tidak dicatat melainkan diketik

Selasa, 21 Desember 2021

Menuju 2022

Berapa banyak buku self-help yang perlu dibaca ?

Berapa kuliah online Jordan Peterson yang perlu ditonton ?

Pertanyaan yang sederhana, menunjukan keinginan dan ketidak sabaran akan proses yang saya alami. Ini akhir tahun 2021, saya berada ditahapan akhir perkuliahan S1 saya. Skripsi dan urusan urusan lainnya memakan  banyak waktu sadar saya untuk sekedar dipikirkan atau direalisasikan. Yang pertama lebih sering terjadi.

Kata procrastination jadi lebih familiar sekarang, proses yang saya alami saat ini mengajarkan bahwa kata ini lebih dari sekedar menunda-nunda melainkan menunda-nunda dengan keadaan sadar dan terikat pada beban serta pengetahuan bahwa kegiatan tersebut pada akhirnya perlu dilakukan. Cepat atau lambat, sulit atau mudah.

Menunda pekerjaan, seperti yang saat ini saya lakukan dengan menulis post ini terasa aneh. Kalau saya menanyakan diri saya sendiri mengenai "Apakah saya tidak ingin melakukannya ?", jawaban saya selalu ya-saya ingin. Saya ingin melakukan pekerjaan tersebut, terdapat rasa bangga dan lepas saya pikir jika saya bisa menyelesaikan hal tersebut. 

Kalaupun saya tidak merasa ingin melakukannya, saya pikir dalam gambaran yang lebih besar saya ingin. Ambil contoh mengerjakan quiz, hal tersebut bisa jadi berat dibeberapa waktu namun digambaran besarnya quiz diperlukan untuk menguji kapabilitas dan pemahaman saya terhadap suatu materi dan karena saya berorientasi untuk menjadi lebih baik di bidang saya, saya pada dasarnya ingin melakukan/ mengerjakan quiz. Lalu kenapa tidak mengerjakannya sekarang ? Well...

Tugas saya di akhir tahun ini adalah mencari solusi permasalahan ini. Bukan hal yang sulit, juga bukan hal yang mudah. Tahun ini meninggalkan banyak penyesalan, kehilangan beberapa kerabat dan banyak target yang tidak tercapai. Semua penyesalan tersebut tidak selalu menjadi dampak dari kegiatan menunda-nunda akut yang saya sering lakukan, tapi saya yakin saya bisa melakukan lebih jika saya bisa terbebas dari candu ini. Pada akhirnya kita berdoa..

Tuhan, tahun 2022 ini tolong lebih pengertian-berikan saya kesempatan untuk berkembang menjadi potensi terbaik saya, lindungi keluarga saya dan kucing saya ketika saya lengah, ingatkan saya agar tak terbuai dengan kenikmatan dan kenyamanan. Terimakasih atas lindunganmu di tahun 2021 ini.

Selasa, 09 November 2021

Teladan

Ing Ngarso Sung Tulodho. Yang didepan menjadi teladan.

Tapi apa teladan yang kita maksudkkan disini, apakah menjadi manusia yang luhur dan berbudi pekerti ? Manusia yang ambisius ? Manusia yang terobsesi ? Kata teladan berkonotasi baik, namun baik selalu terasa pribadi dan relatif pada hal yang lebih kompleks. Oleh karena itu menjadi didepan bukan hanya memberikan kita pertanyaan, tetapi juga sebuah beban untuk menjadi sesuatu yang dinilai umumnya baik.

Kemudian pertanyaannya adalah apa yang umumnya baik ? Perlukah kita membuat studi untuk memetakan persepsi masyarakat mengenai baik ? Karena "baik" yang seperti ramah, sopan dan jujur sudah tertanam dalam pikiran semua orang, saya merasa kita perlu lebih spesifik lagi mengenai "baik" mengingat masih saja banyak orang yang dapat dinilai tidak baik berkeliaran di sekitar kita.

Mungkin kita perlu lebih spesifik merumuskan tentang bagaimana melainkan apa. Bagaimana menjadi orang baik, bagaimana untuk tidak menjadi orang yang "tidak baik". Tapi mungkin itu untuk kelanjutannya nanti, pertanyaan kita harusnya masih mendasar, bagaimana orang yang "baik" sebenarnya ?

Ide saya adalah untuk tidak mendefinisikan baik sebagai sesuatu yang universal, melainkan membuatnya parsial dan unik antara satu kepentingan dan yang lainnya. Ibu yang baik berada di samping anaknya selama masa pertumbuhan mengkondisikan makanan dan rumah yang nyaman untuk memfasilitasi tumbuh kembang anaknya. Tapi Ibu yang baik juga bisa menjadi seorang yang mengejar karir, mengabaikan insting keibuan untuk mencoba menghadirkan dunia yang lebih baik untuk anaknya kelak. 

Kemudian kebaikan dipengaruhi oleh penilalian masing masing individu, mengenai mana yang lebih bermakna. Sehingga teladan yang kita bicarakan menjadi tidak terdefinisi dengan jelas dan kita kembali ke pertanyaan awal.

Mungkin melainkan semacam aturan main, teladan merupakan sebuah sikap. Sikap menunjukan secara nyata melalui tindakan dan keputusan yang mencerminkan nilai yang sebuah komunitas ataupun sekelompok individu anggap bermakna. Mungkin saja...

Rabu, 27 Oktober 2021

BATMAN

It feels like a part of my brain is already asleep right now, sleep would be good but awake feels more proper. Batman tidak tidur, dia patroli keliling kota dan menghajar kriminal hingga level dimana kriminal tersebut memerlukan therapy untuk sisa hidupnya (baik fisik maupun psikis). Batman seorang psycho jika kita renungkan kembali.

Hal lain yang lucu adalah DC sangat terobsesi untuk mereboot potrayal sosok ini dalam bentuk film. Favorit saya saat ini Ben Affleck, Bale juga lumayan-jujur saya kurang sreg dengan potrayal Batman yang sedikit jadul. Ambil contoh Batman and Robin sebagai yang paling extreme, seperti melupakan satu dasar paling fundamental dari Batman yaitu kejiwaan.

Orang ini melihat orangtuanya ditembak dan menyaksikan detik detik nyawa mereka meninggalkan tubuh diumur belia. Jika seseorang berpikir orang yang yang sama akan berdandan seperti kelelawar lengkap denga kartu ATM bertemakan kelelawar tentu dapat memo yang saya maksud "kejiwaan" tapi kartu ATM Kelelawar bukan suatu kondisi kejiwaan yang cukup tepat. Oh ya "Bat-Nipple", percakapan seperti apa yang seorang Bruce Wayne miliki dengan pembuat kostumnya mengenai detailing pentil ? 

