tidak dicatat melainkan diketik

Jumat, 23 Desember 2022

Tahun Ini

Tahun ini Haruki Murakami banyak mempegaruhi jalan pikirku. Kafka on the Shore dan 1Q84 banyak memberi pelajaran namun secara bersamaan mengambil beberapa bagian dari diri saya. Ambisi salah satu hal yang diambil.

Saya memulai tahun ini dengan semangat untuk meraih ini dan itu, setelah menyelesaikan studi S1 rasanya cukup lega dan bebas-"Mulai saat ini saya bisa melakukan apapun yang saya mau" itu yang saya pikirkan. Seakan lupa bahwa ada studi S2 yang harus saya selesaikan. Semester pertama S2 tidak terlalu terasa dan ringan, tidak ada yang terlalu berat. Mungkin pengaruh banyak hal, kecurigaan saya jatuh pada timingnya yang langsung tidak lama setelah kelulusan saya di Tugas Akhir. Sedangkan semester 2 adalah hal paling berat yang saya jalani sepanjang hidup ini. 

Bagian ini mengajarkan saya tentang kebiasaan dan momentum. Kedua hal tersebut mempengaruhi seseorang lebih kuat dan hebat dari yang biasa saya pahami. Seorang pecandu rokok akan sulit untuk begitu saja melepas kegemarannya bernafas dalam asap. Motivasi adalah kebohongan belaka. Kata-kata, pemahaman, filosofi dan jalan hidup tidak mempengaruhi kita sekuat kebiasaan. 

Hal ini mengajarkan saya, apapun yang saya ingin menjadi hal tersebut tidak akan terjadi dalam satu keputusan. Saya adalah kapal pesiar, arah kapal ini adalah akumulasi antara belokan perlahan yang dilakukan dalam rentang waktu. Perlambatan dan percepatan diraih dengan waktu. Kata kata "Tidak ada yang instan" yang biasanya saya benci jadi sedikit dapat diterima dan jadi bagian hidup saya tahun ini. Kita adalah akumulasi dari keputusan keputusan yang kita buat di waktu yang lalu, bukan saat ini ataupun besok.

Kemudian tentang hubungan. Pertemanan adalah hal yang baru saya rasakan nilainya tahun ini. Novel Haruki Murakami 1Q84 dan Kafka On The Shore menceritakan tentang kesendirian lebih detail dari buku buku yang pernah saya baca sebelumnya. Bukan sebuah pujian yang terlalu dapat dibanggakan oleh Murakami mengingat saya juga tidak terlalu banyak memiliki ingatan terhadap buku yang sudah dibaca. 

Saya biasa berpikir bahwa menjadi seorang Lone Wolf adalah hal yang keren. Semua tantangan dihadapi sendiri dan semua pencapaian adalah hasil keringat sendiri. Jujur saja saya masih berpikir demikian, sedikit. Tapi hal itu saya belajar merupakan mitos lainnya, semacam cerita superhero yang kita pandang keren dan ideal. Kenyataan bahwa kita berjalan sejauh ini dengan bantuan walaupun sedikit dari orang lain perlu selalu kita pertimbangkan sebelum memanggil diri sebagai Lone Wolf. 

Mungkin saya menyerah untuk menjadi seseorang seperti itu, saya menemukan lebih mudah untuk memiliki orang lain untuk berjalan bersama. Untuk menggapai tangan saya saat jatuh dan berkumpul saat dingin. Pertemanan dan percintaan adalah hal baru yang saya sadari tahun ini. Untuk menerima rasa peduli, sayang dan cinta orang lain dan menuliskannya kedalam akun tabungan kamu untuk nanti pada saat yang tepat kamu berikan kembali kepada orang yang sama ataupun orang lain yang kamu lihat butuh.

Saya jadi teringat pertanyaan "Do you prefer to be loved or to be respected ?", jawaban saya sekarang adalah Loved. Bukan saya yang memilih bagaimana orang lain melihat diri saya, beberapa akan mengagumi bagaimana saya hidup sejauh ini dan beberapa akan merasakan rasa sayang terhadap cara saya memperlakukan mereka. That's my theory, rasa kagum datang dari bagaimana kamu memperlakukan diri kamu sendiri dan rasa sayang datang dari bagaimana kamu memperlakukan orang lain. 

Pemahaman saya saat ini adalah bagaimana caranya untuk keras pada diri sendiri namun lembut pada orang lain. For the next couple years, itu yang akan saya lakukan. Mengenai alasan kenapa saya lebih memilih untuk disayangi adalah rasanya menyenangkan, itu saja. Lagipula orang yang mengagumi kita lebih sering tidak melakukan apa apa dibandingkan yang menyayangi.

Yang terakhir adalah, kita tidak bisa hanya menunggu. Quotes dari Haruki Murakami yang satu ini rasanya sangat optimis, "But we can't simply sit and staring at our wounds forever". Saya belajar untuk jangan menunggu waktu mengisi kekosongan yang saya miliki. Untuk mencari, tmenampilkan diri, menunjukan diri dan mendengarkan pendapat orang lain. Saya ditolak, saya juga merasa dipermalukan. Terima semua pulih dan luka yang terus datang di pencarianmu. Untuk yang satu ini saya masih lakukan di jejaring sosial, rasanya bertemu dan berbincang dengan orang acak dengan berbagai latar belakang adalah pengalaman yang unik. Beberapa berlanjut menjadi teman, beberapa memiliki potensi menjadi lebih, beberapa menjadi lebih dan beberapa langsung hilang setelah melihat rupa saya. Thats fine, saya bukan Ryan Gosling.

Jangan menunggu juga saya pelajari dari usaha jasa tekuk yang saya jalankan saat ini, saya memasang informasi mengenai bisnis di google maps dan orang orang menemukan saya. Mempercayai saya dengan pekerjaan dan saya sepanjang tahun ini terus berusaha agar tidak mengecewakan satupun dari mereka. Kadang berhasil, kadang gagal. Permintaan maaf selalu menenangkan hati, bukan berarti tidak berargumen mempertahankan posisi namun permintaan maaf selalu bisa mendamaikan perseteruan baik ketika posisi menang maupun kalah. 

Saya selalu ingin menjadi seseorang yang memiliki beberapa bisnis yang menjadi sumber penghasilan-hal ini tidak bisa terjadi dalam satu keputusan. Saya akan menjadi orang itu, bukan 5 tahun dari sekarang bukan juga 10 tahun dari sekarang-saya akan tumbuh menjadi orang itu dalam jumlah 0,0005% di setiap keputusan yang saya ambil. Bukan tingkat pertumbuhan yang pesat, namun dengan waktu di sisiku suatu hari nanti saya akan dengan bangga memproklamirkan di blog ini bahwa akhirnya saya melewati batas 50% kemudian 60% kemudian 70% dan terus dan terus. Watch it.

Take and Give. Terima semua kebaikan yang dunia ini tawarkan, jadilah lumbung kebaikan berjalan yang siap memberi saat menemui yang butuh. Tahun 2022 adalah tahun yang menyenangkan, namun juga menyedihkan karena pulangnya ke rahmatullah mbah putri, bude Endang dan keponakan keponakan saya.