tidak dicatat melainkan diketik

Senin, 03 Oktober 2016

Kincir Air

Pernah nggak sih merasa kaya Kincir Air ?

Air terasa kayak datang terus menerus dan pergi perlahan, sedangkan lo terus berputar. Berputar untuk tetap menghidupkan lampu pijar yang menghangatkan telur ayam di daerah terdalam di hutan terlembab.

Terus menangkap air, merasakan sejuknya dan menikmati gemercik suaranya. Namun massa air membuatmu lenganmu berputar hingga menjatuhkannya. Menyatukannya dengan sungai memori yang mengalir entah kemana. Berjanji untuk takkan lupa, namun ketika mencoba melihatnya kembali mendapati air bukan sesuatu yang berwarna. Semua terasa sama.

Dingin-nya hujan mungkin membuatmu menggigil, namun makin banyak air yang datang, membuat lampu berpijar makin terang seiring semakin cepat lengan berputar. Tanpa melihat air yang tertangkap, kita membuangnya begitu cepat tanpa bilang apa-apa. Mereka hadir, mereka membuatmu bergerak, walau tanpa dikenal dan mengenal.

Dan ada saatnya ketika air terjun dengan tenang dan matahari bersinar terang begitu hangatnya. Memberi waktu lebih lama untukmu menikmati detik demi detik dengan air yang tertangkap, mendengar cerita petualangannya dan pantulan sinar matahari yang amat indah pada permukaannya. Walau pada akhirnya harus melepasnya untuk kembali melanjutkan petualangan. Menangis ketika melepasnya, berjanji untuk tidak saling melupakan dan bilang "Sampai jumpa lagi !".

Kehilangan membuatmu gila, berpikir untuk berhenti atau berharap hancur tertimpa sesuatu dan bangkai-mu menyatu dengan air sungai. Namun saat itu tak kunjung datang.... rasa putus asa menyerang as kincir-mu, membuatnya berkarat. Membuat lengan kincir-mu lumpuh tak bergerak. Saat ketidakberdayaan menggerogoti, terdengar bunyi retakkan berasal dari dalam tubuhmu.

Suara yang berbeda dengan kayu penyokong yang patah, lebih halus. Dan ketika angin dingin masuk ke sela sela tubuh reot-mu ketakutanmu menjadi nyata, itu adalah telur yang selama ini anda sinari. Jatuh, pecah, membusuk, tak lagi berharga. Keputusasa-an menghancurkan segalanya, ketika sadar lenganmu telah hancur anda kehilangan semuanya. Air jernih yang selalu menghadirkan kesejukan, alasan kehadiranmu dan bagian dari dirimu sendiri.

Rasa tidak mempunyai membuatmu menyadari apa yang benar benar berharga, menciptakan penyesalan menyakitkan tanpa jalan keluar. Kedinginan dalam penantian kehancuran ditemani angin mulai menerbangkan kulit kayu pembungkus tubuh, hancur tanpa bentuk indah apapun. Air yang biasa menemani, sekarang hanya lewat acuh tak acuh. Mengalir dengan lurusnya, tanpa rasa kehilangan apapun seperti yang anda harapkan.

Anda coba berteriak "tolong" lewat reot besi tulangan anda yang tersisa. Siang malam tanpa jawaban, membuat anda berteriak lebih keras dan lebih keras lagi. Namun karat membunuh tulang mu, membuatmu runtuh tersungkur di ilalang pinggir sungai. Ketika anda berharap mampu menyentuh air lagi, anda menemukan kenyataan bahwa anda semakin jauh darinya. Air yang selalu menyejukkan. .

Terjaga sepanjang malam, menangisi keadaan. Sampai malam mulai membutakan, kegelapan membungkus tubuh tak berguna yang hancur seperti sebuah kain kafan yang menyisakan wajah mu untuk melihat kelangit. Tak lama kemudian seberkas cahaya terlihat, cahaya yang semakin terang setiap kali matamu berkedip, cahaya yang menuntun ke pagi yang amat sejuk. Sampai akhirnya kamu merasakan lagi sesuatu yang dulu menjadi keseharianmu, sesuatu yang menghancurkanmu juga.

Embun pagi yang bersandar di tulang tulang hancur ini adalah air. Air mendatangimu dengan cara yang berbeda, setiap pagi menjadi waktunya untuk bercerita sebelum akhirnya pergi lagi. Lagi, lagi dan lagi. Berulang seperti dulu, saat kamu masih sebuah bangunan kokoh.