Kemudia mari kita tidak bahas mengenai Val Kilmer, tidak ada yang salah dengan Val namun script filmnya terlalu men-"Catatan Hati Seorang Istri"-kan Val Kilmer sebagai aktor. Riddler diperankan terlalu ekstrem oleh seorang Jim Carrey, like...come on ! Riddler ini kriminal...

Saat postingan ini ditulis Trailer ke 2 "The Batman" sudah dirilis lebih dari 2 minggu, impresi saya adalah film ini terasa menjanjikan untuk menggambarkan fundamental dari Batman yaitu "Kejiwaan" dan saya rasa interpretasi permasalahan kejiwaan ini diambil kearah yang tepat dengan unsur kemarahan dan tabiat menrusak diri. 

"I am Vengeance" dan "I don't care what happens to me.." cukup menggarisbawahi penggambaran yang saya sebutkan tadi. Membuat film ini menjadi film yang saya tunggu. Mungkin film ini bisa jadi penutup dari percobaan DC untuk mengangkat karakter Batman ke layar lebar setelah menghadirkan banyak versi.

Ada harapan untuk Ben Affleck dapat terus menjadi Batman dari franchisenya DC, tapi saya bisa saja berubah pikiran. Ben Affleck is really written  nicely at Zack Snyder JL. Pattinson's script feels promising.




Rabu, 13 Oktober 2021

Multi-dimensional

 Chubbyemu mungkin baru saja memberikan pencerahan yang selama ini saya cari cari. Dalam videonya yang berjudul "You can't be anything you want", Bernard menyatakan kebenciannya terhadap satu ide.

Ide tersebut adalah kecenderungan untuk mengidentifikasi diri sebagai satu hal, satu dimensi seperti "Saya Dokter", "Saya Engineer", "Dia Ibu Rumah tangga" dan saya merasa ada satu bagian dari kebingungan saya yang seperti jatuh ditiup angin.

Semua orang seperti mencari cari satu arti yang absolut terhadap hadirnya mereka di dunia ini. Namun kemungkinan bahwa alasan kita berada di dunia ini mungkin bukan hanya satu atau bahkan tidak ada alasan. Maksud saya siapa yang tahu ?

Arti kehidupan mungkin berbentuk aksi bukan status, bukan pekerjaan atau jabatan. Melainkan sebuah pencapaian tapi sebuah karya. Bernard sendiri memiliki dua degree yaitu Engineering dan Medis, orang ini seorang petualang.

Untuk melihat diri kita ataupun orang lain sebagai seorang yang punya banyak sisi. Kamu bisa jadi mahasiswa, pekerja, penulis, petani dan gamer dalam satu waktu. Fokus diri pada apa yang kamu sukai dan menjelajah untuk membuat apa yang kamu sukai terasah dan cukup baik untuk jadi unik.


Senin, 27 September 2021

Urip Iku Urup Chapter 1 : Menanam untuk siapa ?

Saya sedikit lebih gemar menanam sayuran sekarang, tidak terbatas di sayuran sebenarnya karena ada niatan untuk bisa menghasilkan pasokan buah tapi itu untuk nanti. Jadi itu ceritanya, saya sedang gemar menananm.

Tapi kalau dibedah lebih dalam mengenai excitement ini, pertanyaannya akan menjadi "Menanam untuk siapa ?", jawabannya bisa beragam. Mungkin saya menananm untuk diri saya sendiri, untuk mencoba peruntungan di bisnis agrokultur urban.

Atau jawaban lainnya bisa untuk keluarga saya, untuk memasok sayuran secara mandiri. Mungkin juga karena motif narcissism, untuk bisa jadi bahan pameran status WA atau saat ada tamu datang "Ini lho karya saya..". Walaupun terkesan sinis pada diri sendiri, kemungkinan ini baiknya tidak dihilangkan.

Jadi untuk siapa sebenarnya ? Saya rasa kemungkinan diatas tidak bisa dicoret, toh saya dan segala baik-buruknya memang ada dan masih beraksi. Tapi saya yakin saya bisa bertindak dengan motivasi yang lebih. Mungkin dibalik ambisi saya menciptakan pertanian urban super efektif terdapat keinginan untuk menyediakan makanan yang lebih terjangkau kepada semua orang. Mungkin saja.

Saya adalah semua hal baik dan hal buruk yang saya sudah lakukan, sedangk lakukan dan hendak lakukan.

Rabu, 22 September 2021

Dicabut, diabaikan.

Ada hari, malam-malam dimana saya merasa ditertawakan dunia. Saat harapan, cita cita dan doa seperti diabaikan-dicabut dari diri. Saat kaki berat melangkah pulang, ingin terus bertahan, ingin tetap berjuang.

Malam yang penuh ketakutan, rasa marah dan kekecewaan. Dan walaupun begitu saya pulang. Hari esok bisa menunggu, besok saya mungkin dicaci dan dipermalukan-tapi itu besok.

Malam ini saya pulang, untuk sekedar memberikan waktu diri ini untuk bersiap, untuk menjauh dan berlindung. Untuk mencuci tangan yang dihias luka goresan, mengganti pakaian yang kusut berlumpur, memberi siraman pada rambut yang dikotori tanah pasir dan kaki yang sehari ini terbungkus.

Dan saya pulang, kali ini bukan untuk istirahat melainkan bersiap. Karena besok ada pertarungan lainnya yang harus dihadiri, masalah yang perlu dicarikan solusi, pikiran dan ide yang perlu realisasi, keputusan yang perlu dipertimbangkan.


Minggu, 22 Agustus 2021

Decision, decision, decision.

 Oke, keadaan menjadi lebih baik sekarang. Paling tidak keadaan psikologis saya. Ada perasaan lega karena sebagian dari apa yang ingin saya lakukan sudah saya lakukan. Ada juga bagian yang haus untuk meminta lagi dan lagi.

Ada 3 aspek yang ingin saya perbaiki sekarang dari diri saya. Yang pertama adalah mengenai kuliah. Saya sedikit resah belakangan karena mulai merasa kuliah tidak ada artinya. Seperti perasaan dikecewakan oleh sistem yang gagal untuk membentuk saya. Saya nggak bisa terlalu menyalahkan sih, karena saya akui saya agak susah diatur dan cenderung melangkahi track yang diatur. It feels like i am cheating but dengan cara yang jujur. White Cheating ? Mungkin kata yang paling tepat outsmarting the system. So, yeah sekarang saya berada di tingkatan ini penuh dengan kehampaan, Impostor Syndrom ?

Kedua adalah mengenai skill real life, okelah saya bisa baca beberapa buku dan mastering Indnustrial Engineering dari buku2 tersebut. In fact sudah saya targetkan untuk dilakukan bulan depan, September 2021. Tapi bacaan ya bacaan, kalau saya gagal untuk menemukan koneksinya dengan real life atau kalau muluk muluk untuk bisa menerapkannya di kehidupan nyata ya untuk apa ? Nanti cuma bakal lupa doang. Saya rasa seorang mahasiswa harus punya ini, semacam media untuk mencoba ilmu barunya-seperti punching bag untuk mencoba jab yang baru diajarkan.

