Ini tentang buku gua yang baru beberapa hari lalu sampe, buku berjudul "7 Habits of Highly Effective People" yang menyita perhatian gua beberapa bulan terakhir. Setelah nabung beberapa minggu akhirnya bisa kebeli juga..... Bukan bagian dimana gua nabung yang mau gua tulis, tapi tentang apa yang gua baca pada beberapa bagian awal yang gua rasa menyabet pikiran gua. Menimbulkan bekas yang cukup dalam di kepala gua.
Bagian awal buku ini bercerita tentang adanya pengaruh luar biasa paradigma terhadap hidup manusia. Mungkin bakal ngebosenin kalo gua tulis gimana, jadi biar gua kasih contoh.
Gua mau minta tolong untuk 10 detik fokus ke gambar diatas, jangan ngeiat kebawah, jangan di slide kebawah, jangan, jangan jangan.
Itu gambar wanita, dengan selendangnya mengalihkan pandangan. Dengan kalung mutiara hitam yang tampak anggun.
Tapi gua serasa ditampar setelah pertanyaan ini "Apa yang anda lihat pada gambar dibawah ini ?"
Dan gua pikir ini gambar wanita lain, dengan kalung yang lain, rambut lain dan cuma itu yang beda. Ternyata buku itu bilang kira kira begini "Bagaimana kalau saya bilang, ini adalah gambar wanita tua yang bersedih dan anda mungkin harus membantunya menyebrang jalan." Ya gua bingung dong.
Dan setelah gua diperlihatkan gambar yang gua lampirkan di akhir tulisan blog ini, gua cuma bilang "Kampret ! Ini konspirasi ! penulis sengaja menanam mindset di pikiran pembaca, supaya.....terkesan keren." Jadi kita disuruh.....wait...wait..wait.. setelah gua baca ternyata ini bukan pertama kali dia menggunakan teknik ini.
Jadi Penulis merupakan consultant yang sering diundang untuk mengadakan kayak apa ya...?? kayak workshop gitu untuk perusahaan perusahaan demi meningkatkan ke-efektif-an para pekerjanya. Dan dia sering menggunakan metode kayak gini umtuk meningkatkan kinerja para pekerja.
Menarik banget sih, jadi di dalam satu ruangan dia membagi dua kelompok. Satu kelompok dikasih kartu yang bergambar gambar pertama. Dan satu kelompok lagi dia kasih gambar terakhir yang paling bawah. Terus, dia tunjukkin gambar yang kedua di projector beserta pertanyaannya. Bisa bayangin apa yang terjadi, sesuatu yang gua sebut CHAOS.
Masing masing kelompok keukeuh sama pendapatnya, sementara si penulis memperhatikan dengan cool-nya, nggak ngomong apapun. Sampai akhirnya CHAOS itu mulai reda ketika semua orang mulai membuka pikiran, untuk mendengarkan dan saling berbagi pandangan. Pada akhirnya, seluruh ruangan tau bahwa gambar kedua merupakan gambar campuran. Happy Ending...
Gua mengharapkan ruangan itu sampe ke sesuatu yang lebih extreme sih.. kayak lempar lemparan meja atau kalo terlalu berat bangku lah. Atau tusuk tusukkan pake bolpoin, tawuran gitu.. Tapi sayang fakta yang tertulis di buku nggak kayak gitu. Agak kecewa...
Balik ke buku itu. Setelah gua baca dan gua pikirin, ternyata bener juga si penulis. Pada faktanya, kita dibesarkan di keluarga berbeda, dengan orang tua yang beda. Meskipun pada kenyataannya setelah kita besar sedikit, kita menghabiskan masa pertumbuhan kita kebanyakan di sekolah. Dimana dididik dengan orang yang mungkin sama, lingkungan yang sama dan peraturan resmi yang sama. Tapi kemungkinan besar kita punya pola pikir bawaan yang berbeda. Kayak lo pernah nggak si ketemu sama temen yang masih make "aku" atau "kamu", sedangkan lo fasih bicara dengan "lo, gue" ?
Jujur gua masih make "aku & kamu" sampe kelas 3 SMP, pencapaian yang luar biasa dari sebuah penanaman pola pikir orang tua. Dan gua masih canggung sampe sekarang untuk ngomonng make "lo,gue". Agak gimana yak menurut gue.
