tidak dicatat melainkan diketik

Senin, 27 September 2021

Urip Iku Urup Chapter 1 : Menanam untuk siapa ?

Saya sedikit lebih gemar menanam sayuran sekarang, tidak terbatas di sayuran sebenarnya karena ada niatan untuk bisa menghasilkan pasokan buah tapi itu untuk nanti. Jadi itu ceritanya, saya sedang gemar menananm.

Tapi kalau dibedah lebih dalam mengenai excitement ini, pertanyaannya akan menjadi "Menanam untuk siapa ?", jawabannya bisa beragam. Mungkin saya menananm untuk diri saya sendiri, untuk mencoba peruntungan di bisnis agrokultur urban.

Atau jawaban lainnya bisa untuk keluarga saya, untuk memasok sayuran secara mandiri. Mungkin juga karena motif narcissism, untuk bisa jadi bahan pameran status WA atau saat ada tamu datang "Ini lho karya saya..". Walaupun terkesan sinis pada diri sendiri, kemungkinan ini baiknya tidak dihilangkan.

Jadi untuk siapa sebenarnya ? Saya rasa kemungkinan diatas tidak bisa dicoret, toh saya dan segala baik-buruknya memang ada dan masih beraksi. Tapi saya yakin saya bisa bertindak dengan motivasi yang lebih. Mungkin dibalik ambisi saya menciptakan pertanian urban super efektif terdapat keinginan untuk menyediakan makanan yang lebih terjangkau kepada semua orang. Mungkin saja.

Saya adalah semua hal baik dan hal buruk yang saya sudah lakukan, sedangk lakukan dan hendak lakukan.

Rabu, 22 September 2021

Dicabut, diabaikan.

Ada hari, malam-malam dimana saya merasa ditertawakan dunia. Saat harapan, cita cita dan doa seperti diabaikan-dicabut dari diri. Saat kaki berat melangkah pulang, ingin terus bertahan, ingin tetap berjuang.

Malam yang penuh ketakutan, rasa marah dan kekecewaan. Dan walaupun begitu saya pulang. Hari esok bisa menunggu, besok saya mungkin dicaci dan dipermalukan-tapi itu besok.

Malam ini saya pulang, untuk sekedar memberikan waktu diri ini untuk bersiap, untuk menjauh dan berlindung. Untuk mencuci tangan yang dihias luka goresan, mengganti pakaian yang kusut berlumpur, memberi siraman pada rambut yang dikotori tanah pasir dan kaki yang sehari ini terbungkus.

Dan saya pulang, kali ini bukan untuk istirahat melainkan bersiap. Karena besok ada pertarungan lainnya yang harus dihadiri, masalah yang perlu dicarikan solusi, pikiran dan ide yang perlu realisasi, keputusan yang perlu dipertimbangkan.