tidak dicatat melainkan diketik

Minggu, 22 Agustus 2021

Decision, decision, decision.

 Oke, keadaan menjadi lebih baik sekarang. Paling tidak keadaan psikologis saya. Ada perasaan lega karena sebagian dari apa yang ingin saya lakukan sudah saya lakukan. Ada juga bagian yang haus untuk meminta lagi dan lagi.

Ada 3 aspek yang ingin saya perbaiki sekarang dari diri saya. Yang pertama adalah mengenai kuliah. Saya sedikit resah belakangan karena mulai merasa kuliah tidak ada artinya. Seperti perasaan dikecewakan oleh sistem yang gagal untuk membentuk saya. Saya nggak bisa terlalu menyalahkan sih, karena saya akui saya agak susah diatur dan cenderung melangkahi track yang diatur. It feels like i am cheating but dengan cara yang jujur. White Cheating ? Mungkin kata yang paling tepat outsmarting the system. So, yeah sekarang saya berada di tingkatan ini penuh dengan kehampaan, Impostor Syndrom ?

Kedua adalah mengenai skill real life, okelah saya bisa baca beberapa buku dan mastering Indnustrial Engineering dari buku2 tersebut. In fact sudah saya targetkan untuk dilakukan bulan depan, September 2021. Tapi bacaan ya bacaan, kalau saya gagal untuk menemukan koneksinya dengan real life atau kalau muluk muluk untuk bisa menerapkannya di kehidupan nyata ya untuk apa ? Nanti cuma bakal lupa doang. Saya rasa seorang mahasiswa harus punya ini, semacam media untuk mencoba ilmu barunya-seperti punching bag untuk mencoba jab yang baru diajarkan.

I am lucky to have it, saya punya perusahaan ayah saya untuk dijadikan canvas. Dan ini yang membawa saya ke aspek ke 3. Penganggaran resources, saya sudah cukup tumbuh untuk mengerti mengani berharganya energi dan waktu. Sometimes you have the energy but you don;t have the time. Sometime it's reversed and that i feel is sucks. Tentu saya nggak terlalu berbesar kepala untuk bilang 24 jam itu kurang dalam 1 hari, masih ada halangan yang datangnya dari diri saya, procrastiination.

Mengenai aspek ketiga, saya masih belum menentukan kebijakan saya, opsinya ada dua mungkin. Pertama saya akan fokus membangun usaha saya sendiri. Kedua saya akan mencoba lebih aktif di workshop. Keduanya merupakan opsi yang feasible, namun saya pikir akan lebih mudah untuk mengambil yang pertama; selain lebih bebas saya juga akan membangun kredibilitas saya dalam berusaha. Minusnya terdapat pada resources berupa finansial mungkin dan pemasaran. Saya mungkin gak selalu bisa melakukan nya sendiri, mungkin saya akan utuh bantuan orang lain. Again, i haven't decided.

Opsi kedua memang lebih aman dan lebih mungkin untuk terjadi, resikonya akan sedikit lebih kecil karena saya tidak secara total in control. Mungkin satu satunya yang membuat saya kurang memilih opsi ini adalah ego. I need to decide.

Ada opsi lainnya juga, dari usaha yang hendak saya lakukan ada beberapa opsi yang harus dipilih. Furniture, Blogging dan Farming. Farming rasanya paling feasible, blogging paling ekonomis dan juga sejalan dengan agenda bulan September saya, sedangkan furnitur paling butuh banyak biaya tapi paling mudah dalam penjualan (produknya ada dan bisa dijual di online). Again, must decide.

Semakin lama saya memutuskan semakin dekat saya dengan perkuliahan semester depan yang saya rasa akan sedikit lebih rumit, offline atau online ? entahlah. Permasalahan pengulangan mata kuliah juga masih belum selesai, jujur saja-jikapun saya akan ditendang dari program saya merasa OK saja, 

Agak sedikit kecewa pastinya karena kemungkinan saya akan gagal jadi dosen tapi kalau dipikir2 waktu dan tenaga yang saya akan kerahkan ke perkuliahan S2 terasa kurang worth it. Enak sih dapat waktu tambahan untuk mengembangkan income saya selepas lulus tapi saya juga kurang yakin akan bisa melakukannya dangan perkuliahan S2 yang saya ekspektasikan akan sepenuhnya berbeda. Jadi mungkin menghadapi rasa takut head to head dengan job hunting dan pengangguran adalah opsi yang cukup bijak, yang memberatkan adalah uang gedung 10 juta yang sudah dibayarkan 7 juta. Kalau bisa begitu saya akan lulus di 2022 pertengahan. Enough time to grinding my ambition on building my business....i guess for this one we can only wait and see.