I am lucky to have it, saya punya perusahaan ayah saya untuk dijadikan canvas. Dan ini yang membawa saya ke aspek ke 3. Penganggaran resources, saya sudah cukup tumbuh untuk mengerti mengani berharganya energi dan waktu. Sometimes you have the energy but you don;t have the time. Sometime it's reversed and that i feel is sucks. Tentu saya nggak terlalu berbesar kepala untuk bilang 24 jam itu kurang dalam 1 hari, masih ada halangan yang datangnya dari diri saya, procrastiination.

Mengenai aspek ketiga, saya masih belum menentukan kebijakan saya, opsinya ada dua mungkin. Pertama saya akan fokus membangun usaha saya sendiri. Kedua saya akan mencoba lebih aktif di workshop. Keduanya merupakan opsi yang feasible, namun saya pikir akan lebih mudah untuk mengambil yang pertama; selain lebih bebas saya juga akan membangun kredibilitas saya dalam berusaha. Minusnya terdapat pada resources berupa finansial mungkin dan pemasaran. Saya mungkin gak selalu bisa melakukan nya sendiri, mungkin saya akan utuh bantuan orang lain. Again, i haven't decided.

Opsi kedua memang lebih aman dan lebih mungkin untuk terjadi, resikonya akan sedikit lebih kecil karena saya tidak secara total in control. Mungkin satu satunya yang membuat saya kurang memilih opsi ini adalah ego. I need to decide.

Ada opsi lainnya juga, dari usaha yang hendak saya lakukan ada beberapa opsi yang harus dipilih. Furniture, Blogging dan Farming. Farming rasanya paling feasible, blogging paling ekonomis dan juga sejalan dengan agenda bulan September saya, sedangkan furnitur paling butuh banyak biaya tapi paling mudah dalam penjualan (produknya ada dan bisa dijual di online). Again, must decide.

Semakin lama saya memutuskan semakin dekat saya dengan perkuliahan semester depan yang saya rasa akan sedikit lebih rumit, offline atau online ? entahlah. Permasalahan pengulangan mata kuliah juga masih belum selesai, jujur saja-jikapun saya akan ditendang dari program saya merasa OK saja, 

Agak sedikit kecewa pastinya karena kemungkinan saya akan gagal jadi dosen tapi kalau dipikir2 waktu dan tenaga yang saya akan kerahkan ke perkuliahan S2 terasa kurang worth it. Enak sih dapat waktu tambahan untuk mengembangkan income saya selepas lulus tapi saya juga kurang yakin akan bisa melakukannya dangan perkuliahan S2 yang saya ekspektasikan akan sepenuhnya berbeda. Jadi mungkin menghadapi rasa takut head to head dengan job hunting dan pengangguran adalah opsi yang cukup bijak, yang memberatkan adalah uang gedung 10 juta yang sudah dibayarkan 7 juta. Kalau bisa begitu saya akan lulus di 2022 pertengahan. Enough time to grinding my ambition on building my business....i guess for this one we can only wait and see.

Rabu, 18 Agustus 2021

It's okay, take your time

 Draft sudah di buat, sepertinya bisa dibagi dua membuat masing masing artikel lebih mudah dicerna. tekind.xyz sepertinya akan jadi the next big thing untuk saya. Yang saya rasakan adalah keterburu buruan untuk saat ini, seperti rasa haus untuk lagi dan lagi menulis dan menghasilkan tulisan yang berarti. Saya juga merasakan haus untuk menjadi lebih baik dalam menulis, saya mulai memperhatikan komposisi dari suatu artikel, kecepatan menyampaikan idenya, intermezzo dan karakter penulisnya.

Menulis memang bukan hal baru bagi saya, blog ini sudah berjalan dari tahun 2017, sepertinya ?? Namun saya nggak pernah merasa sebegitu terobsesi sebelumya dan kalau kamu perhatikakn volume menulis saya di blog ini pun meningkat. Saya juga belajar membagi fokus dengan 2 kegiatan lainnya 3 malahan, kuliah, bertani dan marketing julang raya. Masih belum efektif sebenarnya, tapi saya yakin masih ada luas ruang untuk berkembang.

Saya juga lebih aktif dalam working out sekarang, 100 pushup, 80 situp, 30 bicycle, 2 menit planking. Rencananya akan saya tingkatkan lagi. Saat ini tertarik dengan calisthenic.

Peningkatan ini mungkin juga akibat berkurangnya dan jelasnya role saya sekarang di Julangraya, sebelumnya saya datang ke workshop kebanyakan untuk sekedar hadir dan menghabiskan wktu menunggu adanya pekerjaan yang bisa saya lakukan tapi sekarang dengan berkurangnya penjualan aktivitas kita jadi lebih berfokus ke marketing di internet dan saya mengambil sedikit tanggung jawab dengan menjalankan 1 sub domain disini. Saya juga mulai merambah sosial media, rencananya saya akan mengintegrasikan srtikel tekind.xyz sebagai content filler dari akun bisnis milik julang raya.

Masih belum tahu juga apakah level produktifitas ini akan tetap bertahan saat semuanya kembali normal, untuk sekarang saya cuma bisa menjalani hari hari as best as i can.

Minggu, 15 Agustus 2021

Kurang Tidur

 Apa sangat penting untuk selalu memberi ?

Terdapat peningkatan dalam hidup saya, lebih produkstif, lebih berkualitas dan lebih bersosial. Mengenai yang terakhir, memiliki lebih banyak interaksi dengan sesama secara mengejutkan terasa  menyenangkan. Saya lebih aktif di media sosial belakangan ini; facebook, twitter dan instagram. Mungkin dikarenakan saya yang ingin mempromosikan bisnis orangtua saya jadi secara tidak sengaja menjadi terbawa.

Yang saya temukan adalah, setiap orang bisa melakukan banyak sekali hal dalam satu hari, namun tidak semuanya. Terdapat porsi yang seperti ditentukan mengenai berapa banyak hal yang dapat seseorang lakukan dalam sehari dan porsi ini beragam pada setiap orang. Jujur saja saya masih belum tau apakah porsi ini dapat ditambahkan atau dikurangi. Saya berniat menambahkannya.

Upaya yang saya lakukan adalah mengurangi jam tidur. Jam 9PM-3AM saya rasa cukup untuk manusia muda seperti saya, 6 Jam memang kurang tapi untuk mendapatkan sesuatu saya rasa memang sudah seharusnya memberikan hal lainnya. Saya memberikan sebagian waktu tidur saya dan pada awal penerapan tidak terasa ada perubahan.