Lanjut ke Part 2...yang belom gua tulis

Minggu, 25 September 2016

Perempatan

Ini beberapa hari setelah buku pesanan gua sampe. Dan setelah baca beberapa bagian awal dari buku itu, ada sesuatu yang nggak bisa gua tahan untuk gua tulis di blog ini.

Ini tentang buku gua yang baru beberapa hari lalu sampe, buku berjudul "7 Habits of Highly Effective People" yang menyita perhatian gua beberapa bulan terakhir. Setelah nabung beberapa minggu akhirnya bisa kebeli juga..... Bukan bagian dimana gua nabung yang mau gua tulis, tapi tentang apa yang gua baca pada beberapa bagian awal yang gua rasa menyabet pikiran gua. Menimbulkan bekas yang cukup dalam di kepala gua.

Bagian awal buku ini bercerita tentang adanya pengaruh luar biasa paradigma terhadap hidup manusia. Mungkin bakal ngebosenin kalo gua tulis gimana, jadi biar gua kasih contoh.
Gua mau minta tolong untuk 10 detik fokus ke gambar diatas, jangan ngeiat kebawah, jangan di slide kebawah, jangan, jangan jangan.
Itu gambar wanita, dengan selendangnya mengalihkan pandangan. Dengan kalung mutiara hitam yang tampak anggun.

Tapi gua serasa ditampar setelah pertanyaan ini "Apa yang anda lihat pada gambar dibawah ini ?"

Dan gua pikir ini gambar wanita lain, dengan kalung yang lain, rambut lain dan cuma itu yang beda. Ternyata buku itu bilang kira kira begini "Bagaimana kalau saya bilang, ini adalah gambar wanita tua yang bersedih dan anda mungkin harus membantunya menyebrang jalan." Ya gua bingung dong.

Dan setelah gua diperlihatkan gambar yang gua lampirkan di akhir tulisan blog ini, gua cuma bilang "Kampret ! Ini konspirasi ! penulis sengaja menanam mindset di pikiran pembaca, supaya.....terkesan keren." Jadi kita disuruh.....wait...wait..wait.. setelah gua baca ternyata ini bukan pertama kali dia menggunakan teknik ini.

Jadi Penulis merupakan consultant yang sering diundang untuk mengadakan kayak apa ya...?? kayak workshop gitu untuk perusahaan perusahaan demi meningkatkan ke-efektif-an para pekerjanya. Dan dia sering menggunakan metode kayak gini umtuk meningkatkan kinerja para pekerja. 

Menarik banget sih, jadi di dalam satu ruangan  dia membagi dua kelompok. Satu kelompok dikasih kartu yang bergambar gambar pertama. Dan satu kelompok lagi dia kasih gambar terakhir yang paling bawah. Terus, dia tunjukkin gambar yang kedua di projector beserta pertanyaannya.  Bisa bayangin apa yang terjadi, sesuatu yang gua sebut CHAOS. 

Masing masing kelompok keukeuh sama pendapatnya, sementara si penulis memperhatikan dengan cool-nya, nggak ngomong apapun. Sampai akhirnya CHAOS itu mulai reda ketika semua orang mulai membuka pikiran, untuk mendengarkan dan saling berbagi pandangan. Pada akhirnya, seluruh ruangan tau bahwa gambar kedua merupakan gambar campuran. Happy Ending...

Gua mengharapkan ruangan itu sampe ke sesuatu yang lebih extreme sih.. kayak lempar lemparan meja atau kalo terlalu berat bangku lah. Atau tusuk tusukkan pake bolpoin, tawuran gitu.. Tapi sayang fakta yang tertulis di buku nggak kayak gitu. Agak kecewa...

Balik ke buku itu. Setelah gua baca dan gua pikirin, ternyata bener juga si penulis. Pada faktanya, kita dibesarkan di keluarga berbeda, dengan orang tua yang beda. Meskipun pada kenyataannya setelah kita besar sedikit, kita menghabiskan masa pertumbuhan kita kebanyakan di sekolah. Dimana dididik dengan orang yang mungkin sama, lingkungan yang sama dan peraturan resmi yang sama. Tapi kemungkinan besar kita punya pola pikir bawaan yang berbeda. Kayak lo pernah nggak si ketemu sama temen yang masih make "aku" atau "kamu", sedangkan lo fasih bicara dengan "lo, gue" ?

Jujur gua masih make "aku & kamu" sampe kelas 3 SMP, pencapaian yang luar biasa dari sebuah penanaman pola pikir orang tua. Dan gua masih canggung sampe sekarang untuk ngomonng make "lo,gue". Agak gimana yak menurut gue.

