tidak dicatat melainkan diketik

Selasa, 27 Juli 2021

Stoicism : setelah 2 tahun menjalani

 Senang rasanya dapat berbagi sesuatu yang cukup berbobot. Setelah setumpuk tulisan tulisan tidak bermutu yang selalu saya post di blog ini, mendapatkan suatu topik seperti yang akan saya bahas terasa cukup menggugah semangat (dan juga kekhawatiran ?). Life is hard for stoic, paling tidak saya bicara atas nama diri sendiri. Setelah 2 tahun menerapkan ajaran untuk tidak terlalu membiarkan hal buruk untuk menjadi berpengaruh, rasanya malah hal baikpun jadi selalu bisa didekonstruksi menjadi lebih sedikit menyenangkan.

Apakah saya seorang stoic yang baik ? Nggak saya rasa, masih banyak momen dimana saya lepas dari consciousness. Pertanyaannya akan menjadi lebih tepat kalau begini, "Apa saya seorang stoic ?" seorang ikan nggak berenang kesana-kemari sambil memproklamirkan ke-"ikan-an"-nya. You know what ? saya selalu berdoa agar karya tulis saya dijauhi dari orang orang seperti Rocky Gerung. Pengamatan saya, orang akan menjadi lebih lucu dalam bertindak disekitar orang yang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang lebih tinggi. Entah tindakan yang hendak dilakukan atau yang sudah dilakukan atau yang biasa dilakukan kamu yang pilih, nggak ada limit yang bilang kamu nggak boleh ambil semuanya-boleh silahkan. 

Ke-stoic-an saya akan terasa selama orang disekitar belajar sampai lembur sebelum ujian presentasi, karena jujur saja saya nggak pernah. Beda kisahnya kalau saya dikelilingi biksu yang terbiasa menjadi tenang dengan latihan meditasinya. Selalu ada ikan yang lebih besar. Stoicism dalam kasus saya menghilangkan (saya curiga) sebagian dari kecenderungan sesorang melakukan sesuatu dengan menambahkan satu langkah dalam berpikir yaitu pertanyaan diakhir keinginan yang berbunyi "so what ?". Kamu mungkin merasa hal ini terlalu dilebih-lebihkan yang mana saya setuju sekali, tapi mungkin kamu mau baca tulisan ini lebih lama.

So what ?

Ada rasa takut untuk gagal di mata kuliah Ekonomi Teknik, kemudian ding!!! yang sangat kencang dinurani sebuah pertanyaan yang berbunyi "so what ?". So what ?!? Kalau saya gagal di semester ini saya nggak bisa melakukan pengulangan disemester depan karena mata kuliah semester genap cuma bisa diulang di semester genap, kalau saya nggak bisa ngulang berarti saya nggak bisa sidang tugas akhir, kalau saya nggak bisa sidang berarti saya nggak bisa lulus sedangkan saya sekarang dalam program fast-track, saya akan dikeluarkan dari program. Oke, hal itu buruk saya pikir tapi "so what ?" toh kesempatan untuk S2 kan cuma bonus, saya nggak pernah berjuang untuk hal tersebut, kalau saya dropout pun saya akan baik baik saja karena nggak pernah berkeinginan untuk berkarir dalam artian bekerja pada orang. So what ? Mungkin hidup saya akan sulit, tapi kenapa harus takut ? hidup selalu sulit entah kamu lulusan TK, SD, SMP ataupun S3 sekalipun. So what ? Mungkin akan ada denda yang harus kamu bayar nantinya karena keluar dari program, well...saya dikeluarkan bukan keluar jadi peraturan nggak berlaku. So why bother ? 