Saya bangun lebih pagi tidur lebih awal, siang hari terasa berat karen mata sangat ingin menutup. Belum lagi efek kafein yang mengakibatkan tubuh panas setelah beberapa jam penggunaan. Saya nggak tau apa hal ini cuma berlaku pada tubuh saya. Hasilnya tidak sebanding dengan ekspektasi, mungkin saya terlalu cepat menyerah. Rasanya seperti saya memang berhasil memulai hari lebih awal tapi kehilangan efektifitas ditengah hari yang mana lebih awal juga. Jadi saya menghentikan praktek jam tidur entrepreneur ini.

Ketika bangun jam 3AM biasanya saya langsung menyeduh kopi, duduk didepan komputer dan berusaha menulis blog walaupun akhir akhirnya nggak selesai karena ngga kepikiran topik yang bagus. Akhirnya waktu yang saya alokasikan untuk menjadi produktif terbuang, terdapat penyesalan dan self disgust yang menyeruak. Ditambah dengan kurang tidur, kondisi mental saya jadi terasa terserang.

Untuk sekarang saya fokus untuk mengefisiensikan waktu bangun saya untuk hal hal yang saya rasa penting, saya tidur jam 0AM dan bangun agak siang sekitar 7.30 AM berarti saya punya waktu bangun sekitar 16,5 jam katakan saya gunakan untuk baca buku 3 jam sehari dan nulis 1 jam dan editing 1 jam saya masih punya 12,5 jam untuk melakukan hal lain seperti bercocok tanam dan kegiatan kuliah. Mungkinmelainkan rentang waktu yang lebih lama saya butuh rentang waktu yang lebih padat dan flexible untuk menjaring kreatifitas dan inspirasi.

Apa gaya hidup produktif khas entrepreneur kurang cocok bagi saya ? saya nggak mau bilang begitu untuk sekarang. Diagnosisnya adalah bahwa dengan waktu yang normal saya masih belum bisa menggunakannya dengan baik, mungkin nanti saat saya menjadi lebih sibuk saya bisa menggunakan waktu tambahan dengan memulai hari lebih pagi.

Cheers.

Rabu, 11 Agustus 2021

Menolak Mandek

Biasanya menyenangkan untuk menjajal ide baru. Saya sebutkan "biasanya" karena tidak terasa demikian belakangan ini. Kalau perlu dijelaskan, sepertinya ada perasaan takut yang membuat saya jadi kurang bisa merasakan excitement dari mengerjakan suatu proyek baru. Saya pikir rasa takut ini datang dari kecenderungan saya untuk tidak menyelesaikan proyek proyek terdahulu, jadi seperti pikiran "Ah, nanti juga mandek lagi...". 

Hal yang sama terjadi pada blog yang saya sedang kembangkan saat ini tekind.xyz. Tekind.xyz direncanakan untuk menjadi semacam majalah ringan mengenai topik topik Industri dan Manajemen, dan diproyeksikan menjadi go-to nya mahasiswa Teknik Industri untuk menghabiskan waktu luang. Saya masih yakin ini ide yang bagus namun kalau boleh jujur saya seperti kehabisan bensin saat ini.

Tujuan saya membuat blog ini tadinya nggak terlalu besar, saya cuma mau membuat buku catatan mengenai apa saja yang saya pahami di bidang Teknik Industri kemudian mucul keinginan untuk membuat buku catatan ini agar dapat dinikmati lebih banyak orang. Menyelam sambil minum air ?ada juga harapan agar nantinya blog ini bisa menjadi passive income dari kunjungan dan iklan.

Saya mulai menulis artikel dan mencari tone menulis yang cocok namun setelah dua artikel saya kehilangan arah. Rasanya seperti saya nggak punya apa apa untuk dibahas, opini saya dibentuk dari kutipan buku sehingga sangat sulit menyalurkannya dengan gaya yang saya inginkan. Artikel saya terasa kaku dan saya mau tau apa yang membuatnya sangat kaku. 

Sekarang apa yang saya rasakan adalah pikiran yang terlalu berisik untuk menjadi produktif, sangat banyak hal untuk dipertimbangkan dan segudang hal untuk diperbaiki. Ditambah lagi dengan pikiran yang merusak dari proyek saya sebelumnya yang tergeletak tidak berprogres. "It just going to end up like another...".

Saya masih berpikir ini merupakan ide yang bagus oleh karena itu saya ingin tau apa masalah yang sebenarnya saya hadapi, salah satu artikel forbes yang saya baca barusan menyarankan berbicara dengan orang lain untuk mengatur pikiran yang berisik "Monkey Mind" mereka sebutnya. Alternatif yang diberikan adalah dengan menulis. Yang kedua dirasa lebih cocok.

Maybe it is me that silly.....

Diagnosa pertama saya, ada kemungkinan besar bahwa memang sebenarnya saya nggak paham apa apa mengenai teknik industri. Hal ini mengakibatkan teori datang lebih dulu sebelum reasoning. Hal ini mengakibatkan artikel saya terasa palsu dan cenderung terlalu menghibur dan kurang kaya dalam kemampuannya untuk bisa relate dengan permasalahan sehari hari. Kalau menurut Simon Sinek, "Why"-nya belum ketemu. Artikel saya terasa seperti acara promosi ruangguru (dan saya sangat benci ruang guru) yang terlalu berusahan membungkus suatu topik agar tampak manis sampai kepoin dimana tampak tidak natural. 

Opini saya adalah ruangguru terlalu mencoba memetik daun jambu kemudian mencelupkannya ke sirup marjan agar orang yang diare mau memakannya. Nggak salah, cuma kurang sreg saja dimata saya. Kalau seorang yang diare perlu untuk mengunyah daun jambu tersebut saya ingin dia melakukannya karena kesadaran bahwa kalau dia tidak melakukannya ada kemungkinan dia akan tewas karena dehidrasi atau karena pengetahuan bahwa diare diakibatkan oleh bakteri dipencernaan dan daun jambu terbukti dapat meredakan gejala diare.

Apa blog saya dimaksudkan untuk menolong orang sakit ? Tidak. Tapi mari setuju bahwa pengetahuan sekecil apapun ada harganya dan saya merasa untuk menyediakan sedikit untuk diakses diinternet dalam bentuk artikel. Apa artikel tersebut rasanya pahit seperti daun jambu ? Bisa dibilang iya. Ada resource yang perlu dikorbankan untuk mengaksesnya, meskipun kuota kamu unlimited pun kamu bayar setiap bulan dan meskipun kuotamu gratis ada waktu dan energi yang kamu berikan untuk membaca artikel tersebut.

