tanpa Gadis kecil yang semenjak sebuah perayaan besar jarang untuk kembali. Dia....sendiri. Lalu semuanya gelap.
Mimpi ini menghantuiku. Banyak kesimpulan yang aku tarik dari mimpi ini. Pagi disaat aku terbangun dari mimpi ini aku melihat kaca dan ....ya seperti yang bisa kalian tebak. Pria tua dari mimpi itu aku.
Semua hal berakhir. Pada saatnya dan tempatnya. Semua suara akan menjadi sunyi saat para pendengar menjauh darinya. Semua daun yang tumbuh akan menguning dan jatuh. Semua apel yang merah akan menghitam dan hancur. Semua mimpi yang terlupa akan kembali.
Belakangan aku menyadari bahwa aku pernah mendapat mimpi ini di suatu malam. Malam yang tidak aku ingat kapan. Tapi aku tahu mimpi apa itu. Penglihatan yang meninggalkan ketakutan dalam sadarku. Mengguncang garis emosi, membentuk gelombang. Cahaya sore mendung menjadi latar pertunjukkan, penglihatan menghadirkan seorang renta. Tanpa tau sedang apa aku hanya melihat seorang pria tua sedang duduk diatas batu. Si tua ini secara monolog menceritakan tentang semua hal yang dia telah abaikan dari hidup bahagianya. Dia seorang pensiun dengan catatan yang baik dan seperti yang dia tuturkan-terasa meyakinkan dan memang dia terasa seperti pribadi ramah yang mudah disukai. Dia duduk diatas sebuah batu seukuran meja kerja. Sudut pandangku melihatnya dari titik yang lebih rendah.
"Semua itu, dan disinilah saya..." suaranya mengeluh, sedikit penyesalan tercium di pemilihan katanya. Memandang kosong kearah bangunan putih beratapkan genteng warna darah kering yang duduk manis di dataran yang lebih rendah dari tempatnya saat ini. Dan bangunan itu menatapnya kembali. Mungkin memang sudah dibangun sedemikian rupa.
Monolognya berlanjut, dia bilang "Semua waktu yang mati,.....tanpa cerita-tanpa rasa". Entah apa maksudnya, tapi kali ini dia bangun dari duduknya, memutarkan tubuhnya ke belakang untuk menarik kakinya yang tergantung diudara. Dia menahan sakit aku rasa, lalu dia berdiri diatas batu tersebut. Melemparkan makian kearah bangunan yang seakan ingin membantunya berdiri. Dia bilang "Seperti waktu yang mati tanpa cerita, kau rumah busuk tolong jangan ceritakan ini....".
Lalu matanya memandangku, mengunci tatapan untuk memiliki pandangku. Mata kami bertemu. Ada sedikit merah disana, dia menangis. Tepat didetik itu semua terekam dalam memori. Meninggalkan pandangan yang terus menerus menakutiku ketika terulang dalam imaji. Darah mengalir, matanya tertutup. Rambut putihnya basah, menjadi mata air cairan merah berkilau yang kemudian mengalir di pekarangan rumah putih. Tempat yang indah untuk mati, tempat yang indah untuk menyimpan misteri. Dia menjatuhkan diri kebelakang dalam momen yang dia pilih untuk miliki, dia memandangku tepat dimata. Memandangku seakan aku pembunuhnya. Sulit dikatakan entah dia takut, sedih, frustasi, bosan, lelah ? Matanya memandangku kosong. Tapi merah di matanya memberi kesan kesedihan. Dia membunuh dirinya sendiri.
Sungguh mimpi yang buruk jika aku mencoba menceritakan bagaimana satu persatu seluruh pandangan yang aku lihat. Langit menangis dan seketika seakan waktu dipercepat aku melihat rumah putih itu ditumbuhi tanaman rambat. Cat putih terlepas dari genggamannya. Putih menjadi abu. Abu menjadi merah. Atapnya jatuh, seperti ditarik kedalam rumah. Menengok lagi, tubuhnya tiada. Pepohonan tumbuh menggila . Semua keteraturan di abaikan oleh waktu yang menggerakkan alam. Lalu berhenti. Kini semua terlihat berbeda. Waktu bertanggung jawab atas kekacauan ini.
Dalam waktu yang berjalan tetap seorang pria bejalan kearah rumah yang sudah tidak ada lagi disana. Digengamnya seorang wanita yang berjalan sedikit dibelakangnya. Sulit dipastikan pada awalnya tapi sepertinya mereka sepasang. Ada satu pria lagi, jauh lebih muda. Pria ini mengikuti mereka dengan jarak. Lalu seorang gadis kecil terlihat. Pria ini menengok kebelakang, memanggil gadis itu. Dia menggendongnya. Alang alang terlihat setinggi dengkul mereka. Mataku mencoba menggapai lebih dekat. Ada senyuman disana. Semua wajah bersinar sama terangnya.
Seperti mempersembahkan karya yang dia buat. Dia menunjuk ke arah dimana tadinya sebuah rumah berdiri. Lalu menunjuk lagi kearahku berdiri saat ini. Aku di atas batu sebesar meja kerja ini saat wanita dengan gaun merah yang tadi genggamannya dilepas, memeluknya, melompat ketubuhnya. Mereka-lagi seperti yang aku gambarkan "Bahagia". Namun lebih bahagia dari sebelumnya. Sebuah keluarga ideal. Dua anak, ayah berkecukupan, seorang ibu yang memiliki aura penyayang.
Wajah mereka seperti mercusuar yang menembakkan cahaya ke lautan gelap. Mereka tertawa. Dalam gelak tawa mereka bangunan tersebut berdiri lagi sama persis seperti sebelumnya. Rumah putih berkilau yang tadi menjadi latar kematian kembali lagi seperti semula. Dalam laju waktu Si Gadis tadi sudah tumbuh dewasa. Sepertinya waktu melaju lagi. Banyak perayaan yang terjadi di rumah tersebut, dalam waktu yang sedang melaju cepat aku kehilangan hitungan. Dan seperti semua hal baik didunia ini. Akhir menunjukkan keberadaannya. Pemakaman. Silih berganti. Banyak tangisan dan kesedihan. Doa dan ucapan duka datang menghujani. Kini dia sendiri. Tanpa wanita yang biasa ia genggam tangannya. Tanpa Pria muda yang sering dia ajak berbincang di atas batu dibelakangku. Tanpa Gadis kecil yang semenjak sebuah perayaan besar jarang untuk kembali. Dia....sendiri. Lalu semuanya gelap.
Mimpi ini menghantuiku. Banyak kesimpulan yang aku tarik dari mimpi ini. Pagi disaat aku terbangun dari mimpi ini aku melihat kaca dan ....ya seperti yang bisa kalian tebak. Pria tua dari mimpi itu aku.