Dan perbedaan pola pikir itu mungkin nggak terlalu kerasa saat dulu dikelas. Tapi seperti yang lo bisa liat sendiri di sosmed-sosmed, dimana orang dari mana aja ngumpul menilai sebuah peristiwa atau fenomena. Lo bisa liat lah, pendapatnya-tanggapannya. Warna-warni. Ada yang ngebawa ajaran agama, ada yang nanggepin biasa aja, ada yang cukup kampret malah komen mars partai PER1NDO. Yang mana sebenernya nggak ada yang salah mereka berpendapat.
Kecuali mars PER1NDO, yang nggak nyambung sama topik.
Belakangan kita gempar dengan sosok AWKARIN, dengan "Gua nggak munafik"-nya yang mengundang banyak pengikut. Para orangtua mulai gusar dengan pergerakannya, yang takutnya bakal dicontoh sama anak anak mereka. Lagian kalo gua punya adek yang mamerin udel-nya saat main keluar bareng temen gara gara ngikutin artis youtube, apa gua nggak khawatir ? itu ngelanggar apa yang orang tua gua ajarin. Apalagi adek gua ada yang laki laki, aneh aja keluar pake tanktop mamerin udelnya.
Atau tiba tiba pas youtube-an lu ketemu vlog adek lo nangis nangis, gara gara diputusin pacarnya. Atau lo ngeliat foto adek lo berpose yang cenderung mesum bareng pacarnya. Dan ketika lo tanya kenapa, dia bilang "Gua nggak munafik". Dan pake "gua" ketika ngejawab pertanyaan lo.Itu aneh banget jatohnya.
Poin gua sih gini, iya emang yang dilakuin si AWK banyak yang nggak sesuai sama apa yang kita bilang bener. Banyak banget. Tapi itu merupakan filosofi yang di punya tentang bagaimana hidup sebagai dirinya. Bukan gua nyalahin orangtuanya, filosofi itu kayak virus beberapa bisa membuat sebuah program lama nggak jalan, kadang bisa ngedownload sendiri program baru.
Dari siswi SMP berprestasi berubah jadi selebgram penghasil uang jutaan, mungkin nembus miliaran. Dari berkerudung, berkacamata jadi ber-tanktop jaring jaring. Virus kadang bisa dianggap Ilham sama komputer.
Untuk pendapat gua, gua pikir gua bodo amat sama gaya hidup si WKAR ini.
Dan pada saat banyak pendapat dari banyak paradigma berkumpul, ketika gua bisa ngeliat dengan jelas, bakalan banyak banget paradigma baru. Yang gua tau fenomena ini kayak gambar campuran yang kedua tadi.
Kita yang dididik tentang aurat, tentang miras, tentang pergaulan oleh orang tua kita yang relatif sama poinnya ngeliat bahwa si KARI merupakan sebuah ancaman. Kita mulai menghujat, memaki, membuat meme. Untuk menghentikannya supaya nggak menularkan filosofinya yang unik ke orang lain.
Sedangkan pengikut si ARIN yang punya pandangan, "Si karin tuh keren ya udah nggak ngerepotin orangtua, so sweet banget lagi pengorbanan demi pacarnya, SWAG banget lagi. IHH pengen dech kayak dia" pastinya bakal ngebela mati matian si ARIN. Sambil ngikutin, pastinya.
Ini tetep bakalan jadi gambar campuran, gitu aja terus menerus. Nggak ada yang bisa kita lakukan. Dan meskipun kita lakukan, itu nggak bakal fair kalo dalam qaedah persaingan pendapat. Ibarat lo ngelarang menyampaikan ajaran agama.
Agak parah sih, gua ngebandinginnya sama agama. Tapi kalo boleh jujur itu sesuatu yang mirip. Masing masing pihak punya kebaikan yang mereka bawa, mereka yakini. Dan mereka juga punya pandangan tentang bagian dari pihak lain yang dirasa salah. Cukup mirip dengan kasus ini.
Jadi gimana ?? Sekali lagi gua masih bingung sama konsep bener-salah yang bener bener universal. Entah gimanapun gua coba pikir dan tanyain orang lain. Kadang gua mau bilang bahwa orang yang berpendapat ini tentang sesuatu itu salah. Tapi setelah gua liat lagi dan gua tanya kenapa dia berpendapat kayak gitu gua malah ketarik-tarik kearah dia.
BTW gua nggak bakalan langsung nyebrangin nenek nenek langsung gitu aja. Kali aja lagi nungguin OK-JEK. Mungkin gua tanya dulu...



0 komentar:
Posting Komentar