Senang rasanya dapat berbagi sesuatu yang cukup berbobot. Setelah setumpuk tulisan tulisan tidak bermutu yang selalu saya post di blog ini, mendapatkan suatu topik seperti yang akan saya bahas terasa cukup menggugah semangat (dan juga kekhawatiran ?). Life is hard for stoic, paling tidak saya bicara atas nama diri sendiri. Setelah 2 tahun menerapkan ajaran untuk tidak terlalu membiarkan hal buruk untuk menjadi berpengaruh, rasanya malah hal baikpun jadi selalu bisa didekonstruksi menjadi lebih sedikit menyenangkan.
Apakah saya seorang stoic yang baik ? Nggak saya rasa, masih banyak momen dimana saya lepas dari consciousness. Pertanyaannya akan menjadi lebih tepat kalau begini, "Apa saya seorang stoic ?" seorang ikan nggak berenang kesana-kemari sambil memproklamirkan ke-"ikan-an"-nya. You know what ? saya selalu berdoa agar karya tulis saya dijauhi dari orang orang seperti Rocky Gerung. Pengamatan saya, orang akan menjadi lebih lucu dalam bertindak disekitar orang yang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang lebih tinggi. Entah tindakan yang hendak dilakukan atau yang sudah dilakukan atau yang biasa dilakukan kamu yang pilih, nggak ada limit yang bilang kamu nggak boleh ambil semuanya-boleh silahkan.
Ke-stoic-an saya akan terasa selama orang disekitar belajar sampai lembur sebelum ujian presentasi, karena jujur saja saya nggak pernah. Beda kisahnya kalau saya dikelilingi biksu yang terbiasa menjadi tenang dengan latihan meditasinya. Selalu ada ikan yang lebih besar. Stoicism dalam kasus saya menghilangkan (saya curiga) sebagian dari kecenderungan sesorang melakukan sesuatu dengan menambahkan satu langkah dalam berpikir yaitu pertanyaan diakhir keinginan yang berbunyi "so what ?". Kamu mungkin merasa hal ini terlalu dilebih-lebihkan yang mana saya setuju sekali, tapi mungkin kamu mau baca tulisan ini lebih lama.
So what ?
Ada rasa takut untuk gagal di mata kuliah Ekonomi Teknik, kemudian ding!!! yang sangat kencang dinurani sebuah pertanyaan yang berbunyi "so what ?". So what ?!? Kalau saya gagal di semester ini saya nggak bisa melakukan pengulangan disemester depan karena mata kuliah semester genap cuma bisa diulang di semester genap, kalau saya nggak bisa ngulang berarti saya nggak bisa sidang tugas akhir, kalau saya nggak bisa sidang berarti saya nggak bisa lulus sedangkan saya sekarang dalam program fast-track, saya akan dikeluarkan dari program. Oke, hal itu buruk saya pikir tapi "so what ?" toh kesempatan untuk S2 kan cuma bonus, saya nggak pernah berjuang untuk hal tersebut, kalau saya dropout pun saya akan baik baik saja karena nggak pernah berkeinginan untuk berkarir dalam artian bekerja pada orang. So what ? Mungkin hidup saya akan sulit, tapi kenapa harus takut ? hidup selalu sulit entah kamu lulusan TK, SD, SMP ataupun S3 sekalipun. So what ? Mungkin akan ada denda yang harus kamu bayar nantinya karena keluar dari program, well...saya dikeluarkan bukan keluar jadi peraturan nggak berlaku. So why bother ?
See what i mean ? dengan rentetan proses berpikir diatas akan sangat sulit untuk menemukan motivasi untuk melakukan sesuatu dan hal tersebut nggak menyenangkan pada beberapa momen. Salah satu cara menjadi stoic adalah mengerti semua kemungkinan buruk yang bisa terjadi akibat suatu kesalahan, keputusan atau kecelakaan. Ketika kamu mengenal stoic semuanya akan menjadi berbeda, nggak ada kata harus atau wajib semuanya menjadi opsional. Akan muncul lebih banyak pilihan dalam hidup kamu, lebih banyak dari yang biasanya. Stoic nggak membuat kamu jadi kebal, umpama yang saya bisa lakukan adalah dengan membayangkan seseorang menodongkan pisau kekamu, stoic nggak bikin kamu jadi punya kulit badak melainkan untuk memberikan ajaran untuk berpikir "kalau saya ketusuk organ apa yang akan rusak ? sebaiknya saya ketusuk dibagian mana ? sebaiknya saya ketusuk atau nggak" itu kayak memilih racun mana yang kamu mau cobain and that's a gift also a curse.
Tanya saya berapa banyak saya belanja online setelah menerapkan stoicism ? karena setiap kali (dan kamu boleh nggak percaya deklarasi "keikanan" saya) saya punya keingin mempunyai sesuatu ada semacam makhluk tak berwujud yang berbisik dalam proses berpikir saya yang menanyakan "untuk apa ?". Oh! jersey chelsea musim ini bagus ya, cek tokopedia deh, ih deket nih gratis ongkir lagi, wah bintang lima tokonya...................."untuk apa ?". Membangun kebiasaan akan menjadi lebih sulit lagi, ada satu trik dimana untuk membangun kebiasaan salah satu teknik yang bisa dilakukan adalah dengan meberikan diri sendiri hadiah saat mecapai tingkat tertentu dan hal ini sulit untuk dilakukan dengan pertanyaan "untuk apa ?" disetiap kali kamu mau melakukan hal yang menyenangkan.
Argumenny akan menjadi, "Bagus dong kamu jadi lebih hemat dan barang yang kamu beli/punya jadi lebih produktif...", saya akan bilang iya dan nggak. Kalau kamu menghadiahi diri kamu sebuah pensil dengan alasan agar memudahkan kamu menggambar that's not a effing gift ! that's a purchase and theres only a dust of fun in it.
So you judge, apakah belajar dan mengamalkan stoicism worth it ? Karena sekali kamu nyebur, kamu nggak bisa kering lagi.