Saya perlu menggodok artikel saya agar tidak hanya dapat dinikmati namun secara jelas dan jujur membuatnya dapat menawarkan nilai tambah bagi yang menikmatinya.

Kurang Asik

Ada pemikiran ini dimana saya yakin kalau seseorang punya bakat melucu dia bisa lebih luwes menyampaikan opininya. Saya dulu terobsesi dengan bagaimana seorang Panji Pragiwaksono menyampaikan keresahannya mengenai berbagai topik. Dia selalu bisa tampil make sense dan agreeable saat menyampaikan opini didepan ratusan bahkan mungkin ribuan orang di acara standup comedy yang dia gelar.

Dia bisa bahas opininya mengenai hubungan percintaan hingga pendidikan didepan banyak orang dan semua seperti setuju hingga poin bisa bersama menertawakan topik yang diangkat. Ayo kasih nama lain seperti Ricky Gervais yang dengan percaya diri menertawakan kisah Noah di alkitab didepan society yang mayoritas kristian atau protestan (dan suara tertawa penonton juga riuh). Apa mereka orang paling kredibel untuk melakukan hal tersebut ? Saya rasa nggak. 

Tapi faktanya mereka di tonton, mendapatkan sambutan, sukses pada acara tersebut dengan mendapatkan response yang diinginkan (tertawa) dan mereka disana menyampaikan opini bukan pukul pukulan styrofoam. Kalau dipikir hebat juga, dan kamu tau apa lagi yang menakjubkan ? Mereka dibayar.

Pertanyaan saya menjadi apakah kemampuan mereka mengartikulasikan opini datang dari pemahaman atau opini yang begitu meyakinkan tersebut merupakan hasil dari kemampuan mereka berbicara ? Mana yang menjadi produk ? Lucunya atau opininya ? 

Diagnosa kedua adalah, saya berkemungkinan besar kurang menguasai bagaimana berkomunikasi dengan manusia sebagaimana umumnya. Tinggalkan dulu menjadi humoris. Saya bukan makhluk sosial yang paling fungsional, teman saya sedikit dan teman lama saya nggak terlalu dekat saya juga punya kesulitan untuk membuat teman baru. 

Bagaimana hal ini berhubungan dengan kemampuan saya menulis artikel terdapat dari bagaimana saya bisa relate dengan permasalahan pribadi dan bersama menertawakan ironi yang terjadi. Saya nggak bisa jadi lucu, sedangkan artikel yang mudah dinikmati adalah yang menghibur. Opsi yang tersedia adalah menjadikan humor sebagai produk dari pemahaman yang mendalam. Akan sulit, tapi menyenangkan mengetahui bahwa belajar lebih giat tidak hanya membuat saya lebih aneh tapi juga lebih lucu (kemungkinan)

Bukan Jurnalis

Semua hal ada ilmunya, saya baru paham ungkapan ini setelah saya menggeluti hobi kayu. Bahkan untuk memotong kayu agar lurus terdapat banyak hal yang perlu diperhatikan seperti jenis gergaji dan gerakan tangan. Selalu berikan spare ketika memotong bahan dan berikan pertimbangan pada tebal mata pisau atau gergaji. Saya sudah cukup lama terobsesi dengan seni pengolahan kayu, goal saya adalah memiliki walaupun sebagian ketekunan dan ketelitian seorang Ishitani dari Ishitani Furniture (kamu bisa akses di youtube).

Semua ada ilmunya termasuk menulis artikel, saya nggak pernah terlalu memperhatikan komposisi suatu paragraf dan bagaimana mengatur agar suatu ide dituliskan sampai saat ini. Bagaimana artikel forbes.com begitu ringan walaupun membicarakan hal yang serius. Bagaimana artikel bisa terasa penuh harapan atau terasa seperti curhatan namun memiliki bobot didalamnya ? Apa yang saya perlu pelajari untuk sampai ke level tersebut ? 

Ada hal yang perlu dipelajari dan saya sangat tertantang untuk melakukannya sehingga diagnosa ketiga adalah saya perlu memahami bagaimana menyalurkan ide kedalam bentuk tulisan, struktur kalimat ataupun stuktur paragraf. Mungkin saya perlu membaca lebih banyak buku ? Mungkin melainkan buku lebih banyak artikel ? Baca buku mengenai komunikasi ? Mengenai jurnalisme ? Tata Bahasa ?


Selasa, 27 Juli 2021

Stoicism : setelah 2 tahun menjalani

 Senang rasanya dapat berbagi sesuatu yang cukup berbobot. Setelah setumpuk tulisan tulisan tidak bermutu yang selalu saya post di blog ini, mendapatkan suatu topik seperti yang akan saya bahas terasa cukup menggugah semangat (dan juga kekhawatiran ?). Life is hard for stoic, paling tidak saya bicara atas nama diri sendiri. Setelah 2 tahun menerapkan ajaran untuk tidak terlalu membiarkan hal buruk untuk menjadi berpengaruh, rasanya malah hal baikpun jadi selalu bisa didekonstruksi menjadi lebih sedikit menyenangkan.

Apakah saya seorang stoic yang baik ? Nggak saya rasa, masih banyak momen dimana saya lepas dari consciousness. Pertanyaannya akan menjadi lebih tepat kalau begini, "Apa saya seorang stoic ?" seorang ikan nggak berenang kesana-kemari sambil memproklamirkan ke-"ikan-an"-nya. You know what ? saya selalu berdoa agar karya tulis saya dijauhi dari orang orang seperti Rocky Gerung. Pengamatan saya, orang akan menjadi lebih lucu dalam bertindak disekitar orang yang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang lebih tinggi. Entah tindakan yang hendak dilakukan atau yang sudah dilakukan atau yang biasa dilakukan kamu yang pilih, nggak ada limit yang bilang kamu nggak boleh ambil semuanya-boleh silahkan. 

Ke-stoic-an saya akan terasa selama orang disekitar belajar sampai lembur sebelum ujian presentasi, karena jujur saja saya nggak pernah. Beda kisahnya kalau saya dikelilingi biksu yang terbiasa menjadi tenang dengan latihan meditasinya. Selalu ada ikan yang lebih besar. Stoicism dalam kasus saya menghilangkan (saya curiga) sebagian dari kecenderungan sesorang melakukan sesuatu dengan menambahkan satu langkah dalam berpikir yaitu pertanyaan diakhir keinginan yang berbunyi "so what ?". Kamu mungkin merasa hal ini terlalu dilebih-lebihkan yang mana saya setuju sekali, tapi mungkin kamu mau baca tulisan ini lebih lama.

So what ?

