Kenapa kita mau hidup ? Kalaupun mimpi kamu nggak tercapai pada akhirnya orang nggak akan ngecap kamu sebagai kegagalan, kamu dihentikan takdir. Kalaupun keluarga kamu besok kehilangan kamu mereka akan berduka dan dengan waktu akan pulih melanjutkan hidup. Semua rasa peduli orang orang yang ada didekatmu nggak penting lagi, yang peduli akan sedih dan yang nggak peduli ngggak kenapa-kenapa. Dua duanya nggak kamu rasa lagi. Cinta. Cinta orang orang padamu nggak akan dirasa lagi, kalau kamu percaya kekuatan doa dan siksa kubur kamu bisa abaikan ini. Tapi cinta yang kita haus akan rasanya nggak akan kamu dapat lagi, kamu sendiri berjalan ke arah misteri yang tak satupun seorang bijaksana bisa pastikan. Kenapa kamu mau hidup ?
Kamu nggak punya hutang apa apa (kecuali kamu punya) terhadap umat manusia. Kamu bisa pergi semau kamu, karena kamu juga nggak punya ingatan sedikitpun kamu pernah minta hadir disini. Coba pikirin lagi, kamu didunia yang luar luar biasa besar. Apa signifikansi kamu ? Kamu bisa hilang saat ini juga dan dunia masih berputar.
Dia bilang pada saya dulu, "Kalau saya tiba tiba mati besok....saya takut dirindukan.". Kita duduk dikelas waktu itu, AC kelas dingin banget karena tiga per empat populasi kelas nggak ada ditempat seharusnya. "Saya takut kalau saya mati, keburukan saya dilupakan orang orang sedangkan kebaikan saya digembor gemborkan..." dia bilang. Iya juga pikir saya. Kalau kamu mati saat ini siapa yang bisa konfirmasi cerita cerita orang tentang kamu ? Semuanya cerita akan baik-baik aja, semua orang akan maafin kamu dan jika ada hari dimana kamu merasa sangat dicintai adalah hari pemakamanmu. Tapi sayang kamu nggak lagi bisa merasakannya. Tapi sayang cerita baik orang orang nggak bisa bikin dada kamu membusung lebih dari biasanya saat kamu jalan. Nggak ada anget2 aneh saat kamu tau kamu dicariin. Kematian memudarkan karakter kita...saat mati kita seakan akan jadi malaikat.
Apa maksud tulisan ini ? Jujur saya nggak tau. Dimasa pandemi kayak gini, pikiran tentang kematian jadi topik menarik untuk dibayangkan. Kalau saya tiba tiba ter-infeksi dan sakit, pikiran ini akan semakin menghantui. Berhubung pandemi ini belum menunjukan itikad baik untuk pamit, seharusnya kamu juga mulai memikirkan hal ini. Cuma saat sakit kita bisa menghargai sehat. Cuma saat hidup kita akan takut akan kematian. Cuma saat digerbang kematian kita bisa lebih jelas memandang kehidupan. Saya nggak mau nunggu. "Kenapa saya mau hidup ?" jadi pertanyaan pilihan saya karena jawaban untuk pertanyaan "Kenapa saya gak mau mati ?" terlalu lebar dan mudah. Mungkin kalau kamu punya alasan yang tepat untuk terus lanjut hidup-alasan yang sesuai dengan rencana tuhan, kamu akan tetap selamat. Tapi siapa yang tau ?
Kamu nggak punya hutang apa apa (kecuali kamu punya) terhadap umat manusia. Kamu bisa pergi semau kamu, karena kamu juga nggak punya ingatan sedikitpun kamu pernah minta hadir disini. Coba pikirin lagi, kamu didunia yang luar luar biasa besar. Apa signifikansi kamu ? Kamu bisa hilang saat ini juga dan dunia masih berputar.
Dia bilang pada saya dulu, "Kalau saya tiba tiba mati besok....saya takut dirindukan.". Kita duduk dikelas waktu itu, AC kelas dingin banget karena tiga per empat populasi kelas nggak ada ditempat seharusnya. "Saya takut kalau saya mati, keburukan saya dilupakan orang orang sedangkan kebaikan saya digembor gemborkan..." dia bilang. Iya juga pikir saya. Kalau kamu mati saat ini siapa yang bisa konfirmasi cerita cerita orang tentang kamu ? Semuanya cerita akan baik-baik aja, semua orang akan maafin kamu dan jika ada hari dimana kamu merasa sangat dicintai adalah hari pemakamanmu. Tapi sayang kamu nggak lagi bisa merasakannya. Tapi sayang cerita baik orang orang nggak bisa bikin dada kamu membusung lebih dari biasanya saat kamu jalan. Nggak ada anget2 aneh saat kamu tau kamu dicariin. Kematian memudarkan karakter kita...saat mati kita seakan akan jadi malaikat.
Apa maksud tulisan ini ? Jujur saya nggak tau. Dimasa pandemi kayak gini, pikiran tentang kematian jadi topik menarik untuk dibayangkan. Kalau saya tiba tiba ter-infeksi dan sakit, pikiran ini akan semakin menghantui. Berhubung pandemi ini belum menunjukan itikad baik untuk pamit, seharusnya kamu juga mulai memikirkan hal ini. Cuma saat sakit kita bisa menghargai sehat. Cuma saat hidup kita akan takut akan kematian. Cuma saat digerbang kematian kita bisa lebih jelas memandang kehidupan. Saya nggak mau nunggu. "Kenapa saya mau hidup ?" jadi pertanyaan pilihan saya karena jawaban untuk pertanyaan "Kenapa saya gak mau mati ?" terlalu lebar dan mudah. Mungkin kalau kamu punya alasan yang tepat untuk terus lanjut hidup-alasan yang sesuai dengan rencana tuhan, kamu akan tetap selamat. Tapi siapa yang tau ?