Rabu, 18 Agustus 2021

It's okay, take your time

 Draft sudah di buat, sepertinya bisa dibagi dua membuat masing masing artikel lebih mudah dicerna. tekind.xyz sepertinya akan jadi the next big thing untuk saya. Yang saya rasakan adalah keterburu buruan untuk saat ini, seperti rasa haus untuk lagi dan lagi menulis dan menghasilkan tulisan yang berarti. Saya juga merasakan haus untuk menjadi lebih baik dalam menulis, saya mulai memperhatikan komposisi dari suatu artikel, kecepatan menyampaikan idenya, intermezzo dan karakter penulisnya.

Menulis memang bukan hal baru bagi saya, blog ini sudah berjalan dari tahun 2017, sepertinya ?? Namun saya nggak pernah merasa sebegitu terobsesi sebelumya dan kalau kamu perhatikakn volume menulis saya di blog ini pun meningkat. Saya juga belajar membagi fokus dengan 2 kegiatan lainnya 3 malahan, kuliah, bertani dan marketing julang raya. Masih belum efektif sebenarnya, tapi saya yakin masih ada luas ruang untuk berkembang.

Saya juga lebih aktif dalam working out sekarang, 100 pushup, 80 situp, 30 bicycle, 2 menit planking. Rencananya akan saya tingkatkan lagi. Saat ini tertarik dengan calisthenic.

Peningkatan ini mungkin juga akibat berkurangnya dan jelasnya role saya sekarang di Julangraya, sebelumnya saya datang ke workshop kebanyakan untuk sekedar hadir dan menghabiskan wktu menunggu adanya pekerjaan yang bisa saya lakukan tapi sekarang dengan berkurangnya penjualan aktivitas kita jadi lebih berfokus ke marketing di internet dan saya mengambil sedikit tanggung jawab dengan menjalankan 1 sub domain disini. Saya juga mulai merambah sosial media, rencananya saya akan mengintegrasikan srtikel tekind.xyz sebagai content filler dari akun bisnis milik julang raya.

Masih belum tahu juga apakah level produktifitas ini akan tetap bertahan saat semuanya kembali normal, untuk sekarang saya cuma bisa menjalani hari hari as best as i can.

Minggu, 15 Agustus 2021

Kurang Tidur

 Apa sangat penting untuk selalu memberi ?

Terdapat peningkatan dalam hidup saya, lebih produkstif, lebih berkualitas dan lebih bersosial. Mengenai yang terakhir, memiliki lebih banyak interaksi dengan sesama secara mengejutkan terasa  menyenangkan. Saya lebih aktif di media sosial belakangan ini; facebook, twitter dan instagram. Mungkin dikarenakan saya yang ingin mempromosikan bisnis orangtua saya jadi secara tidak sengaja menjadi terbawa.

Yang saya temukan adalah, setiap orang bisa melakukan banyak sekali hal dalam satu hari, namun tidak semuanya. Terdapat porsi yang seperti ditentukan mengenai berapa banyak hal yang dapat seseorang lakukan dalam sehari dan porsi ini beragam pada setiap orang. Jujur saja saya masih belum tau apakah porsi ini dapat ditambahkan atau dikurangi. Saya berniat menambahkannya.

Upaya yang saya lakukan adalah mengurangi jam tidur. Jam 9PM-3AM saya rasa cukup untuk manusia muda seperti saya, 6 Jam memang kurang tapi untuk mendapatkan sesuatu saya rasa memang sudah seharusnya memberikan hal lainnya. Saya memberikan sebagian waktu tidur saya dan pada awal penerapan tidak terasa ada perubahan.

Saya bangun lebih pagi tidur lebih awal, siang hari terasa berat karen mata sangat ingin menutup. Belum lagi efek kafein yang mengakibatkan tubuh panas setelah beberapa jam penggunaan. Saya nggak tau apa hal ini cuma berlaku pada tubuh saya. Hasilnya tidak sebanding dengan ekspektasi, mungkin saya terlalu cepat menyerah. Rasanya seperti saya memang berhasil memulai hari lebih awal tapi kehilangan efektifitas ditengah hari yang mana lebih awal juga. Jadi saya menghentikan praktek jam tidur entrepreneur ini.

Ketika bangun jam 3AM biasanya saya langsung menyeduh kopi, duduk didepan komputer dan berusaha menulis blog walaupun akhir akhirnya nggak selesai karena ngga kepikiran topik yang bagus. Akhirnya waktu yang saya alokasikan untuk menjadi produktif terbuang, terdapat penyesalan dan self disgust yang menyeruak. Ditambah dengan kurang tidur, kondisi mental saya jadi terasa terserang.

