tidak dicatat melainkan diketik

Minggu, 26 Mei 2019

V**o V15

Malam selalu memberi ruang untuk hati mengucurkan isi yang dirasa tak perlu untuk ditampung terlalu lama. Juga untuk mengungkit kembali memori-ingatan yang kadang tertimpa peluh kerja keras saat matahari bersinar. Malam juga datang untuk sekejap berkumpul dengan yang terkasih, sebelum kantuk memisahkan. Lalu besok bangun lagi-perpisahan sementara tidak terhindarkan. Cerita lama...

Kehidupan terjadi diluar rumah hangat kita, terjadi di peperangan mulia yang abadi tentang mempertahankan karunia kehidupan. Terjadi di janji janji yang jika terpenuhi mampu mengisi mulut-bukan hanya kita. orang orang yang terkasih ? Dan begitulah roda berputar. Melambat tanpa permisi. Menggila tanpa peringatan. Melindas dengan kejam siapapun yang didepannya-yang tak kuat mengikuti dan yang tak beruntung untuk terlahir di kenyamanan kursi belakang mobil mobil yang sama terbirit-biritnya. Keadilan adalah konsep yang unik, seperti halnya cinta-jangan coba dipahami.

Sementara pikiranku melayang, suara TV dari luar merasuk ke dalam ruangan. Suara iklan smartphone terputar, rasa muak-ku dengan iklan itu cukup mempengaruhi mood. Iklan yang dibintangi seorang penyanyi dan seekor kucing itu seperti dirasa mereka tidak cukup untuk diputar sejam sekali- entahlah siapa dalang dibalik kegilaan ini yang berpendapat bahwa "Okey, semua ! Produk kita hanya akan terjual dipasaran jika kita menunjukkannya kepada seluruh rakyat negeri ini di setiap jeda iklan". Mereka gila. Mereka mencoba membuat semua orang gila seperti mereka. Pandanganku tentang perkembangan teknologi memang cenderung sinis.

Melihat sepuluh tahun lalu, ketika HP dengan harga harga terjangkau disebarkan keseluruh indonesia agar semua orang lebih mudah berkomunikasi perlu kita terima sebagai perkembangan pesat. Bayangkan stigma bahwa "Jarak Memisahkan Kita" seketika di abaikan dengan kemudahan berbicara bagi semua orang. Semudah menggerakan ibu jari. Nut...Ya, Halo ! Itu luar biasa. Lalu kita mengenal Internet yang juga dipublikasikan secara besar besaran. Menakjubkan, informasi dunia secara terbuka dapat diakses siapapun. Sebuah buah surga lainnya yang jatuh....dan siapa yang tidak mau ? Otak otak terbaik memanfaatkan kerinduan surgawi kita untuk membuat mereka saleh secara duniawi. Itu teknologi untukmu. Lalu muncul keinginan untuk dapat memiliki keduanya dalam satu alat. Seseorang mencium ini lalu terlahirlah Smartphone untuk umat manusia....Mewah. Premium.

Semenjak itu tidak banyak yang berubah, kini kita berlomba untuk menipiskan masing masing Smartphone kepunyaan kita, melebarkannya dan mempercepatnya. Terobsesi untuk menjadi yang terbaik dengan cara memiliki yang terbaik. Maksud saya, perlukah kita untuk memiliki Smartphone yang dapat membaca sidik jari, perlukah kita layar yang penuh ? Yang memiliki kamera depan 32 MP ? Apakah kita sebegitu berubah secara Genetika dari sepuluh tahun lalu ? Bahwa setiap manusia memerlukan asupan Youtube, Instagram dan informasi informasi dari negeri jauh disana ? Ekonomi sudah berjalan jauh sebelum kita dapat melihat pergerakan bursa saham dari Handphone ? Para Engineer mampu membangun Eiffel, Golden Bridge, Monas dan Bangunan megah yang masih bertahan kokoh hingga hari ini....Persetan teknologi ! Manusia berubah seakan hari ini tidak dapat dilalui dengan baik jika mereka tidak mengetahui apa yang teman temannya lakukan atau minuman apa yang mereka sedang nikmati atau dengan siapa mereka sedang menjalani hubungan-bagaimana kondisi hubungannya. Semakin gila kita ketika menyadari bahwa bokong keluarga Kardashian begitu penting... Semua ide punya kontradiksi, "Kemudahan" dalam kasus ini dapat disebut demikian. Kemudahan dekat sekali dengan Kemewahan.