Dan perbedaan pola pikir itu mungkin nggak terlalu kerasa saat dulu dikelas. Tapi seperti yang lo bisa liat sendiri di sosmed-sosmed, dimana orang dari mana aja ngumpul menilai sebuah peristiwa atau fenomena. Lo bisa liat lah, pendapatnya-tanggapannya. Warna-warni. Ada yang ngebawa ajaran agama, ada yang nanggepin biasa aja, ada yang cukup kampret malah komen mars partai PER1NDO. Yang mana sebenernya nggak ada yang salah mereka berpendapat.

Kecuali mars PER1NDO, yang nggak nyambung sama topik.

Belakangan kita gempar dengan sosok AWKARIN, dengan "Gua nggak munafik"-nya yang mengundang banyak pengikut. Para orangtua mulai gusar dengan pergerakannya, yang takutnya bakal dicontoh sama anak anak mereka. Lagian kalo gua punya adek yang mamerin udel-nya saat main keluar bareng temen gara gara ngikutin artis youtube, apa gua nggak khawatir ? itu ngelanggar apa yang orang tua gua ajarin. Apalagi adek gua ada yang laki laki, aneh aja keluar pake tanktop mamerin udelnya.

Atau tiba tiba pas youtube-an lu ketemu vlog adek lo nangis nangis, gara gara diputusin pacarnya. Atau lo ngeliat foto adek lo berpose yang cenderung mesum bareng pacarnya. Dan ketika lo tanya kenapa, dia bilang "Gua nggak munafik". Dan pake "gua" ketika ngejawab pertanyaan lo.Itu aneh banget jatohnya.

Poin gua sih gini, iya emang yang dilakuin si AWK banyak yang nggak sesuai sama apa yang kita bilang bener. Banyak banget. Tapi itu merupakan filosofi yang di punya tentang bagaimana hidup sebagai dirinya. Bukan gua nyalahin orangtuanya, filosofi itu kayak virus beberapa bisa membuat sebuah program lama nggak jalan, kadang bisa ngedownload sendiri program baru. 

Dari siswi SMP berprestasi berubah jadi selebgram penghasil uang jutaan, mungkin nembus miliaran. Dari berkerudung, berkacamata jadi ber-tanktop jaring jaring. Virus kadang bisa dianggap Ilham sama komputer. 

Untuk pendapat gua, gua pikir gua bodo amat sama gaya hidup si WKAR ini.

Dan pada saat banyak pendapat dari banyak paradigma berkumpul, ketika gua bisa ngeliat dengan jelas, bakalan banyak banget paradigma baru. Yang gua tau fenomena ini kayak gambar campuran yang kedua tadi.

 Kita yang dididik tentang aurat, tentang miras, tentang pergaulan oleh orang tua kita yang relatif sama poinnya ngeliat bahwa si KARI merupakan sebuah ancaman. Kita mulai menghujat, memaki, membuat meme. Untuk menghentikannya supaya nggak menularkan filosofinya yang unik ke orang lain.

Sedangkan pengikut si ARIN yang punya pandangan, "Si karin tuh keren ya udah nggak ngerepotin orangtua, so sweet banget lagi pengorbanan demi pacarnya, SWAG banget lagi. IHH pengen dech kayak dia" pastinya bakal ngebela mati matian si ARIN. Sambil ngikutin, pastinya.

Ini tetep bakalan jadi gambar campuran, gitu aja terus menerus. Nggak ada yang bisa kita lakukan. Dan meskipun kita lakukan, itu nggak bakal fair kalo dalam qaedah persaingan pendapat. Ibarat lo ngelarang menyampaikan ajaran agama.

Agak parah sih, gua ngebandinginnya sama agama. Tapi kalo boleh jujur itu sesuatu yang mirip. Masing masing pihak punya kebaikan yang mereka bawa, mereka yakini. Dan mereka juga punya pandangan tentang bagian dari pihak lain yang dirasa salah. Cukup mirip dengan kasus ini. 

Jadi gimana ?? Sekali lagi gua masih bingung sama konsep bener-salah yang bener bener universal. Entah gimanapun gua coba pikir dan tanyain orang lain. Kadang gua mau bilang bahwa orang yang berpendapat ini tentang sesuatu itu salah. Tapi setelah gua liat lagi dan gua tanya kenapa dia berpendapat kayak gitu gua malah ketarik-tarik kearah dia. 
BTW gua nggak bakalan langsung nyebrangin nenek nenek langsung gitu aja. Kali aja lagi nungguin OK-JEK. Mungkin gua tanya dulu...