Untuk sekarang saya fokus untuk mengefisiensikan waktu bangun saya untuk hal hal yang saya rasa penting, saya tidur jam 0AM dan bangun agak siang sekitar 7.30 AM berarti saya punya waktu bangun sekitar 16,5 jam katakan saya gunakan untuk baca buku 3 jam sehari dan nulis 1 jam dan editing 1 jam saya masih punya 12,5 jam untuk melakukan hal lain seperti bercocok tanam dan kegiatan kuliah. Mungkinmelainkan rentang waktu yang lebih lama saya butuh rentang waktu yang lebih padat dan flexible untuk menjaring kreatifitas dan inspirasi.

Apa gaya hidup produktif khas entrepreneur kurang cocok bagi saya ? saya nggak mau bilang begitu untuk sekarang. Diagnosisnya adalah bahwa dengan waktu yang normal saya masih belum bisa menggunakannya dengan baik, mungkin nanti saat saya menjadi lebih sibuk saya bisa menggunakan waktu tambahan dengan memulai hari lebih pagi.

Cheers.

Rabu, 11 Agustus 2021

Menolak Mandek

Biasanya menyenangkan untuk menjajal ide baru. Saya sebutkan "biasanya" karena tidak terasa demikian belakangan ini. Kalau perlu dijelaskan, sepertinya ada perasaan takut yang membuat saya jadi kurang bisa merasakan excitement dari mengerjakan suatu proyek baru. Saya pikir rasa takut ini datang dari kecenderungan saya untuk tidak menyelesaikan proyek proyek terdahulu, jadi seperti pikiran "Ah, nanti juga mandek lagi...". 

Hal yang sama terjadi pada blog yang saya sedang kembangkan saat ini tekind.xyz. Tekind.xyz direncanakan untuk menjadi semacam majalah ringan mengenai topik topik Industri dan Manajemen, dan diproyeksikan menjadi go-to nya mahasiswa Teknik Industri untuk menghabiskan waktu luang. Saya masih yakin ini ide yang bagus namun kalau boleh jujur saya seperti kehabisan bensin saat ini.

Tujuan saya membuat blog ini tadinya nggak terlalu besar, saya cuma mau membuat buku catatan mengenai apa saja yang saya pahami di bidang Teknik Industri kemudian mucul keinginan untuk membuat buku catatan ini agar dapat dinikmati lebih banyak orang. Menyelam sambil minum air ?ada juga harapan agar nantinya blog ini bisa menjadi passive income dari kunjungan dan iklan.

Saya mulai menulis artikel dan mencari tone menulis yang cocok namun setelah dua artikel saya kehilangan arah. Rasanya seperti saya nggak punya apa apa untuk dibahas, opini saya dibentuk dari kutipan buku sehingga sangat sulit menyalurkannya dengan gaya yang saya inginkan. Artikel saya terasa kaku dan saya mau tau apa yang membuatnya sangat kaku. 

Sekarang apa yang saya rasakan adalah pikiran yang terlalu berisik untuk menjadi produktif, sangat banyak hal untuk dipertimbangkan dan segudang hal untuk diperbaiki. Ditambah lagi dengan pikiran yang merusak dari proyek saya sebelumnya yang tergeletak tidak berprogres. "It just going to end up like another...".

Saya masih berpikir ini merupakan ide yang bagus oleh karena itu saya ingin tau apa masalah yang sebenarnya saya hadapi, salah satu artikel forbes yang saya baca barusan menyarankan berbicara dengan orang lain untuk mengatur pikiran yang berisik "Monkey Mind" mereka sebutnya. Alternatif yang diberikan adalah dengan menulis. Yang kedua dirasa lebih cocok.

Maybe it is me that silly.....

Diagnosa pertama saya, ada kemungkinan besar bahwa memang sebenarnya saya nggak paham apa apa mengenai teknik industri. Hal ini mengakibatkan teori datang lebih dulu sebelum reasoning. Hal ini mengakibatkan artikel saya terasa palsu dan cenderung terlalu menghibur dan kurang kaya dalam kemampuannya untuk bisa relate dengan permasalahan sehari hari. Kalau menurut Simon Sinek, "Why"-nya belum ketemu. Artikel saya terasa seperti acara promosi ruangguru (dan saya sangat benci ruang guru) yang terlalu berusahan membungkus suatu topik agar tampak manis sampai kepoin dimana tampak tidak natural. 

Opini saya adalah ruangguru terlalu mencoba memetik daun jambu kemudian mencelupkannya ke sirup marjan agar orang yang diare mau memakannya. Nggak salah, cuma kurang sreg saja dimata saya. Kalau seorang yang diare perlu untuk mengunyah daun jambu tersebut saya ingin dia melakukannya karena kesadaran bahwa kalau dia tidak melakukannya ada kemungkinan dia akan tewas karena dehidrasi atau karena pengetahuan bahwa diare diakibatkan oleh bakteri dipencernaan dan daun jambu terbukti dapat meredakan gejala diare.

