tidak dicatat melainkan diketik

Minggu, 01 Juni 2025

Storm

 Wah rasanya campur aduk setelah menyaksikan kakak sepupu yang sedikit lebih tua dari saya menikah. Rasanya senang karena saya tahu dia orang yang baik dan pekerja keras sehingga semua yang diraihnya saat ini memang pantas. Disisi lain, diri saya yang insecure terhadap posisi saya di kehidupan saat ini merasa semakin hilang arah dan tertekan.

Rasanya seperti waktu mundur menjadi terpotong menjadi lebih pendek. Bahwa semua hal tiba tiba ada dibelakang saya dan jujur saya tidak siap menghadapinya. I lost my way, I lost my confidence of my skills and my trade. Business is dimming into unknown. I wanna jump into another opportunity but suddenly something bites me in my ass keeping me on current state of suffering and waiting. It is bad. Very bad.

I hope this storm passed soon. My tummy is full, have a roof above my head and nice comfortable bedroom. In the actuality of current situation...I am safe. In a borrowed shelter of my parent's. 

Dear god, please...let the storm passes.

Jumat, 18 April 2025

One Man Army

So, today is a national holiday....and it has been terrible. 

Saya bangun pagi ini karena Keyla (adik saya) minta tolong diantar ke sekolah. Kegiatan ekskul atau OSIS saya ngga tau...yang saya denger cuma sabtu besok dia harus tampil di semacam pentas seni. Selalu sibuk, selalu banyak kegiatan. Tampak menyenangkan, tapi saya ngga tertarik pada pengalaman sekolah yang seperti itu sejak dulu.

Kabar pertama yang saya dengar hari ini adalah salah satu pekerja di bengkel ada yang kemungkinan akan resign. Orang ini selalu menjadi go-to ketika ada job bending plat. Saya cukup bisa mengandalkannya dan adanya dia di bengkel cukup meringankan beban saya. The thing is sebetulnya dia bekerja untuk bapak, gajinya dibayarkan bapak. Keterlibatannya dalam pekerjaan saya dikarenakan jobnya yang banyak waktu luang.

Dengan adanya kabar ini sebenarnya saya ngga kecewa juga ngga begitu pusing. Semua orang punya haknya untuk memperbaiki kehidupannya, sedikit sedikit mengambil kesempatan yang lebih baik dan selalu ada orang2 muda yang sedang butuh penghasilan diluar sana. Poin yang saya perhatikan lebih ke arah gaji yang kita (saya dan bapak) tawarkan ke orang2 yang bekerja untuk perusahaan ini.

Kita sebuah perusahaan kecil, walaupun PT... pada dasarnya kita ngga punya struktur perusahaan yang memadai. Operasional kita jalankan sendiri dari mencari pekerjaan, perencanaan produksi, purchasing hingga delivery. Idealnya tidak seperti itu...namun dengan kondisi yang kita hadapi day to day hal ini paling masuk akal untuk membuat perusahaan ini tetap survive. 

Dengan kondisi ini pun kita bukan perusahaan yang bisa menawarkan gaji UMR kepada semua pekerja kita. Pemula yang belum mempunyai skill tentu berbeda pendapatannya dengan yang sudah senior dan memiliki skill spesifik. Dengan penawaran gaji ini kita pun fair dalam permintaan kita terhadap kualitas pekerja yang tertarik untuk mencoba bekerja di bengkel ini, lebih dari sering kita menerima pekerja tanpa pengalaman dan tanpa skill.

It sounds like I'm trying to justify our inability to pay our workers by minimum wages :) wkwkwk

Beberapa hari ke depan tampaknya ada prospek pekerjaan yang lumayan besar. Kabar bahwa saya kehilangan satu faktor dari lancarnya pekerjaan ini berjalan cukup bikin saya khawatir. Tapi saya yakin semuanya bisa saya jalankan sendiri seperti biasa saja seperti sebelumnya.

Saya inget kutipan dari buku yang judulnya Sapiens, "Kemewahan cenderung menjadi kebutuhan di masa yang mendatang". Dengan adanya rekan bekerja yang ngga harus saya pikirin gajinya saya jadi terlalu nyaman dan lupa bahwa biasanya saya jalankan bisnis kecil Tekuk Plat ini sendiri. The only person you can depend on is yourself.

Meskipun dalam jangka panjang saya perlu membangun bisnis ini lebih proper dengan memiliki rekan kerja dan struktur perusahaan yang baik. For now...let's just wish for it.

Jumat, 03 Januari 2025

New year, new me?