Mari mengutip dari buku tulisan Yuval N. Harrari "Kemewahan cenderung menjadi kebutuhan" dia bilang. Yang mana secara mudah dapat dibenarkan dengan contoh sederhana. Bukan ungakapan yang terlalu intelektual, singkat dan rendah hati. Sejarah singkat telah membuktikan.


Minggu, 19 Mei 2019

Tidak, Terimakasih !

Perlahan terasa. Semakin dekat terlihat. Banyak pintu tersembunyi yang perlahan-satu dan dua terbuka. Tersingkap dan cahaya yang ditampung ruangan itu terbagi. Lorong suram ini terlihat sedikit lebih baik. Sementara bunyi langkah kakiku menghentak, semakin terang-semakin jelas. Ini rumah yang buruk-untuk ditinggali. Semua ruangan dilantai dua ini menyajikan nuansa gelap yang aku percaya akan mengental seiring matahari jatuh tenggelam. Ini buruk. Aku bilang. Ini baik, agen itu bilang. Mulut licin-nya suatu hari akan mendeskripsikan Kandang Sapi sebagai "Villa Alam Minimalis".

Sungguh, seiring waktu yang kuhabiskan mengenal bangunan ini semakin yakin dan bulat hatiku bahwa ini ide yang buruk. Sebuah ruangan yang pintunya sudah terbuka, menjadi Highlight-nya. Saya percaya hal hal religius. Oleh karena itu saya juga percaya hal hal ghaib. Dan ruangan ini yang aku deskripsikan dibawah ini memberikan bau-aroma ghaib yang semerbak. Sebuah kasur kotor berdebu berada dalam kondisi berantakkan seakan seseorang baru tidur disana, ada tirai yang mengelilinginya. Dan cahaya menerangi kasur tesebut seakan mengundangku untuk merebahkan tubuhku disana. Hangat tampaknya. Merebahkan diriku disana lalu apa ? Mengalami hal hal spiritual  diluar nalar ? Bukan maksudku menjelekkan rumah ini, bagaimanapun bentuk dan arsitek rumah ini amat memerhatikan kesan mewah saat membangun. Dan masih terasa demikian saat ini, mewah jika aku akan mendeskripsikannya dengan satu kata Positif. Kata negatif ? Horror.

Dan lagi, ide siapa yang berkata bahwa menutupi furnitur dengan kain putih adalah ide bagus ? Mengerikan. Satu lagi pertanyaan, kenapa sebuah rumah dijual beserta furniturnya ? Jawab, Tragedi. Secara logis itulah yang akan selalu menjadi yang pertama terlintas dibenak insan yang berpikir. Tragedi macam apa tepatnya ? Entahlah, Perceraian bisa, Penangkapan oleh KPK mungkin, Kebangkrutan masuk akal. Atau kita menuju sisi yang lebih gelap ? Kamu bisa bayangkan. Sebuah patung menyita perhatianku, aku sendiri tidak pernah mempunyai rumah yang memiliki patung. Maksudku, siapa yang punya ? Rumah rumah kita umumnya bukan Wayne Manor-nya Batman. Rumah menyeramkan ini punya, sebuah patung berwarna putih, granit ? Entahlah. Sosoknya seperti seorang filsuf yunani, aku yakin perempuan. Bergaun polos seperti piyama. Lihat bagaimana dia berpose, anggun menggoda. Ukurannya sebesar motor pada umumnya, lebih besar dari ukuran mausia sebenarnya. Bisa kubayangkan jika dia berdiri akan setinggi 2 meter lebih. Posenya duduk, seperti menyandar, tubuhnya ditopang tangan dan kakinya memanjang manja. Matanya melihat kearah jendela yang posisinya lumayan tinggi di lantai dua. Patung ini berada di lantai satu, apa sudah kuberi tahu ?

