tidak dicatat melainkan diketik

Jumat, 03 Januari 2025

New year, new me?


 Judul yang klise dan juga ngga saya percayai. Hari ini bengkel sedang santai, ada pekerjaan yang bisa dikerjakan sebenarnya tapi bukan yang urgent. Jadi saya berangkat agak siang dan ngga banyak melakukan hal yang produktif. "Ngga banyak" juga sebenarnya melebih-lebihkan. There's a few things on my mind actually. Let's sort things out.

Yang pertama adalah planning. Kita menutup tahun lalu dengan rasa syukur dan flashback. Seakan mencoba mencari makna dari tahun lalu dan membanggakan pencapaian pencapaian kecil yang diraih. Bukan hal yang buruk sebetulnya, namun saya cuma ingin menghindari terbawa arus dengan berpikir semua yang terjadi tahun lalu terjamin kembali terjadi di tahun yang akan datang.

Nyatanya kehidupan tidak menjanjikan hal itu. Jalannya waktu memberikan naik turun yang pasti terhadap apapun. Ekonomi, kesehatan, hubungan asmara dan hubungan dengan keluarga, you name it. Jangan terlalu keras terhadap diri sendiri mereka bilang, namun kalau kita kembali mengulik lebih dalam di ambisi yang orang orang punya untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu apakah itu sebenarnya yang terjadi? 

Saya senang berpikir bahwa kenyamanan cenderung menjadi kebutuhan dan bukannya cara untuk menyayangi sesuatu atau seseorang adalah dengan mencukupi kebutuhannya dan memberikan kenyamanan dengan kadar yang mampu kita berikan dari waktu ke waktu. Oleh karenanya saya yakin terus menerus memiliki target yang lebih tinggi tiap tahun bukan sebuah kekejaman terhadap diri sendiri melainkan sebuah pertanggung jawaban untuk menjaga sesuatu yang mana adalah diri kita sendiri dan mungkin dalam perjalanannya kita bisa melakukan hal yang sama untuk orang orang yang kita sayangi.

Sebagai usaha mencoba mengulangi level pencapaian yang sama dengan tahun lalu, beberapa hal sederhana akan saya tetapkan sebagai target tahun ini. This, I will do perhaps tonight.

Yang kedua adalah urgensi. Ada beberapa hal yang terlantarkan yang terus menghantui saya mengenai kemungkinannya menggigit saya di bokong. Contohnya adalah ijazah, mungkin saya terlalu idealis dalam beberapa hal. Kepercayaan bahwa kemampuan seseorang tidak dihasilkan dari secarik kertas legal yang diberikan dari sekian lama waktu yang dianggarkan untuk mengikuti program pendidikan. Saya juga ngga percaya bahwa kemampuan seseorang secara natural terukir hasil dari mengikuti serangkaian kelas dan ujian. Oleh karena hal hal ini ijazah saya masih belum diambil hingga detik post ini ditulis.

Untuk mengurusnya ada beberapa orang yang harus saya hubungi dan beberapa langkah yang harus saya lewati dan beberapa bill yang saya harus bayar. Hal ini juga tidak membantu memberikan tugas menyelesaikan ijazah ini yang mana urgensinya rendah ditambah dengan halangan yang tinggi menjadi hal yang begitu sexy untuk dilakukan.

Hal yang dapat dipelajari dari hal ini adalah hubungan urgensi dan halangan terhadap kemampuan kita menyelesaikan suatu tugas. 

LOW URGENCY+HIGH RESISTANCE = PROCRASTINATION

Sebagaimana seorang pekerja yang melaksanakan tugasnya dengan harapan adanya kompensasi yang manis untuk waktu dan usaha yang diberikan. Saya yakin kemauan kita dalam menjalankan sebuah tugas memiliki sifat yang sama. Permasalahannya adalah saya, manusia idealis yang tidak melihat kebanggaan apapun dalam secarik kertas bernama ijazah. So, why bother? Kecuali ijazah menjadi penting untuk meraih target yang sudah saya tetapkan untuk tahun ini. Jadi saya rasa saya akan menyelesaikan tugas mengurus ijazah ini-tahun ini. Insyaallah :)

Yang ketiga adalah kejutan sebagai elemen yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Tidak ada jaminan semua hal akan berjalan sesuai rencana. Selalu ada kemungkinan bahwa mengurus ijazah sebagai contoh bisa menjadi sangat buruk lebih dari dugaan. Ngga ada yang bisa kita lakukan dengan hal ini kecuali dengan menghadapinya head on. Kemudian memberikan waktu untuk memproses kejutan apa yang menunggu kita dan opsi opsi yang kita punya untuk mengatasi permasalahan yang datang bersamanya.

Banyak hal cenderung tidak bisa diantisipasi, beberapa melumpuhkan kita untuk sekedar menjalani fungsi lain yang tidak ada hubungannya dengan kekhawatiran tersebut. Untuk yang ini saya pun masih perlu belajar bagaimana menghadapinya.

Cheers.