 Judul yang klise dan juga ngga saya percayai. Hari ini bengkel sedang santai, ada pekerjaan yang bisa dikerjakan sebenarnya tapi bukan yang urgent. Jadi saya berangkat agak siang dan ngga banyak melakukan hal yang produktif. "Ngga banyak" juga sebenarnya melebih-lebihkan. There's a few things on my mind actually. Let's sort things out.

Yang pertama adalah planning. Kita menutup tahun lalu dengan rasa syukur dan flashback. Seakan mencoba mencari makna dari tahun lalu dan membanggakan pencapaian pencapaian kecil yang diraih. Bukan hal yang buruk sebetulnya, namun saya cuma ingin menghindari terbawa arus dengan berpikir semua yang terjadi tahun lalu terjamin kembali terjadi di tahun yang akan datang.

Nyatanya kehidupan tidak menjanjikan hal itu. Jalannya waktu memberikan naik turun yang pasti terhadap apapun. Ekonomi, kesehatan, hubungan asmara dan hubungan dengan keluarga, you name it. Jangan terlalu keras terhadap diri sendiri mereka bilang, namun kalau kita kembali mengulik lebih dalam di ambisi yang orang orang punya untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu apakah itu sebenarnya yang terjadi? 

Saya senang berpikir bahwa kenyamanan cenderung menjadi kebutuhan dan bukannya cara untuk menyayangi sesuatu atau seseorang adalah dengan mencukupi kebutuhannya dan memberikan kenyamanan dengan kadar yang mampu kita berikan dari waktu ke waktu. Oleh karenanya saya yakin terus menerus memiliki target yang lebih tinggi tiap tahun bukan sebuah kekejaman terhadap diri sendiri melainkan sebuah pertanggung jawaban untuk menjaga sesuatu yang mana adalah diri kita sendiri dan mungkin dalam perjalanannya kita bisa melakukan hal yang sama untuk orang orang yang kita sayangi.

Sebagai usaha mencoba mengulangi level pencapaian yang sama dengan tahun lalu, beberapa hal sederhana akan saya tetapkan sebagai target tahun ini. This, I will do perhaps tonight.

Yang kedua adalah urgensi. Ada beberapa hal yang terlantarkan yang terus menghantui saya mengenai kemungkinannya menggigit saya di bokong. Contohnya adalah ijazah, mungkin saya terlalu idealis dalam beberapa hal. Kepercayaan bahwa kemampuan seseorang tidak dihasilkan dari secarik kertas legal yang diberikan dari sekian lama waktu yang dianggarkan untuk mengikuti program pendidikan. Saya juga ngga percaya bahwa kemampuan seseorang secara natural terukir hasil dari mengikuti serangkaian kelas dan ujian. Oleh karena hal hal ini ijazah saya masih belum diambil hingga detik post ini ditulis.

Untuk mengurusnya ada beberapa orang yang harus saya hubungi dan beberapa langkah yang harus saya lewati dan beberapa bill yang saya harus bayar. Hal ini juga tidak membantu memberikan tugas menyelesaikan ijazah ini yang mana urgensinya rendah ditambah dengan halangan yang tinggi menjadi hal yang begitu sexy untuk dilakukan.

Hal yang dapat dipelajari dari hal ini adalah hubungan urgensi dan halangan terhadap kemampuan kita menyelesaikan suatu tugas. 

LOW URGENCY+HIGH RESISTANCE = PROCRASTINATION

Sebagaimana seorang pekerja yang melaksanakan tugasnya dengan harapan adanya kompensasi yang manis untuk waktu dan usaha yang diberikan. Saya yakin kemauan kita dalam menjalankan sebuah tugas memiliki sifat yang sama. Permasalahannya adalah saya, manusia idealis yang tidak melihat kebanggaan apapun dalam secarik kertas bernama ijazah. So, why bother? Kecuali ijazah menjadi penting untuk meraih target yang sudah saya tetapkan untuk tahun ini. Jadi saya rasa saya akan menyelesaikan tugas mengurus ijazah ini-tahun ini. Insyaallah :)

Yang ketiga adalah kejutan sebagai elemen yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Tidak ada jaminan semua hal akan berjalan sesuai rencana. Selalu ada kemungkinan bahwa mengurus ijazah sebagai contoh bisa menjadi sangat buruk lebih dari dugaan. Ngga ada yang bisa kita lakukan dengan hal ini kecuali dengan menghadapinya head on. Kemudian memberikan waktu untuk memproses kejutan apa yang menunggu kita dan opsi opsi yang kita punya untuk mengatasi permasalahan yang datang bersamanya.

Banyak hal cenderung tidak bisa diantisipasi, beberapa melumpuhkan kita untuk sekedar menjalani fungsi lain yang tidak ada hubungannya dengan kekhawatiran tersebut. Untuk yang ini saya pun masih perlu belajar bagaimana menghadapinya.

Cheers.