Sebenarnya jujur saja dengan tinggal di rumah yang sedemikian indah di bentuk tentunya akan meningkatkan prestise ku dimata keluarga dan kolegaku. Apalagi saat aku mengundang mereka makan malam, lalu mereka melihat patung wanita tersebut. Ah, sungguh. Mereka akan mulai memanggilku dengan sapaan Tuan atau Yang Terhormat. Dan mulai curiga apa aku secara diam diam berdandan seperti kelelawar pada malam hari untuk menghajar kriminal. Jangan sentuh jam antik itu atau sebuah ruangan rahasia akan terbuka ! Kamu mau tahu identitas rahasiaku ?

Jawabanku singkat, tidak . Terima Kasih, sampai jumpa, mungkin lain kali.

Kamis, 09 Mei 2019

Startup-Step eps 2 : Between Rage and Serenity

Seperti yang sebelumnya dibilang, aku sadar bahwa marah bukan pemicu terbaik untuk membuat atau melakukan sesuatu. Tapi bukan berarti tidak bisa, kemarahan dengan dosis yang tepat mungkin apa yang sebenarnya butuhkan. Terinspirasi dari film X-MEN : First Class, Charles Xavier percaya bahwa potensi terbaik seorang mutan manusia ada di titik antara kemarahan dan ketenangan. Secara sederhana dapat diartika bahwa kamu perlu dorongan untuk melakukan sesuatu-emosional dalam kasus ini, namun kamu butuh sesuatu untuk menjaga dorongan itu tetap mendorong selama mungkin. Bukan hanya ledakan dahsyat diawal, kita butuh sesuatu untuk mengalirkan ledakan emosi secara terarah dan perlahan sesuai kebutuhan.

Key-point : Terarah. Memiliki arah terasa fundamental memang, tapi bukannya bisnis adalah tentang ketidakpastian ? Terasa membingungkan untuk memahami ini. Memiliki arah dan tujuan selalu menjadi nilai lebih seseorang, karena mereka dapat dengan mudah dipercayai dan diikuti. Flexibilitas juga merupakan poin utama kenapa kita ingin menjadi pengusaha, iya kan ? Karena kita memuja kebebasan dan kehendak pribadi. Sungguh sebuah konsep yang menarik dan unik, untuk seorang yang begitu filosofis nan puitis seperti hamba.

Lagi, mungkin- kita butuh waktu untuk menentukan, untuk menjelajah imaji dan pengalaman. Untuk memilih apa titik akhir dari perjalanan yang kita sedang usahakan ini. Kemana kita akan melangkah dan mulai membayangkan semua aspek sedetail mungkin. Juga, untuk menemukan kemarahan. Sebuah ledakan yang akan kita simpan dalam diri kita selama perjalanan panjang ini. Mari membuat biodata ke-kanak-kanakan yang sering kita buat dibinder warna warni sewaktu kita muda dulu. Berisi hal hal seperti nama, makanan kesukaan, hobi, mainan kesukaan, warna kesukaan, alasan kemarahan, arah tujuan hidup dan hal hal lainnya yang telah kita lupakan selama ini.

   Nama  :Rifqi Damar
   Hobi    : Menghayal kehidupan dimana dia terasa penting
   Mainan Kesukaan   : Gergaji Jigsaw
   Makanan Ksukaan  : Semua hal selain kambing dan jeroan hewan
   Alasan Kemarahan  : Gagal jadi dokter
   Arah Hidup              : Diundang Kick Andy karena perusahaannya meluncurkan roket pertama Indonesia

Hari ini cukup, tulisanku agak kacau memang. Janji ya janji....ini update-ku yang telah kujanjikan.

Kamis, 02 Mei 2019

Startup-Step eps.1 : Keinginan

Sungguh kalau kamu tanya orang disekelilingmu tentang orang macam apa yang mereka ingin menjadi, jawabannya sederhana- orang berkecukupan yang tidak perlu berangkat setiap pagi dan pulang sore hari untuk membuatnya mungkin. Dan kalau kamu mulai bertanya apa aku merasa demikian ? Jawabannya sederhana, iya.

