Pernah nggak sih merasa kaya Kincir Air ?
Air terasa kayak datang terus menerus dan pergi perlahan, sedangkan lo terus berputar. Berputar untuk tetap menghidupkan lampu pijar yang menghangatkan telur ayam di daerah terdalam di hutan terlembab.
Terus menangkap air, merasakan sejuknya dan menikmati gemercik suaranya. Namun massa air membuatmu lenganmu berputar hingga menjatuhkannya. Menyatukannya dengan sungai memori yang mengalir entah kemana. Berjanji untuk takkan lupa, namun ketika mencoba melihatnya kembali mendapati air bukan sesuatu yang berwarna. Semua terasa sama.
Dingin-nya hujan mungkin membuatmu menggigil, namun makin banyak air yang datang, membuat lampu berpijar makin terang seiring semakin cepat lengan berputar. Tanpa melihat air yang tertangkap, kita membuangnya begitu cepat tanpa bilang apa-apa. Mereka hadir, mereka membuatmu bergerak, walau tanpa dikenal dan mengenal.
Dan ada saatnya ketika air terjun dengan tenang dan matahari bersinar terang begitu hangatnya. Memberi waktu lebih lama untukmu menikmati detik demi detik dengan air yang tertangkap, mendengar cerita petualangannya dan pantulan sinar matahari yang amat indah pada permukaannya. Walau pada akhirnya harus melepasnya untuk kembali melanjutkan petualangan. Menangis ketika melepasnya, berjanji untuk tidak saling melupakan dan bilang "Sampai jumpa lagi !".
Kehilangan membuatmu gila, berpikir untuk berhenti atau berharap hancur tertimpa sesuatu dan bangkai-mu menyatu dengan air sungai. Namun saat itu tak kunjung datang.... rasa putus asa menyerang as kincir-mu, membuatnya berkarat. Membuat lengan kincir-mu lumpuh tak bergerak. Saat ketidakberdayaan menggerogoti, terdengar bunyi retakkan berasal dari dalam tubuhmu.
Suara yang berbeda dengan kayu penyokong yang patah, lebih halus. Dan ketika angin dingin masuk ke sela sela tubuh reot-mu ketakutanmu menjadi nyata, itu adalah telur yang selama ini anda sinari. Jatuh, pecah, membusuk, tak lagi berharga. Keputusasa-an menghancurkan segalanya, ketika sadar lenganmu telah hancur anda kehilangan semuanya. Air jernih yang selalu menghadirkan kesejukan, alasan kehadiranmu dan bagian dari dirimu sendiri.
Rasa tidak mempunyai membuatmu menyadari apa yang benar benar berharga, menciptakan penyesalan menyakitkan tanpa jalan keluar. Kedinginan dalam penantian kehancuran ditemani angin mulai menerbangkan kulit kayu pembungkus tubuh, hancur tanpa bentuk indah apapun. Air yang biasa menemani, sekarang hanya lewat acuh tak acuh. Mengalir dengan lurusnya, tanpa rasa kehilangan apapun seperti yang anda harapkan.
Anda coba berteriak "tolong" lewat reot besi tulangan anda yang tersisa. Siang malam tanpa jawaban, membuat anda berteriak lebih keras dan lebih keras lagi. Namun karat membunuh tulang mu, membuatmu runtuh tersungkur di ilalang pinggir sungai. Ketika anda berharap mampu menyentuh air lagi, anda menemukan kenyataan bahwa anda semakin jauh darinya. Air yang selalu menyejukkan. .
Terjaga sepanjang malam, menangisi keadaan. Sampai malam mulai membutakan, kegelapan membungkus tubuh tak berguna yang hancur seperti sebuah kain kafan yang menyisakan wajah mu untuk melihat kelangit. Tak lama kemudian seberkas cahaya terlihat, cahaya yang semakin terang setiap kali matamu berkedip, cahaya yang menuntun ke pagi yang amat sejuk. Sampai akhirnya kamu merasakan lagi sesuatu yang dulu menjadi keseharianmu, sesuatu yang menghancurkanmu juga.
Embun pagi yang bersandar di tulang tulang hancur ini adalah air. Air mendatangimu dengan cara yang berbeda, setiap pagi menjadi waktunya untuk bercerita sebelum akhirnya pergi lagi. Lagi, lagi dan lagi. Berulang seperti dulu, saat kamu masih sebuah bangunan kokoh.