See what i mean ? dengan rentetan proses berpikir diatas akan sangat sulit untuk menemukan motivasi untuk melakukan sesuatu dan hal tersebut nggak menyenangkan pada beberapa momen. Salah satu cara menjadi stoic adalah mengerti semua kemungkinan buruk yang bisa terjadi akibat suatu kesalahan, keputusan atau kecelakaan. Ketika kamu mengenal stoic semuanya akan menjadi berbeda, nggak ada kata harus atau wajib semuanya menjadi opsional. Akan muncul lebih banyak pilihan dalam hidup kamu, lebih banyak dari yang biasanya. Stoic nggak membuat kamu jadi kebal, umpama yang saya bisa lakukan adalah dengan membayangkan seseorang menodongkan pisau kekamu, stoic nggak bikin kamu jadi punya kulit badak melainkan untuk memberikan ajaran untuk berpikir "kalau saya ketusuk organ apa yang akan rusak ? sebaiknya saya ketusuk dibagian mana ? sebaiknya saya ketusuk atau nggak" itu kayak memilih racun  mana yang kamu mau cobain and that's a gift also a curse.

Tanya saya berapa banyak saya belanja online setelah menerapkan stoicism ? karena setiap kali (dan kamu boleh nggak percaya deklarasi "keikanan" saya) saya punya keingin mempunyai sesuatu ada semacam makhluk tak berwujud yang berbisik dalam proses berpikir saya yang menanyakan "untuk apa ?". Oh! jersey chelsea musim ini bagus ya, cek tokopedia deh, ih deket nih gratis ongkir lagi, wah bintang lima tokonya...................."untuk apa ?". Membangun kebiasaan akan menjadi lebih sulit lagi, ada satu trik dimana untuk membangun kebiasaan salah satu teknik yang bisa dilakukan adalah dengan meberikan diri sendiri hadiah saat mecapai tingkat tertentu dan hal ini sulit untuk dilakukan dengan pertanyaan "untuk apa ?" disetiap kali kamu mau melakukan hal yang menyenangkan.

Argumenny akan menjadi, "Bagus dong kamu jadi lebih hemat dan barang yang kamu beli/punya jadi lebih produktif...", saya akan bilang iya dan nggak. Kalau kamu menghadiahi diri kamu sebuah pensil dengan alasan agar memudahkan kamu menggambar that's not a effing gift ! that's a purchase and theres only a dust of fun in it.

So you judge, apakah belajar dan mengamalkan stoicism worth it ? Karena sekali kamu nyebur, kamu nggak bisa kering lagi. 

Minggu, 18 Juli 2021

Clean the past

 Barusan saya mengirim pesan via whatsapp ke penanggung jawab kelas untuk menanyakan perbaikan nilai, rencananya sekalian untuk menanyakan perihal pembayaran uang kuliah semester lalu yang statusnya masih cicil di semester 4 yang lalu. Hari ini saya berupaya mengambil langkah untuk membereskan masa lalu yang sifatnya masih menggantung, berbulan bulan sudah menghindar saya rasa sekarang saatnya.

Mendewasakan diri katanya dilakukan dengan mengurangi sifat kekanak-kanakan, saya rasa ada betulnya. Menghindar dari masalah merupakan sifat kekanak-kanakan. Kenapa hari ini ? Mungkin dari buku Jordan Peterson "12 Rules For Life" yang tadi malam saya baca. Bagian bukunya yang bercerita aturan nomor 10 (atau 11?) bilang "Be Precise at Your Speech", bercerita bahwa kehidupan itu sederhana selama semuanya dalam kontrol. Bicara tentang kontrol tersebut bisa kapan saja hilang dan keadaan darurat muncul dimana kita mulai menanyakan segala hal.

Darurat atau Emergency dalam bahasa inggris berasal dari kata Emergence yang artinya kemunculan. Muncul dapat dipahami bahwa apapun yang muncul nanti, hal tersebut sudah ada disana sejak lama. Memahami bahwa sensasi kehidupan yang sederhana pada dasarnya terasa seperti berdiri diatas lapisan es di danau yang membeku, kita bisa bicara tentang tebal tipisnya nanti tapi yang jelas dibawah sana selama ada air mendekati titik beku berdiri diatasnya tidak selamanya akan aman.