Selasa, 20 September 2016

Balik Lagi

    Rada kocak waktu gua tiba tiba nge-share tulisan di facebook, nggak lama setelah tau bahwa temen gua juga ada yang se-kurang kerjaan gua. Nulis blog yang walaupun kita tau nggak banyak banyak amat yang baca, tetep kita terusin. Ini cukup lama mungkin dari waktu kejadian, kalo lo liat postingan gua yang kedua dibawah tulisan ini. Nah...itu yang gua maksud

Tapi setelah gua pikirin, ini bukan sesuatu yang terlalu aneh. Walaupun kesannya kayak....

Ya, bener. Ini beneran seketika itu gua meledak membuka semua apa yang gua punya, menunjukkan semua yang gua tadinya rasa itu cuma keanehan gua. Ke semua orang yang berteman di facebook. Terjadi begitu saja. *Duarr !! Look at me !

Nggak berhenti disitu, ini makin aneh ketika gua mulai rajin berkunjung ke blognya, bacain tulisannya. Udah kayak sahabat dari Imunisasi Campak yang udah lama banget nggak ketemu dan kehabisan pulpen sama pulsa sampe nggak bisa nanya kabar.

Makin aneh lagi, ketika gua mulai debat comment panjang-lebar di blog-nya. Nunjukkin ide ide gua, pendapat gua. Dengan kesan "Master Super Serba Bener"yang mengundang genggaman tangan orang lain ke wajah. 

Sampe suatu ketika gua ngomong ke diri gua sendiri " Men, anda laki laki umur 17 tahun. Dengan banyak talenta, banyak yang anda bisa lakukan. Dan hal yang bagus anda melakukannya...that was so damn great. Tapi anda harus akui, anda pengecut yang cuma pingin dikagumi orang lain".

Mungkin ya, mungkin gua bener tentang hal itu. Walaupun hal yang muncul dari kepala gua sering gua bilang bener, ketika itu salah. Tapi ini bener. 

Gua masih nunggu ketemu sama pemahat pemahat lain, untuk memastikan karya gua bukan sekedar puing bangunan, Dan ketika hal itu terjadi gua, dengan segala sombongnya gua mengangkat pahatan gua setinggi mungkin dan mulai mengomentari pahatan si pemahat yang tadi gua temuin. Mencoba mengangkat diri  untuk diatas yang lain. Menyedihkan, tapi disinilah dimana lo bisa ngeliat cerminan paling jelas tentang apa yang terjadi.

Bahkan orang seperti gua yang percaya "Nggak ada orang yang boleh naro dirinya diatas orang lain" kadang bisa jadi kalap, menggila dan ngeselin. rd

Sabtu, 13 Agustus 2016

Sok Bener

Ini cara saya menangis, ini cara saya mengeluarkan beban pikiran yang tak seharusnya saya pikul. Melepaskannya untuk sementara dan membiarkannya membesar, meledak dalam prosesnya. Dari ledakan inilah tulisan ini berasal. Amarah, keputusasaan, frustasi dan kesedihan.

Waktu berubah, begitu cepat belakangan ini terasanya. Mungkin saya akan terlihat seperti orang sok bijak yang menggunakan kata "saya" untuk mendeskripsikan dirinya sebagai makhluk tuhan yang tidak sengaja melihat busuknya dunia dan menganggap dirinya seorang yang cukup bersih untuk menasehati orang untuk memperbaikinya. Dan mungkin ya.... anda berpikiran seperti itu.

Ini tentang kita, tentang orang orang kita. Kita mengalami keterpurukan hari demi hari, jika lo liat yang terjadi belakangan. Dan ketika kita melihatnya terjadi dan terjadi lagi, terulang lagi. Kita mulai merasa suci dengan memisahkan diri kita dari si pelaku dengan omong kosong "generasi". Dengan kalimat " Jaman gue dulu....blabla" yang amat gua jijik ketika baca atau dengernya.

Tolong pikirkan lagi, tolong lebarkan hati kita untuk menerima fakta ini. Kita semua berhubungan, saling mempengaruhi, mencontoh dan memberi. Kita adalah bagian dari kekacauan, sumber dan solusi kekacauan ini. Tolong buka mata kita untuk melihat ini. Rantai yang menarik kita kejurang ini akan terus menarik kita dan penerus kita.