Dalam artian yang luas dari tidak perlu berangkat pagi pulang sore, saya telah memilih beberapa opsi tentang orang sepeti apa yang dimaksud. Untuk membuka pikiranmu bukan hanya seorang pengusaha atau entrepreneur saja yang memiliki kehidupan menyenangkan seperti itu, saya cuma mau mengatakan bahwa seorang dokter spesialis mungkin tidak perlu melakukannya, petani tidak perlu setiap hari melakukannya, peternak ikan lele tidak, penjual nasi goreng malam tidak pernah dan kamu pasti dapat polanya. Tidak perlu menjadi seorang dengan bisinis yang megah atau penjual beli saham, hidup semacam ini adalah pilihan. Dan bukan muluk muluk yang kamu perlu impikan, cukup hal hal sederhana yang mampu memungkinkanmu memiliki kehidupan macam ini. Hal ini disampaikan ayah saya beberapa waktu yang lalu dan menjadi sebuah persepsi baru, apa hanya sebuah perpindahan waktu kerja saja yang saya inginkan ???

Sewaktu SMA saya bermimpi untuk menjadi seorang ahli bedah, dokter dalam nama umumnya. Mengerahkan semua tenaga, uang dan pikiran. Berdoa. Berdoa. Dan diakhir cerita, tidak mendapatkannya. Setelah mencoba di belasan atau mungkin puluhan universitas selama 3 tahun terakhir hingga saya berada dititik dimana usia telah menjadi batas dan positifitas berubah menyedihkan. Saya yakin saya punya keinginan dan kegigihan yang tepat untuk menjadi seorang dokter yang baik. Mungkin saya bukan si jenius Irfan Hadiansyah yang dengan mudah memahami dan menyelesaikan berbagai permasalahan scientific, tapi seiring dengan waktu dan kerja keras saya yakin manusia dapat dibentuk. Saya akan sambut dengan gembira periode itu, dan hidup didalamnya selama waktu yang diperlukan. Suatu titik diantara itu dan sudah menjadi kapasitas manusia untuk berkembang sayangnya mereka tidak melihatnya seperti itu. Yep, satu kisah sedih lagi untuk menambah koleksimu. Ini mulai terasa seperti biografi, tapi cukup yakin saja bahwa tulisan ini akan saya update sesering mungkin seiring dengan perkembanganku. Ini semacam diary (yang punya ending beragam kemungkinan)

Ada masa kelam disana, dimana semua terasa membingungkan. Tanpa arah dan tujuan, melangkah-kadang beguling jungkir balik. Tidak semua orang berusaha sekeras yang aku lakukan, toh mereka mendapatkan mimpi mereka. Diterima diperguruan tinggi impian, mendapat beasiswa keluar negeri. Apakah menjadi keras kepala akan mimpimu dan melupakan apa kata orang sesuatu yang salah untuk dilakukan ? Apa mengabaikan semua tawa mereka dan terus berusaha itu salah. Dengan mengalir dan mengikuti peluang membawa mereka ke tempat tempat indah ditempat orang lain menancapkan pin di peta impian mereka menangis di selokan. Ada semacam kemarahan disini, sebuah dendam dan itu menyala membakar melebar seiring waktu. Sebuah keinginan untuk membuktikan, sampai saya menabrak limit saya dan semua menjadi jelas. Saya tidak bisa melakukannya dengan metode ini dengan menjadi itu, saya harus menjadi sesuatu yang lebih besar dari itu. Dan itulah kenapa saya menulis ini semua. Saya memiliki keinginan untuk menjadi lebih dari apa yang mereka telah menjadi sekarang. Dan jika saya melakukannya dengan cara yang sama seperti yang mereka lakukan saya takkan berada dimana mana dekat dengan tingkatan mereka. This way.

Kemarahan bukan alasan terbaik untuk memulai sesuatu, saya paham akan hal itu. Baru sekarang.