Apa blog saya dimaksudkan untuk menolong orang sakit ? Tidak. Tapi mari setuju bahwa pengetahuan sekecil apapun ada harganya dan saya merasa untuk menyediakan sedikit untuk diakses diinternet dalam bentuk artikel. Apa artikel tersebut rasanya pahit seperti daun jambu ? Bisa dibilang iya. Ada resource yang perlu dikorbankan untuk mengaksesnya, meskipun kuota kamu unlimited pun kamu bayar setiap bulan dan meskipun kuotamu gratis ada waktu dan energi yang kamu berikan untuk membaca artikel tersebut.

Saya perlu menggodok artikel saya agar tidak hanya dapat dinikmati namun secara jelas dan jujur membuatnya dapat menawarkan nilai tambah bagi yang menikmatinya.

Kurang Asik

Ada pemikiran ini dimana saya yakin kalau seseorang punya bakat melucu dia bisa lebih luwes menyampaikan opininya. Saya dulu terobsesi dengan bagaimana seorang Panji Pragiwaksono menyampaikan keresahannya mengenai berbagai topik. Dia selalu bisa tampil make sense dan agreeable saat menyampaikan opini didepan ratusan bahkan mungkin ribuan orang di acara standup comedy yang dia gelar.

Dia bisa bahas opininya mengenai hubungan percintaan hingga pendidikan didepan banyak orang dan semua seperti setuju hingga poin bisa bersama menertawakan topik yang diangkat. Ayo kasih nama lain seperti Ricky Gervais yang dengan percaya diri menertawakan kisah Noah di alkitab didepan society yang mayoritas kristian atau protestan (dan suara tertawa penonton juga riuh). Apa mereka orang paling kredibel untuk melakukan hal tersebut ? Saya rasa nggak. 

Tapi faktanya mereka di tonton, mendapatkan sambutan, sukses pada acara tersebut dengan mendapatkan response yang diinginkan (tertawa) dan mereka disana menyampaikan opini bukan pukul pukulan styrofoam. Kalau dipikir hebat juga, dan kamu tau apa lagi yang menakjubkan ? Mereka dibayar.

Pertanyaan saya menjadi apakah kemampuan mereka mengartikulasikan opini datang dari pemahaman atau opini yang begitu meyakinkan tersebut merupakan hasil dari kemampuan mereka berbicara ? Mana yang menjadi produk ? Lucunya atau opininya ? 

Diagnosa kedua adalah, saya berkemungkinan besar kurang menguasai bagaimana berkomunikasi dengan manusia sebagaimana umumnya. Tinggalkan dulu menjadi humoris. Saya bukan makhluk sosial yang paling fungsional, teman saya sedikit dan teman lama saya nggak terlalu dekat saya juga punya kesulitan untuk membuat teman baru. 

Bagaimana hal ini berhubungan dengan kemampuan saya menulis artikel terdapat dari bagaimana saya bisa relate dengan permasalahan pribadi dan bersama menertawakan ironi yang terjadi. Saya nggak bisa jadi lucu, sedangkan artikel yang mudah dinikmati adalah yang menghibur. Opsi yang tersedia adalah menjadikan humor sebagai produk dari pemahaman yang mendalam. Akan sulit, tapi menyenangkan mengetahui bahwa belajar lebih giat tidak hanya membuat saya lebih aneh tapi juga lebih lucu (kemungkinan)

Bukan Jurnalis

Semua hal ada ilmunya, saya baru paham ungkapan ini setelah saya menggeluti hobi kayu. Bahkan untuk memotong kayu agar lurus terdapat banyak hal yang perlu diperhatikan seperti jenis gergaji dan gerakan tangan. Selalu berikan spare ketika memotong bahan dan berikan pertimbangan pada tebal mata pisau atau gergaji. Saya sudah cukup lama terobsesi dengan seni pengolahan kayu, goal saya adalah memiliki walaupun sebagian ketekunan dan ketelitian seorang Ishitani dari Ishitani Furniture (kamu bisa akses di youtube).

Semua ada ilmunya termasuk menulis artikel, saya nggak pernah terlalu memperhatikan komposisi suatu paragraf dan bagaimana mengatur agar suatu ide dituliskan sampai saat ini. Bagaimana artikel forbes.com begitu ringan walaupun membicarakan hal yang serius. Bagaimana artikel bisa terasa penuh harapan atau terasa seperti curhatan namun memiliki bobot didalamnya ? Apa yang saya perlu pelajari untuk sampai ke level tersebut ? 

Ada hal yang perlu dipelajari dan saya sangat tertantang untuk melakukannya sehingga diagnosa ketiga adalah saya perlu memahami bagaimana menyalurkan ide kedalam bentuk tulisan, struktur kalimat ataupun stuktur paragraf. Mungkin saya perlu membaca lebih banyak buku ? Mungkin melainkan buku lebih banyak artikel ? Baca buku mengenai komunikasi ? Mengenai jurnalisme ? Tata Bahasa ?