Be Precise at Your Speech pada dasarnya merupakan saran atau aturan yang ditetapkan oleh Jordan Peterson untuk pembacanya agar terhindar dari kekacauan dalam hidup, saran yang satu ini bicara tentang komunikasi. Lakukan komunikasi mengenai keresahan yang kamu miliki dengan orang yang kamu rasa punya kapabilitas untuk memperbaiki atau memberikan solusi atas permasalahan tersebut, entah sekecil apapun keresahan tersebut kamu dapat memutuskan sendiri kapan harus menunggu kapan harus melepaskan. Tuhan tahu nilai dan status pembayaran uang kuliah saya sangat mampu untuk dapat digolongkan sebagai meresahkan.

Pertanyaan selanjutnya akan jadi, kenapa saya selama ini menunggu ? Jawabannya adalah, entahlah saya juga kurang paham. Saya rasa kecenderungan kepribadian saya untuk enggan merepotkan orang lain memiliki sumbangsih terhadap hal ini. Mungkin obsesi saya dengan karakter Thomas Shelby juga berpengaruh, filosofinya adalah menggunakan hal buruk sebagai senjata dimasa depan. Tadinya saya mau menggunakan faktor nilai saya supaya bisa bebas dari kewajiban melanjutkan studi S2, tapi saya memutuskan untuk memang mau lanjut ke S2 jadi senjata ini tidak ada fungsinya lagi. Oh my manipulative self...

Kamis, 08 Juli 2021

Untuk saya ditahun 2024 nanti

 rasanya lesu belakangan ini, mungkin karena bengkel juga sedang tidak ada kerjaan. Satu hal yang membuatku heran, malu dan sedikit takut. Ketika dipenuhi kewajiban, ada bagian kecil dalam kesadaran yang terus terusan berteriak meminta pembebasan. Bukan dikarenakan lelah atau bosan, setahu saya untuk alasan pengembangan diri. Waktu yang lengang menghadirkan kesempatan, untuk menjadi atau membuat atau merubah entah apa yang saya saat ini menjadi. Untuk jadi lebih baik atau sekedar berbeda dari yang kemarin atau saat ini, perubahan menghadirkan semangat, pengharapan baru untuk meraih-merasa dan menggapai hal yang saat ini masih angan angan.

Ketika kesempatan memunculkan dirinya, saya bersembunyi dibalik selimut tebal. Kipas menyala, mata tertuju pada layar segenggam teknologi yang juga sama sama penuh pengharapan dan kesempatan. Merasa buruk ? mari bertaruh. Perasaan jijik dan muak akan diri sangat menggerogoti, meskipun begitu saya tetap disini. Memandangi kehidupan bodoh manusia di seberang dunia, konten katanya-sambil berfikir bahwa orang orang bodoh ini lebih baik dari saya. Mereka punya kehidupan disana, punya sumber penghidupan, pasangan, rumah dan barang barang yang mereka sukai- sementara saya disini masih berangan angan dan bergelut dengan pikiran benci diri sendiri. Fakta ini membawa saya ke beberapa tempat, alam mimpi salah satunya.

Sore ini saya menulis ini untuk memecut sesuatu yang saya harap masih ada didalam sana. Semacam semangat yang berdebu, yang kobarannya semakin kecil tiap hari. Semacam proklamasi pada dunia, walaupun yang dengar juga tidak ada. Tiga tahun dari sekarang, saya akan cukup punya harta yang saya harap memungkinkan untuk membeli 10 mobil VW POLO 2021 dan saya harap disaat ini tercapai saya mampu merasa sedikit lebih baik dari saat ini. Itu proklamasinya dan sebuah harapan, tolong jaga orang orang dan juga hewan hewan  yang saya sayangi. Kesadaran bahwa perjalanan ini sulit bukan sesuatu yang perlu kamu khawatirkan, saya paham ini sulit dan jika perlu untuk meraih ini dengan menghilangkan beberapa bagian dari kenyamanan saya saat ini tidak masalah tapi tolong jaga keluarga saya. Saya mohon. Tuhan.