Ada rasa takut untuk gagal di mata kuliah Ekonomi Teknik, kemudian ding!!! yang sangat kencang dinurani sebuah pertanyaan yang berbunyi "so what ?". So what ?!? Kalau saya gagal di semester ini saya nggak bisa melakukan pengulangan disemester depan karena mata kuliah semester genap cuma bisa diulang di semester genap, kalau saya nggak bisa ngulang berarti saya nggak bisa sidang tugas akhir, kalau saya nggak bisa sidang berarti saya nggak bisa lulus sedangkan saya sekarang dalam program fast-track, saya akan dikeluarkan dari program. Oke, hal itu buruk saya pikir tapi "so what ?" toh kesempatan untuk S2 kan cuma bonus, saya nggak pernah berjuang untuk hal tersebut, kalau saya dropout pun saya akan baik baik saja karena nggak pernah berkeinginan untuk berkarir dalam artian bekerja pada orang. So what ? Mungkin hidup saya akan sulit, tapi kenapa harus takut ? hidup selalu sulit entah kamu lulusan TK, SD, SMP ataupun S3 sekalipun. So what ? Mungkin akan ada denda yang harus kamu bayar nantinya karena keluar dari program, well...saya dikeluarkan bukan keluar jadi peraturan nggak berlaku. So why bother ? 

See what i mean ? dengan rentetan proses berpikir diatas akan sangat sulit untuk menemukan motivasi untuk melakukan sesuatu dan hal tersebut nggak menyenangkan pada beberapa momen. Salah satu cara menjadi stoic adalah mengerti semua kemungkinan buruk yang bisa terjadi akibat suatu kesalahan, keputusan atau kecelakaan. Ketika kamu mengenal stoic semuanya akan menjadi berbeda, nggak ada kata harus atau wajib semuanya menjadi opsional. Akan muncul lebih banyak pilihan dalam hidup kamu, lebih banyak dari yang biasanya. Stoic nggak membuat kamu jadi kebal, umpama yang saya bisa lakukan adalah dengan membayangkan seseorang menodongkan pisau kekamu, stoic nggak bikin kamu jadi punya kulit badak melainkan untuk memberikan ajaran untuk berpikir "kalau saya ketusuk organ apa yang akan rusak ? sebaiknya saya ketusuk dibagian mana ? sebaiknya saya ketusuk atau nggak" itu kayak memilih racun  mana yang kamu mau cobain and that's a gift also a curse.

Tanya saya berapa banyak saya belanja online setelah menerapkan stoicism ? karena setiap kali (dan kamu boleh nggak percaya deklarasi "keikanan" saya) saya punya keingin mempunyai sesuatu ada semacam makhluk tak berwujud yang berbisik dalam proses berpikir saya yang menanyakan "untuk apa ?". Oh! jersey chelsea musim ini bagus ya, cek tokopedia deh, ih deket nih gratis ongkir lagi, wah bintang lima tokonya...................."untuk apa ?". Membangun kebiasaan akan menjadi lebih sulit lagi, ada satu trik dimana untuk membangun kebiasaan salah satu teknik yang bisa dilakukan adalah dengan meberikan diri sendiri hadiah saat mecapai tingkat tertentu dan hal ini sulit untuk dilakukan dengan pertanyaan "untuk apa ?" disetiap kali kamu mau melakukan hal yang menyenangkan.

Argumenny akan menjadi, "Bagus dong kamu jadi lebih hemat dan barang yang kamu beli/punya jadi lebih produktif...", saya akan bilang iya dan nggak. Kalau kamu menghadiahi diri kamu sebuah pensil dengan alasan agar memudahkan kamu menggambar that's not a effing gift ! that's a purchase and theres only a dust of fun in it.

So you judge, apakah belajar dan mengamalkan stoicism worth it ? Karena sekali kamu nyebur, kamu nggak bisa kering lagi. 

Minggu, 18 Juli 2021

Clean the past

 Barusan saya mengirim pesan via whatsapp ke penanggung jawab kelas untuk menanyakan perbaikan nilai, rencananya sekalian untuk menanyakan perihal pembayaran uang kuliah semester lalu yang statusnya masih cicil di semester 4 yang lalu. Hari ini saya berupaya mengambil langkah untuk membereskan masa lalu yang sifatnya masih menggantung, berbulan bulan sudah menghindar saya rasa sekarang saatnya.

Mendewasakan diri katanya dilakukan dengan mengurangi sifat kekanak-kanakan, saya rasa ada betulnya. Menghindar dari masalah merupakan sifat kekanak-kanakan. Kenapa hari ini ? Mungkin dari buku Jordan Peterson "12 Rules For Life" yang tadi malam saya baca. Bagian bukunya yang bercerita aturan nomor 10 (atau 11?) bilang "Be Precise at Your Speech", bercerita bahwa kehidupan itu sederhana selama semuanya dalam kontrol. Bicara tentang kontrol tersebut bisa kapan saja hilang dan keadaan darurat muncul dimana kita mulai menanyakan segala hal.

Darurat atau Emergency dalam bahasa inggris berasal dari kata Emergence yang artinya kemunculan. Muncul dapat dipahami bahwa apapun yang muncul nanti, hal tersebut sudah ada disana sejak lama. Memahami bahwa sensasi kehidupan yang sederhana pada dasarnya terasa seperti berdiri diatas lapisan es di danau yang membeku, kita bisa bicara tentang tebal tipisnya nanti tapi yang jelas dibawah sana selama ada air mendekati titik beku berdiri diatasnya tidak selamanya akan aman.

Be Precise at Your Speech pada dasarnya merupakan saran atau aturan yang ditetapkan oleh Jordan Peterson untuk pembacanya agar terhindar dari kekacauan dalam hidup, saran yang satu ini bicara tentang komunikasi. Lakukan komunikasi mengenai keresahan yang kamu miliki dengan orang yang kamu rasa punya kapabilitas untuk memperbaiki atau memberikan solusi atas permasalahan tersebut, entah sekecil apapun keresahan tersebut kamu dapat memutuskan sendiri kapan harus menunggu kapan harus melepaskan. Tuhan tahu nilai dan status pembayaran uang kuliah saya sangat mampu untuk dapat digolongkan sebagai meresahkan.

Pertanyaan selanjutnya akan jadi, kenapa saya selama ini menunggu ? Jawabannya adalah, entahlah saya juga kurang paham. Saya rasa kecenderungan kepribadian saya untuk enggan merepotkan orang lain memiliki sumbangsih terhadap hal ini. Mungkin obsesi saya dengan karakter Thomas Shelby juga berpengaruh, filosofinya adalah menggunakan hal buruk sebagai senjata dimasa depan. Tadinya saya mau menggunakan faktor nilai saya supaya bisa bebas dari kewajiban melanjutkan studi S2, tapi saya memutuskan untuk memang mau lanjut ke S2 jadi senjata ini tidak ada fungsinya lagi. Oh my manipulative self...

