tidak dicatat melainkan diketik

Minggu, 19 Mei 2019

Tidak, Terimakasih !

Perlahan terasa. Semakin dekat terlihat. Banyak pintu tersembunyi yang perlahan-satu dan dua terbuka. Tersingkap dan cahaya yang ditampung ruangan itu terbagi. Lorong suram ini terlihat sedikit lebih baik. Sementara bunyi langkah kakiku menghentak, semakin terang-semakin jelas. Ini rumah yang buruk-untuk ditinggali. Semua ruangan dilantai dua ini menyajikan nuansa gelap yang aku percaya akan mengental seiring matahari jatuh tenggelam. Ini buruk. Aku bilang. Ini baik, agen itu bilang. Mulut licin-nya suatu hari akan mendeskripsikan Kandang Sapi sebagai "Villa Alam Minimalis".

Sungguh, seiring waktu yang kuhabiskan mengenal bangunan ini semakin yakin dan bulat hatiku bahwa ini ide yang buruk. Sebuah ruangan yang pintunya sudah terbuka, menjadi Highlight-nya. Saya percaya hal hal religius. Oleh karena itu saya juga percaya hal hal ghaib. Dan ruangan ini yang aku deskripsikan dibawah ini memberikan bau-aroma ghaib yang semerbak. Sebuah kasur kotor berdebu berada dalam kondisi berantakkan seakan seseorang baru tidur disana, ada tirai yang mengelilinginya. Dan cahaya menerangi kasur tesebut seakan mengundangku untuk merebahkan tubuhku disana. Hangat tampaknya. Merebahkan diriku disana lalu apa ? Mengalami hal hal spiritual  diluar nalar ? Bukan maksudku menjelekkan rumah ini, bagaimanapun bentuk dan arsitek rumah ini amat memerhatikan kesan mewah saat membangun. Dan masih terasa demikian saat ini, mewah jika aku akan mendeskripsikannya dengan satu kata Positif. Kata negatif ? Horror.

Dan lagi, ide siapa yang berkata bahwa menutupi furnitur dengan kain putih adalah ide bagus ? Mengerikan. Satu lagi pertanyaan, kenapa sebuah rumah dijual beserta furniturnya ? Jawab, Tragedi. Secara logis itulah yang akan selalu menjadi yang pertama terlintas dibenak insan yang berpikir. Tragedi macam apa tepatnya ? Entahlah, Perceraian bisa, Penangkapan oleh KPK mungkin, Kebangkrutan masuk akal. Atau kita menuju sisi yang lebih gelap ? Kamu bisa bayangkan. Sebuah patung menyita perhatianku, aku sendiri tidak pernah mempunyai rumah yang memiliki patung. Maksudku, siapa yang punya ? Rumah rumah kita umumnya bukan Wayne Manor-nya Batman. Rumah menyeramkan ini punya, sebuah patung berwarna putih, granit ? Entahlah. Sosoknya seperti seorang filsuf yunani, aku yakin perempuan. Bergaun polos seperti piyama. Lihat bagaimana dia berpose, anggun menggoda. Ukurannya sebesar motor pada umumnya, lebih besar dari ukuran mausia sebenarnya. Bisa kubayangkan jika dia berdiri akan setinggi 2 meter lebih. Posenya duduk, seperti menyandar, tubuhnya ditopang tangan dan kakinya memanjang manja. Matanya melihat kearah jendela yang posisinya lumayan tinggi di lantai dua. Patung ini berada di lantai satu, apa sudah kuberi tahu ?

Sebenarnya jujur saja dengan tinggal di rumah yang sedemikian indah di bentuk tentunya akan meningkatkan prestise ku dimata keluarga dan kolegaku. Apalagi saat aku mengundang mereka makan malam, lalu mereka melihat patung wanita tersebut. Ah, sungguh. Mereka akan mulai memanggilku dengan sapaan Tuan atau Yang Terhormat. Dan mulai curiga apa aku secara diam diam berdandan seperti kelelawar pada malam hari untuk menghajar kriminal. Jangan sentuh jam antik itu atau sebuah ruangan rahasia akan terbuka ! Kamu mau tahu identitas rahasiaku ?

Jawabanku singkat, tidak . Terima Kasih, sampai jumpa, mungkin lain kali.

0 komentar:

Posting Komentar