Biasanya menyenangkan untuk menjajal ide baru. Saya sebutkan "biasanya" karena tidak terasa demikian belakangan ini. Kalau perlu dijelaskan, sepertinya ada perasaan takut yang membuat saya jadi kurang bisa merasakan excitement dari mengerjakan suatu proyek baru. Saya pikir rasa takut ini datang dari kecenderungan saya untuk tidak menyelesaikan proyek proyek terdahulu, jadi seperti pikiran "Ah, nanti juga mandek lagi...".
Hal yang sama terjadi pada blog yang saya sedang kembangkan saat ini tekind.xyz. Tekind.xyz direncanakan untuk menjadi semacam majalah ringan mengenai topik topik Industri dan Manajemen, dan diproyeksikan menjadi go-to nya mahasiswa Teknik Industri untuk menghabiskan waktu luang. Saya masih yakin ini ide yang bagus namun kalau boleh jujur saya seperti kehabisan bensin saat ini.
Tujuan saya membuat blog ini tadinya nggak terlalu besar, saya cuma mau membuat buku catatan mengenai apa saja yang saya pahami di bidang Teknik Industri kemudian mucul keinginan untuk membuat buku catatan ini agar dapat dinikmati lebih banyak orang. Menyelam sambil minum air ?ada juga harapan agar nantinya blog ini bisa menjadi passive income dari kunjungan dan iklan.
Saya mulai menulis artikel dan mencari tone menulis yang cocok namun setelah dua artikel saya kehilangan arah. Rasanya seperti saya nggak punya apa apa untuk dibahas, opini saya dibentuk dari kutipan buku sehingga sangat sulit menyalurkannya dengan gaya yang saya inginkan. Artikel saya terasa kaku dan saya mau tau apa yang membuatnya sangat kaku.
Sekarang apa yang saya rasakan adalah pikiran yang terlalu berisik untuk menjadi produktif, sangat banyak hal untuk dipertimbangkan dan segudang hal untuk diperbaiki. Ditambah lagi dengan pikiran yang merusak dari proyek saya sebelumnya yang tergeletak tidak berprogres. "It just going to end up like another...".
Saya masih berpikir ini merupakan ide yang bagus oleh karena itu saya ingin tau apa masalah yang sebenarnya saya hadapi, salah satu artikel forbes yang saya baca barusan menyarankan berbicara dengan orang lain untuk mengatur pikiran yang berisik "Monkey Mind" mereka sebutnya. Alternatif yang diberikan adalah dengan menulis. Yang kedua dirasa lebih cocok.
Maybe it is me that silly.....
Diagnosa pertama saya, ada kemungkinan besar bahwa memang sebenarnya saya nggak paham apa apa mengenai teknik industri. Hal ini mengakibatkan teori datang lebih dulu sebelum reasoning. Hal ini mengakibatkan artikel saya terasa palsu dan cenderung terlalu menghibur dan kurang kaya dalam kemampuannya untuk bisa relate dengan permasalahan sehari hari. Kalau menurut Simon Sinek, "Why"-nya belum ketemu. Artikel saya terasa seperti acara promosi ruangguru (dan saya sangat benci ruang guru) yang terlalu berusahan membungkus suatu topik agar tampak manis sampai kepoin dimana tampak tidak natural.
Opini saya adalah ruangguru terlalu mencoba memetik daun jambu kemudian mencelupkannya ke sirup marjan agar orang yang diare mau memakannya. Nggak salah, cuma kurang sreg saja dimata saya. Kalau seorang yang diare perlu untuk mengunyah daun jambu tersebut saya ingin dia melakukannya karena kesadaran bahwa kalau dia tidak melakukannya ada kemungkinan dia akan tewas karena dehidrasi atau karena pengetahuan bahwa diare diakibatkan oleh bakteri dipencernaan dan daun jambu terbukti dapat meredakan gejala diare.
Apa blog saya dimaksudkan untuk menolong orang sakit ? Tidak. Tapi mari setuju bahwa pengetahuan sekecil apapun ada harganya dan saya merasa untuk menyediakan sedikit untuk diakses diinternet dalam bentuk artikel. Apa artikel tersebut rasanya pahit seperti daun jambu ? Bisa dibilang iya. Ada resource yang perlu dikorbankan untuk mengaksesnya, meskipun kuota kamu unlimited pun kamu bayar setiap bulan dan meskipun kuotamu gratis ada waktu dan energi yang kamu berikan untuk membaca artikel tersebut.