Kamis, 08 Juli 2021

Untuk saya ditahun 2024 nanti

 rasanya lesu belakangan ini, mungkin karena bengkel juga sedang tidak ada kerjaan. Satu hal yang membuatku heran, malu dan sedikit takut. Ketika dipenuhi kewajiban, ada bagian kecil dalam kesadaran yang terus terusan berteriak meminta pembebasan. Bukan dikarenakan lelah atau bosan, setahu saya untuk alasan pengembangan diri. Waktu yang lengang menghadirkan kesempatan, untuk menjadi atau membuat atau merubah entah apa yang saya saat ini menjadi. Untuk jadi lebih baik atau sekedar berbeda dari yang kemarin atau saat ini, perubahan menghadirkan semangat, pengharapan baru untuk meraih-merasa dan menggapai hal yang saat ini masih angan angan.

Ketika kesempatan memunculkan dirinya, saya bersembunyi dibalik selimut tebal. Kipas menyala, mata tertuju pada layar segenggam teknologi yang juga sama sama penuh pengharapan dan kesempatan. Merasa buruk ? mari bertaruh. Perasaan jijik dan muak akan diri sangat menggerogoti, meskipun begitu saya tetap disini. Memandangi kehidupan bodoh manusia di seberang dunia, konten katanya-sambil berfikir bahwa orang orang bodoh ini lebih baik dari saya. Mereka punya kehidupan disana, punya sumber penghidupan, pasangan, rumah dan barang barang yang mereka sukai- sementara saya disini masih berangan angan dan bergelut dengan pikiran benci diri sendiri. Fakta ini membawa saya ke beberapa tempat, alam mimpi salah satunya.

Sore ini saya menulis ini untuk memecut sesuatu yang saya harap masih ada didalam sana. Semacam semangat yang berdebu, yang kobarannya semakin kecil tiap hari. Semacam proklamasi pada dunia, walaupun yang dengar juga tidak ada. Tiga tahun dari sekarang, saya akan cukup punya harta yang saya harap memungkinkan untuk membeli 10 mobil VW POLO 2021 dan saya harap disaat ini tercapai saya mampu merasa sedikit lebih baik dari saat ini. Itu proklamasinya dan sebuah harapan, tolong jaga orang orang dan juga hewan hewan  yang saya sayangi. Kesadaran bahwa perjalanan ini sulit bukan sesuatu yang perlu kamu khawatirkan, saya paham ini sulit dan jika perlu untuk meraih ini dengan menghilangkan beberapa bagian dari kenyamanan saya saat ini tidak masalah tapi tolong jaga keluarga saya. Saya mohon. Tuhan.

Rabu, 09 Juni 2021

TikTok Creator, please stop this...

 Dear Readers, ada bagian yang kopong dalam hati saya dalam beberapa hari ini. Terasa kosong dan sedikit panas jika harus digambarkan. Sensasi bergejolak untuk menumpahkan opini yang sudah lama tidak disalurkan. Opini yang pertama adalah mengenai TikTok, ingat waktu kita bully Bowo Alpenlieble ? Look at us now. Ada rasa marah yang kian nyata yang saya rasakan mengenai fenomena ini, rasa marah yang saya juga rasakan ketika seseorang memungut kotoran kucing lalu melemparkannya kearah saya. Pertama itu menjijikan dan selanjutnya adalah perasaan bersalah bahwa mungkin ada bagian dari diri saya dan perlakuan saya yang ikut berperan dalam membentuk kepribadian orang ini. Orang yang merasa melempar kotoran kucing merupakan sesuatu yang baik, atau paling tidak patut/ pantas.

"Apakah saya menyamakan bermain TikTok sama dengan bermain kotoran kucing ??" Sebelumnya biarkan saya cerita sedikit mengenai kondisi yang saya alami saat ini. Bisa saya akui bahwa saya orang yang kecanduan YouTube (mengakui bahwa anda tidak sehat, adalah langkah awal penyembuhan), saya nggak punya genre tertentu yang jadi preferensi. Tapi kalau bicara tentang video macam apa yang saya sering menghabiskan waktu menikmatinya, video yang sifatnya entertainment seperti memes, memasak dan potongan potongan scene film maupun anime selalu terasa menggoda. Oleh karena itulah nggak heran kenapa TikTok bisa menyusup ke rekomendasi Youtube akun milik saya.

Here's the thing, awalnya saya nggak merasa bahwa itu selera saya namun dengan berjalannya waktu setelah dua atau tiga video tiktok yang saya tonton rekomendasi youtube saya penuh dengan videonya Sisca Kohl, Kallmekris dan laki laki yang nggak saya tahu siapa namanya yang kontennya tentang memasak daging ("Apa ?? rendang ???") serta pengguna TikTok luar yang kontennya tidak jarang lebih buruk dari ketiga orang yang saya sebutkan diatas. Mungkin kamu merasa "Oh itu wajar, semua orang menggunakan TikTok...", no...it's not. Alasan saya menggunakan Youtube dan bukan TikTok adalah saya mau melihat konten yang diproduksi dengan baik dan penuh pertimbangan. Konten TikTok mungkin juga sama seperti demikian, tapi entah kenapa saya nggak mendapatkan sensasi bahwa konten tersebut demikian.

Life Hack TikTok ? Sampah. Review Produk TikTok ? Sampah. Tips dan Trik TikTok ? Sampah. TikTok terasa seperti komunitas berisik yang isinya orang orang lapar akan income. Konten, Konten, Konten. Saya yakin saya nggak punya hak untuk marah marah di comment video tersebut atau report atau buat thread di twitter (karena saya juga nggak tau gimana buat thread) mengenai seberapa dongkol saya pada fenomena ini. Saya juga sadar kalau memang saya nggak suka konten tiktok dan merasa terganggu akan kehadirannya di beranda youtube, saya selalu bisa pergi ke pengaturan lalu melakukan beberapa penyesuaian dan masalah terselesaikan (yang mana saya akan lakukan setelah selesai menulis blog ini). Tapi demi tuhan, terlalu berlebihan kah saya untuk meminta anda para creator untuk menjaga apa yang dimaksudkan untuk berada di TikTok tetap di TikTok ?? Please.

Saya terdengar seperti sultan sekarang. Tapi yasudahlah, toh blog ini juga nggak ada yang baca. 

Sabtu, 03 April 2021

Keep Going

 There will be, one day when you realize you are nobody. This very reality we live in, when your words would never reach, your idea is an idiosy. There will be that day, when how true your speech and how good your decision people will never look up to you. But Keep Going.

Sabtu, 06 Maret 2021

Jika kita tidak dilahirkan spesial...

