tidak dicatat melainkan diketik

Rabu, 09 Juni 2021

TikTok Creator, please stop this...

 Dear Readers, ada bagian yang kopong dalam hati saya dalam beberapa hari ini. Terasa kosong dan sedikit panas jika harus digambarkan. Sensasi bergejolak untuk menumpahkan opini yang sudah lama tidak disalurkan. Opini yang pertama adalah mengenai TikTok, ingat waktu kita bully Bowo Alpenlieble ? Look at us now. Ada rasa marah yang kian nyata yang saya rasakan mengenai fenomena ini, rasa marah yang saya juga rasakan ketika seseorang memungut kotoran kucing lalu melemparkannya kearah saya. Pertama itu menjijikan dan selanjutnya adalah perasaan bersalah bahwa mungkin ada bagian dari diri saya dan perlakuan saya yang ikut berperan dalam membentuk kepribadian orang ini. Orang yang merasa melempar kotoran kucing merupakan sesuatu yang baik, atau paling tidak patut/ pantas.

"Apakah saya menyamakan bermain TikTok sama dengan bermain kotoran kucing ??" Sebelumnya biarkan saya cerita sedikit mengenai kondisi yang saya alami saat ini. Bisa saya akui bahwa saya orang yang kecanduan YouTube (mengakui bahwa anda tidak sehat, adalah langkah awal penyembuhan), saya nggak punya genre tertentu yang jadi preferensi. Tapi kalau bicara tentang video macam apa yang saya sering menghabiskan waktu menikmatinya, video yang sifatnya entertainment seperti memes, memasak dan potongan potongan scene film maupun anime selalu terasa menggoda. Oleh karena itulah nggak heran kenapa TikTok bisa menyusup ke rekomendasi Youtube akun milik saya.

Here's the thing, awalnya saya nggak merasa bahwa itu selera saya namun dengan berjalannya waktu setelah dua atau tiga video tiktok yang saya tonton rekomendasi youtube saya penuh dengan videonya Sisca Kohl, Kallmekris dan laki laki yang nggak saya tahu siapa namanya yang kontennya tentang memasak daging ("Apa ?? rendang ???") serta pengguna TikTok luar yang kontennya tidak jarang lebih buruk dari ketiga orang yang saya sebutkan diatas. Mungkin kamu merasa "Oh itu wajar, semua orang menggunakan TikTok...", no...it's not. Alasan saya menggunakan Youtube dan bukan TikTok adalah saya mau melihat konten yang diproduksi dengan baik dan penuh pertimbangan. Konten TikTok mungkin juga sama seperti demikian, tapi entah kenapa saya nggak mendapatkan sensasi bahwa konten tersebut demikian.

Life Hack TikTok ? Sampah. Review Produk TikTok ? Sampah. Tips dan Trik TikTok ? Sampah. TikTok terasa seperti komunitas berisik yang isinya orang orang lapar akan income. Konten, Konten, Konten. Saya yakin saya nggak punya hak untuk marah marah di comment video tersebut atau report atau buat thread di twitter (karena saya juga nggak tau gimana buat thread) mengenai seberapa dongkol saya pada fenomena ini. Saya juga sadar kalau memang saya nggak suka konten tiktok dan merasa terganggu akan kehadirannya di beranda youtube, saya selalu bisa pergi ke pengaturan lalu melakukan beberapa penyesuaian dan masalah terselesaikan (yang mana saya akan lakukan setelah selesai menulis blog ini). Tapi demi tuhan, terlalu berlebihan kah saya untuk meminta anda para creator untuk menjaga apa yang dimaksudkan untuk berada di TikTok tetap di TikTok ?? Please.

Saya terdengar seperti sultan sekarang. Tapi yasudahlah, toh blog ini juga nggak ada yang baca.