Sungguh kalau kamu tanya orang disekelilingmu tentang orang macam apa yang mereka ingin menjadi, jawabannya sederhana- orang berkecukupan yang tidak perlu berangkat setiap pagi dan pulang sore hari untuk membuatnya mungkin. Dan kalau kamu mulai bertanya apa aku merasa demikian ? Jawabannya sederhana, iya.
Dalam artian yang luas dari tidak perlu berangkat pagi pulang sore, saya telah memilih beberapa opsi tentang orang sepeti apa yang dimaksud. Untuk membuka pikiranmu bukan hanya seorang pengusaha atau entrepreneur saja yang memiliki kehidupan menyenangkan seperti itu, saya cuma mau mengatakan bahwa seorang dokter spesialis mungkin tidak perlu melakukannya, petani tidak perlu setiap hari melakukannya, peternak ikan lele tidak, penjual nasi goreng malam tidak pernah dan kamu pasti dapat polanya. Tidak perlu menjadi seorang dengan bisinis yang megah atau penjual beli saham, hidup semacam ini adalah pilihan. Dan bukan muluk muluk yang kamu perlu impikan, cukup hal hal sederhana yang mampu memungkinkanmu memiliki kehidupan macam ini. Hal ini disampaikan ayah saya beberapa waktu yang lalu dan menjadi sebuah persepsi baru, apa hanya sebuah perpindahan waktu kerja saja yang saya inginkan ???
Sewaktu SMA saya bermimpi untuk menjadi seorang ahli bedah, dokter dalam nama umumnya. Mengerahkan semua tenaga, uang dan pikiran. Berdoa. Berdoa. Dan diakhir cerita, tidak mendapatkannya. Setelah mencoba di belasan atau mungkin puluhan universitas selama 3 tahun terakhir hingga saya berada dititik dimana usia telah menjadi batas dan positifitas berubah menyedihkan. Saya yakin saya punya keinginan dan kegigihan yang tepat untuk menjadi seorang dokter yang baik. Mungkin saya bukan si jenius Irfan Hadiansyah yang dengan mudah memahami dan menyelesaikan berbagai permasalahan scientific, tapi seiring dengan waktu dan kerja keras saya yakin manusia dapat dibentuk. Saya akan sambut dengan gembira periode itu, dan hidup didalamnya selama waktu yang diperlukan. Suatu titik diantara itu dan sudah menjadi kapasitas manusia untuk berkembang sayangnya mereka tidak melihatnya seperti itu. Yep, satu kisah sedih lagi untuk menambah koleksimu. Ini mulai terasa seperti biografi, tapi cukup yakin saja bahwa tulisan ini akan saya update sesering mungkin seiring dengan perkembanganku. Ini semacam diary (yang punya ending beragam kemungkinan)
Ada masa kelam disana, dimana semua terasa membingungkan. Tanpa arah dan tujuan, melangkah-kadang beguling jungkir balik. Tidak semua orang berusaha sekeras yang aku lakukan, toh mereka mendapatkan mimpi mereka. Diterima diperguruan tinggi impian, mendapat beasiswa keluar negeri. Apakah menjadi keras kepala akan mimpimu dan melupakan apa kata orang sesuatu yang salah untuk dilakukan ? Apa mengabaikan semua tawa mereka dan terus berusaha itu salah. Dengan mengalir dan mengikuti peluang membawa mereka ke tempat tempat indah ditempat orang lain menancapkan pin di peta impian mereka menangis di selokan. Ada semacam kemarahan disini, sebuah dendam dan itu menyala membakar melebar seiring waktu. Sebuah keinginan untuk membuktikan, sampai saya menabrak limit saya dan semua menjadi jelas. Saya tidak bisa melakukannya dengan metode ini dengan menjadi itu, saya harus menjadi sesuatu yang lebih besar dari itu. Dan itulah kenapa saya menulis ini semua. Saya memiliki keinginan untuk menjadi lebih dari apa yang mereka telah menjadi sekarang. Dan jika saya melakukannya dengan cara yang sama seperti yang mereka lakukan saya takkan berada dimana mana dekat dengan tingkatan mereka. This way.
Kemarahan bukan alasan terbaik untuk memulai sesuatu, saya paham akan hal itu. Baru sekarang.
0 komentar:
Posting Komentar