Lanjut ke Part 2...yang belom gua tulis
Air terasa kayak datang terus menerus dan pergi perlahan, sedangkan lo terus berputar. Berputar untuk tetap menghidupkan lampu pijar yang menghangatkan telur ayam di daerah terdalam di hutan terlembab.
Terus menangkap air, merasakan sejuknya dan menikmati gemercik suaranya. Namun massa air membuatmu lenganmu berputar hingga menjatuhkannya. Menyatukannya dengan sungai memori yang mengalir entah kemana. Berjanji untuk takkan lupa, namun ketika mencoba melihatnya kembali mendapati air bukan sesuatu yang berwarna. Semua terasa sama.
Dingin-nya hujan mungkin membuatmu menggigil, namun makin banyak air yang datang, membuat lampu berpijar makin terang seiring semakin cepat lengan berputar. Tanpa melihat air yang tertangkap, kita membuangnya begitu cepat tanpa bilang apa-apa. Mereka hadir, mereka membuatmu bergerak, walau tanpa dikenal dan mengenal.
Dan ada saatnya ketika air terjun dengan tenang dan matahari bersinar terang begitu hangatnya. Memberi waktu lebih lama untukmu menikmati detik demi detik dengan air yang tertangkap, mendengar cerita petualangannya dan pantulan sinar matahari yang amat indah pada permukaannya. Walau pada akhirnya harus melepasnya untuk kembali melanjutkan petualangan. Menangis ketika melepasnya, berjanji untuk tidak saling melupakan dan bilang "Sampai jumpa lagi !".
Kehilangan membuatmu gila, berpikir untuk berhenti atau berharap hancur tertimpa sesuatu dan bangkai-mu menyatu dengan air sungai. Namun saat itu tak kunjung datang.... rasa putus asa menyerang as kincir-mu, membuatnya berkarat. Membuat lengan kincir-mu lumpuh tak bergerak. Saat ketidakberdayaan menggerogoti, terdengar bunyi retakkan berasal dari dalam tubuhmu.
Suara yang berbeda dengan kayu penyokong yang patah, lebih halus. Dan ketika angin dingin masuk ke sela sela tubuh reot-mu ketakutanmu menjadi nyata, itu adalah telur yang selama ini anda sinari. Jatuh, pecah, membusuk, tak lagi berharga. Keputusasa-an menghancurkan segalanya, ketika sadar lenganmu telah hancur anda kehilangan semuanya. Air jernih yang selalu menghadirkan kesejukan, alasan kehadiranmu dan bagian dari dirimu sendiri.
Rasa tidak mempunyai membuatmu menyadari apa yang benar benar berharga, menciptakan penyesalan menyakitkan tanpa jalan keluar. Kedinginan dalam penantian kehancuran ditemani angin mulai menerbangkan kulit kayu pembungkus tubuh, hancur tanpa bentuk indah apapun. Air yang biasa menemani, sekarang hanya lewat acuh tak acuh. Mengalir dengan lurusnya, tanpa rasa kehilangan apapun seperti yang anda harapkan.
Anda coba berteriak "tolong" lewat reot besi tulangan anda yang tersisa. Siang malam tanpa jawaban, membuat anda berteriak lebih keras dan lebih keras lagi. Namun karat membunuh tulang mu, membuatmu runtuh tersungkur di ilalang pinggir sungai. Ketika anda berharap mampu menyentuh air lagi, anda menemukan kenyataan bahwa anda semakin jauh darinya. Air yang selalu menyejukkan. .
Terjaga sepanjang malam, menangisi keadaan. Sampai malam mulai membutakan, kegelapan membungkus tubuh tak berguna yang hancur seperti sebuah kain kafan yang menyisakan wajah mu untuk melihat kelangit. Tak lama kemudian seberkas cahaya terlihat, cahaya yang semakin terang setiap kali matamu berkedip, cahaya yang menuntun ke pagi yang amat sejuk. Sampai akhirnya kamu merasakan lagi sesuatu yang dulu menjadi keseharianmu, sesuatu yang menghancurkanmu juga.
Embun pagi yang bersandar di tulang tulang hancur ini adalah air. Air mendatangimu dengan cara yang berbeda, setiap pagi menjadi waktunya untuk bercerita sebelum akhirnya pergi lagi. Lagi, lagi dan lagi. Berulang seperti dulu, saat kamu masih sebuah bangunan kokoh.
Lanjut ke Part 2...yang belom gua tulis