Saya perlu menggodok artikel saya agar tidak hanya dapat dinikmati namun secara jelas dan jujur membuatnya dapat menawarkan nilai tambah bagi yang menikmatinya.
Kurang Asik
Ada pemikiran ini dimana saya yakin kalau seseorang punya bakat melucu dia bisa lebih luwes menyampaikan opininya. Saya dulu terobsesi dengan bagaimana seorang Panji Pragiwaksono menyampaikan keresahannya mengenai berbagai topik. Dia selalu bisa tampil make sense dan agreeable saat menyampaikan opini didepan ratusan bahkan mungkin ribuan orang di acara standup comedy yang dia gelar.
Dia bisa bahas opininya mengenai hubungan percintaan hingga pendidikan didepan banyak orang dan semua seperti setuju hingga poin bisa bersama menertawakan topik yang diangkat. Ayo kasih nama lain seperti Ricky Gervais yang dengan percaya diri menertawakan kisah Noah di alkitab didepan society yang mayoritas kristian atau protestan (dan suara tertawa penonton juga riuh). Apa mereka orang paling kredibel untuk melakukan hal tersebut ? Saya rasa nggak.
Tapi faktanya mereka di tonton, mendapatkan sambutan, sukses pada acara tersebut dengan mendapatkan response yang diinginkan (tertawa) dan mereka disana menyampaikan opini bukan pukul pukulan styrofoam. Kalau dipikir hebat juga, dan kamu tau apa lagi yang menakjubkan ? Mereka dibayar.
Pertanyaan saya menjadi apakah kemampuan mereka mengartikulasikan opini datang dari pemahaman atau opini yang begitu meyakinkan tersebut merupakan hasil dari kemampuan mereka berbicara ? Mana yang menjadi produk ? Lucunya atau opininya ?
Diagnosa kedua adalah, saya berkemungkinan besar kurang menguasai bagaimana berkomunikasi dengan manusia sebagaimana umumnya. Tinggalkan dulu menjadi humoris. Saya bukan makhluk sosial yang paling fungsional, teman saya sedikit dan teman lama saya nggak terlalu dekat saya juga punya kesulitan untuk membuat teman baru.
Bagaimana hal ini berhubungan dengan kemampuan saya menulis artikel terdapat dari bagaimana saya bisa relate dengan permasalahan pribadi dan bersama menertawakan ironi yang terjadi. Saya nggak bisa jadi lucu, sedangkan artikel yang mudah dinikmati adalah yang menghibur. Opsi yang tersedia adalah menjadikan humor sebagai produk dari pemahaman yang mendalam. Akan sulit, tapi menyenangkan mengetahui bahwa belajar lebih giat tidak hanya membuat saya lebih aneh tapi juga lebih lucu (kemungkinan)
Bukan Jurnalis
Semua hal ada ilmunya, saya baru paham ungkapan ini setelah saya menggeluti hobi kayu. Bahkan untuk memotong kayu agar lurus terdapat banyak hal yang perlu diperhatikan seperti jenis gergaji dan gerakan tangan. Selalu berikan spare ketika memotong bahan dan berikan pertimbangan pada tebal mata pisau atau gergaji. Saya sudah cukup lama terobsesi dengan seni pengolahan kayu, goal saya adalah memiliki walaupun sebagian ketekunan dan ketelitian seorang Ishitani dari Ishitani Furniture (kamu bisa akses di youtube).
Semua ada ilmunya termasuk menulis artikel, saya nggak pernah terlalu memperhatikan komposisi suatu paragraf dan bagaimana mengatur agar suatu ide dituliskan sampai saat ini. Bagaimana artikel forbes.com begitu ringan walaupun membicarakan hal yang serius. Bagaimana artikel bisa terasa penuh harapan atau terasa seperti curhatan namun memiliki bobot didalamnya ? Apa yang saya perlu pelajari untuk sampai ke level tersebut ?
Ada hal yang perlu dipelajari dan saya sangat tertantang untuk melakukannya sehingga diagnosa ketiga adalah saya perlu memahami bagaimana menyalurkan ide kedalam bentuk tulisan, struktur kalimat ataupun stuktur paragraf. Mungkin saya perlu membaca lebih banyak buku ? Mungkin melainkan buku lebih banyak artikel ? Baca buku mengenai komunikasi ? Mengenai jurnalisme ? Tata Bahasa ?