Jika kita mau terus terusan, merasa bener, merasa bersih atas apapun yang terjadi. Jika kita cuma ingin menyalahkan satu hal atas kekacauan ini. Jika kita masih ragu, masih ogah untuk introspeksi diri. Dan masih ingin merasa tidak bersalah atas apa yang terjadi dan dengan idiotnya lepas tangan. Sumpah demi apapun yang gua punya, demi apapun yang gua akan punya, demi apapun yang gua yakini. Kita akan terus menerus jatuh lebih dalam dan dalam lagi, lebih parah lagi.

Dan buat anda yang merasa saya adalah orang sok bener....ya cuma ini hal paling bener yang gua bisa lakukan. Saya janjikan saya akan menjadi lebih baik lagi kedepan.


Jumat, 17 Juni 2016

Drama yang Unik

Kenapa sih gitu gitu mulu !!!!!

Kalimat yang secara spontan gua keluarin saat denger berita setelah maghrib tadi. Seakan gua ngerti banget tentang politik gua lanjutin dengan " Setiap ada yang baik sedikit, dijatohin...!! maunya apa sih orang orang ini ? ".

Buat orang awam kayak gua apa sih yang bisa gua lakuin buat nilai seorang tokoh publik ? apa gua bisa tau apa yang dia lakuin dibelakang media ? apa bisa tau bener bener orang itu baik apa nggak ? semua informasi gituan cuma bisa gua dapet lewat media. Rekam jejaknya, prestasinya, pendidikannya bisa gua dapetin paling setelah searching di google. Dan gua yakin informasi yang ditemuin sama google itu tulisan orang.

Disini kegundahan gua dimulai, tadi sore gua nonton berita isinya tentang seorang gubernur yang mau maju pemilihan gubernur lewat jalur independen. Di berita yang gua simak itu terdapat sekumpulan orang yang bener bener gua gak kenal nuntut nuntut, bawa bawa nama si gubernur itu kedalam kasus korupsi. Mending kalo baik baik, lah ini.... dari yang gua simak sih sekumpulan orang ini pengen banget si gubernur ini jatoh. Dengan bahasa alus bin sopan, mereka bawa bawa nama hukum inilah itulah dan sindiran sindiran tapi tetep aja keliatan busuknya.

Berbeda dengan si gubernur, si gubernur ini menanggapinya dengan marah marah tapi gua bisa liat bahwa dia ngerasa bahwa di sedang dijatuhkan. Gua bisa ngeliat bahwa di sedang diserang. Gua ngerasa bahwa si gubernur ini adalah protagonis dari drama ini.

Gua bukannya mendukung si gubernur untuk jadi gubernur lagi di pilgub besok, bukan. Atau gua jatuh hati sama cara kerja beliau yang gua nilai bagus dan gua pingin lihat itu lebih lama lagi. Buat lo yang mikir kaya gitu, sumpah nggak. Gua cuma seorang awam yang bimbang dengan apa yang disuguhkan didepan matanya. Gak lebih, mungkin kurang.

Tapi mungkin diparagraf ini lo bakal ngerasa ada ketimpangan dari kenetralan gua. Gua seorang muslim, gua sholat, gua puasa, gua meyakini Quran merupakan perkataan tuhan. Gua muslim. Dan inilah puncak konflik internal ini "Si Gubernur merupakan non-muslim (kristen)" dan "Si kumpulan orang tadi kebanyakan muslim". Islam melarang umatnya memilih pemimpin kafir, yang masih membuat gua kebingungan "Siapakah si kafir ini ?".

Gua bingung...
Disatu sisi gua bisa ngerasain mana yang bener mana yang enggak. Disisi lain sebagai seorang muslim gua dalam kebimbangan yang amat luar biasa. Dan dalam sisi yang lainnya lagi terdapat ketakutan gua bahwa semua yang gua rasain dan gua nilai dari berita tadi adalah settingan atau rencana mulus yang telah disiapkan oleh media dengan tujuan tertentu.

Hal hal tadi yang bikin gundah luar biasa menentukan pandangan terhadap suatu hal. Bukan cuma kasus ini doang, hampir semua yang gua denger bikin gua mikir jauh kayak gini. Bukan sok-sokan jadi ahli konspirasi, gua cuma orang awam yang bingung dengan suguhan drama ini.

Dalam dunia yang gila ini siapa yang bisa anda percayai ? Selalu ada bom pemecah jalan pikiran yang berbunyi "Bagaimana jika....." dan inilah sisi unik drama ini. RD


Selasa, 17 Mei 2016

Jagoan TK

"Banyak hal yang gak bisa diceritakan, saat dirumah seorang orangtua hanya ingin anaknya bahagia..."