 Jika kita tidak dilahirkan spesial, mungkin cerita hidup kita tidak akan tertulis bagaikan legenda pahlawan. Mungkin, kita tidak akan dikenang dan dikagumi setelah terkubur Mungkin nanti suatu hari kita akan melihat orang yang lebih hebat, lebih berpencapaian, lebih berani, lebih pintar, lebih kaya, lebih sukses. Mungkin kita akan tersisihkan dari cerita indah kita selama ini sebagai seorang karakter utama. Hari itu mungkin kita akan mengunci diri dikamar, menutup telinga dengan earphone yang sudah tidak sebagus waktu pertama dibuka dengan iringan musik dari spotify. Jika kita tidak ditakdirkan spesial, mungkin nanti kita akan dijebak untuk menjalani pekerjaan 9-5.

Pergi tamasya dihari sabtu, capek-sampai malam gapapa karena besoknya minggu. Atau untuk kawan kita yang perlu masuk kerja dihari sabtu, menikmati kelegaan dijalan pulang dimalam minggu-tidur seharian besoknya. Mungkin cicilan akan secara rutin membuat jantung terasa kepeleset, tapi nanti juga biasa dan kalau memang tak bisa lanjut yasudah ikhlaskan saja. Jika memang kita tidak spesial, mungkin rasa sungkan untuk bicara dengan senior yang belagu akan terus mengganggu sarapan pagi. Dengan waktu-pun kita nanti jadi senior, kita bisa belagu nanti. Mungkin instagram akan diisi dengan kunjungan yang dekat dekat aja, paling jauh waktu lebaran-lalu merasa iri dengan kehidupan influencer yang cuma rebah rebahan di kapal ferri. 

Jika kita tidak dilahirkan spesial, mungkin keseharian akan diisi dengan mengangguk. Kadang mungkin pundak juga ditepuk, senyum-senyum atasan yang claim hasil begadang kamu. Perlu setrika kemeja putih sebelum ketemu HRD, supaya first-impression bagus walaupun tau kriteria yang diminta misterius. Mungkin nanti saat berat beratnya kamu mulai mencari cinta, untuk punya tempat pulang-agar bisa nanti dibeberapa malam untuk tidur tenang. Lalu, setelah dicari tak ketemu, ditunggu tak datang-datang....kamu patah hati pada kehampaan. Semoga pelukan, yang kita rindu-yang kita nanti segera dihadirkan.

Suatu saat mungkin akan dirumahkan, dengan alasan yang dibuat agar tidak terasa canggung. Marah, sedih, takut dihirup dalam satu tarikan nafas-kemudian kamu pulang. 


Rabu, 03 Maret 2021

Produk.

 Mencicipi kedewasaan, mencelupkan kesadaran ke tanggung jawab manusia dewasa. Again, mental breakdance. Perlu dibiasakan, agar kebal dan dapat mengendalikan. Udah ngeluhnya cerita yang lain. Dari sudut pandang saya, orang yang paling menderita adalah orang yang punya mata bagus. Orang yang punya selera bagus dan standar yang tinggi. Bapak saya salah satunya. Belakangan saya dikasih kepercayaan, selesaikan salah satu pekerjaanlah biar nggak terlalu detail ceritanya.

Pekerjaan ini butuh hasil yang mempesona (bukan hanya bagus tapi mempesona). Alasannya ? Karena akan dijadikan project dari korporasi-nya si customer untuk diterapkan di semua cabang. I know my father, i know what he would do. But i dont expect it to be this extreme.

It's hard to be someone with a high standard, but it would be harder to be a kind person with a high standard. So that's it. Itulah ceritanya, jadi bapak saya mengambil kain lap-menggosok bagian yang kurang rapih-kurang bagus. Meng-komando-i satu bengkel untuk menempa satu produk ini untuk menjadi paling tidak acceptable dimatanya. Tapi ada satu hal yang luput darinya, pekerjaan lainnya yang harusnya kita kerjakan hari itu jadi terbengkalai dan hari ini hari deadlinenya. Salah satunya adalah pekerjaan yang saya pegang, yang saya jadwalkan seharusnya sudah selesai. Hari ini saya dimintai pertanggung jawaban, agak kesel tapi gimana ya...sudahlah.

Kalo suatu hari nanti saya begitu terobsesi untuk memukau seseorang dengan produk saya, tuhan tolong kirimkan seseorang untuk paling tidak menampar-mengingatkan saya.

Jumat, 19 Februari 2021

Cape gak sih ?

Nanti, mungkin ada yang baru. Besok, mungkin suatu yang tak terduga terjadi. Ayo dong aku, kamu di tunggu. Jangan malah nunggu.

Saat ini 19 Februari 2021, malem jam 9 dengerin lagunya Hindia. Barusan hujan, benerin pompa seharian nggak selesai. Flow sensor-nya rusak. Coba lebih cepet keputusannya, bisa selesai sekarang. Tapi gimana ya, hari ini emang terasa aneh dari pagi. Mungkin karena mendung seharian. Kalau suatu hari tulisan ini dibaca seseorang, beginilah rutinitas aneh saya. Menulis keluh kesah diinternet-walaupun nggak ada yang baca, terlalu malu untuk membagikannya ke orang yang dikenal.

Hari ini baru ngecek situs mahasiswa kampus, biasanya kita sebut studentsite. Ngeliat nilai, cetak kartu ujian karena besok ada satu. Ngeliat tagihan Biaya Kuliah semester depan, mental breakdance. Save blanko, masih disimpen sendiri nanti tunggu momen. "Masalah yang mengeruh, perasaan yang rapuh. Ini belum separuhnya-biasa saja". Ingin hasilin uang sendiri, jadi suatu saat nanti gak kuat lanjut kuliah, DO nggak kayak orang bego.

Pingin nangis, tapi udah tua. Pingin selesai, tapi masih optimis. Pingin ngeluh, tapi berkecukupan. Pingin tidur, malam ini pagi bangun lagi-tuhan tolong buat terasa lama. Bahkan tidur pun malu.

Minggu, 14 Februari 2021

Sidang

 Kamu nggak akan pernah tahu seberapa bego penelitian kamu sampai saat penelitian kamu disidang.

Dear Dosen Pembimbing, maafkan saya yang pecah dalam tekanan. Semua persiapan untuk momen itu serasa buyar saat tahu bahwa di konsep paling dasar saja saya sudah salah paham. Saya yakin beradanya saya diruang sidang dikarenakan anda merasa saya siap, tapi saya malah pecah. Mempermalukan anda dihadapan rekan sejawat.

Ugh. Tiga hari berlalu, saya masih merasa malu. Rasanya ingin meminjam mesin waktu dari teman kita Doraemon, menuju sebulan lalu kemudian menampar begonya diri saya waktu itu. Mungkin memang sudah seharusnya sebelum memikirkan bagaimana melakukan sesuatu dengan keren, ada baiknya memikirkan bagaimana caranya melakukan hal itu dengan benar.

Ingin lompat kesungai. Nilai A nggak pernah se-memalukan ini.