Kalimat ini keluar dari mulut bapak gua entah kapan, nggak panjang lebar tapi dalem banget.Tapi kerasa banget dalemnya hari ini. Kalau ada yang namanya titik balik kehidupan, ini yang bakalan gua sebut. Mungkin ya agak terlalu gimana menurut lo, mungkin...

Sore ini gua ada di kantor orangtua gua yang seorang pengusaha, selama liburan emang gua selalu disini. Gua sadar gua nggak bisa bantu banyak disini selain bolak balik beli keperluan atau bikinin kopi buat bapak gua. Bisnis orangtua gua pembuatan kendaraan karoseri gitu...mainan besi, las, gerinda. Jadi yaaa maklumlah,  badan gua yang kerempeng ini mana mungkin ikutan lapangan. Jadi gua cuma disuruh beli beli keperluan aja.

Hari itu ada surat yang penting banget untuk sampe di kantor customer. Dan kita perusahaan kecil, belum punya banyak pilihan untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya mendadak kayak gini. Pilihannya cuma ada beberapa antara Gua, Bapak, Ibu atau seseorang dari lima karyawan kita. CheckList pertama adalah bapak nggak boleh kesana karena bakal menjatuhkan nama perusahaan. CheckList kedua adalah kita sedang diambang deadline dan butuh sangat butuh kekeuatan maksimal dibagian produksi. Sisanya cuma antara gua dan ibu.

Permasalahannya adalah gua bego hari itu. Merasa bahwa ya...itu bukan tugas gua dan karena beberapa jam sebelumnya gua juga udah bolak balik beliin material. Jujur gua cape hari itu tapi nggak mau ngaku dan terlalu jaga image dengan bilang bahwa itu bukan tugas gua. Jadi gua bilang " Udah mama aja...kan dari tadi mama dikantor doang...lagian kan urusan administrasi bagian mama". Kadar kebegoan gua mencapai puncaknya detik itu. Dan ibu gua berangkat, naik motor dan gua tetep dikantor duduk dengan nyamannya dengan laptop di pangkuan.

Beberapa jam kemudian ujan turun nggak terlalu deres emang, tapi tetep aja ujan ya ujan. Ibu gua SMS " Nak mama keujanan ini lagi ngiyup di POM Bensin, bilangin papa mama langsung pulang baju mama basah" gitu. Langsung dah pikiran gua kemana mana, emangnya nggak ada jas ujan ? tanya gua dalam hati. Saat itu juga gua inget kalo jas ujan motor gua taro di samping rumah abis keujanan kemarin dan belum gua balikin ke bagasi motor. Saat itu gua ngerasa....apa ya...gua nggak pernah seemosional ini.
Minta maaf...iyalah gua minta maaf walaupun cuma lewat SMS. Terus lu tau ibu gua gimana...? dia bales SMS gua. Gini nih "Iya nggapapa, lagian kamu khan belom tau tempatnya. Mama cuma cerita kondisi jalan". Nyentuh banget.

Dan gua mulai nanyain diri gua ''Pantes nggak sih Ibu kayak gitu ?''. Okelah kalau kita lagi dilingkungan kerja dan sesama pegawai. Tapi ini kan nggak kita pada dasarnya keluarga, gua cuma ditarik kesini untuk belajar gimana kerja itu, pengenalan. Dan gua mulai bersikap kayak gua itu diperlukan disini untuk mengisi sebuah peran dan gua penting. Banget.

Gua sadar bahwa kadang kita berperilaku sebagai seorang anak yang ingin terbang sendiri, tanpa bantuan, tanpa merepotkan siapapun. Kadang kita merasa cukup kuat untuk menanggung resiko dari perbuatan kita, mengebelakangkan nasihat orangtua. Tapi saat kelakuan kita membuat orangtua kita mendapat masalah kita cuma bisa meminta maaf. Kadang kita merasa kehidupan ini adalah milik kita, melupakan asal muasal kita. Kita menilai apa yang terjadi pada orangtua hanya dari saat kita bersama dirumah dengan mereka, tanpa melihat keluar apa yang terjadi pada mereka. Kadang kita seperti begitu sok jagoan, dalam TK yang dimana orangtua kita masih mengawasi kegiatan kita.  Dan saat orangtua kena teguran, ia cuma bilang nggakpapa lain kali jangan diulang ya. RD